Libur panjang spt Golden Week, setiap daerah biasanya punya acara sendiri-sendiri tapi umumnya tidak jauh dari kegiatan ritual
budaya daerah setempat. Pertama ... menuju
festival layang-layang, mengikuti antrian panjang dan mengular menuju bis yang akan mengantar ke arena layang-layang, lumayan panjang ... hampir 1Km ... hufff ... harga karcis dewasa 250yen/ Rp.30.000,-, anak-anak gratis, perlu waktu 30 menit untuk sampai ke pintu bis, padahal jarak tempuh bis ke tempat festival hanya 30 menit ...
Di pintu masuk festival, stand kebersihan berwarna hijau terlihat dominan, setiap peserta dibagikan kantong plastik hijau lengkap dengan capit nya untuk memungut sampah, stand ini memang wajib ada di setiap keramaian acara. Disekitarnya, stand penjual makanan berjajar dekat panggung hiburan.
Hiburan musik dan tarian tradisional bergantian naik ke atas pentas, bukan hanya anak sekolah saja yang tampil, bahkan vocal grup manula maju dengan percaya diri dan penuh semangat. Penduduk usia tua memang dominan di Jepang, hampir di setiap penjuru tempat bisa dilihat kakek atau nenek yang aktif bekerja, walau badan sudah tidak lagi tegak ... tapi untuk semangat, tetap juara.
Takoage Gassen / adu layangan, peninggalan tahun 1887 diikuti oleh 160 grup, yang berasal dari keluarga yang merayakan kelahiran putra pertama mereka ataupun grup yang membawa nama daerahnya. Layang-layang tradisional Jepang disebut juga machijirushi, machi : kota, jirushi : tanda, karena setiap layang-layang dibubuhi tanda sebagai lambang daerahnya masing-masing, sementara nama bayi yang baru dilahirkan diletakkan di tiap sudut layang-layang yang berukuran 1,5m s.d 4m persegi. Materialnya sama dengan layang-layang di Indonesia, jalinan rangka bambu yang dilapisi kertas.
Setiap grup memakai seragam berbeda, membawa terompet dan drum untuk memberikan semangat, cukup sulit bertahan di udara yang terlihat sempit karena dipenuhi layang-layang berukuran raksasa. Benang layang-layang yang terbuat dari tali rami, ditarik dengan roda, bergerak hilir mudik mengikuti segerombolan anak-anak muda sebagai penarik layang-layang, yang dipandu oleh orang yang lebih ahli.
Ketika layang-layang sudah dalam posisi yang bagus, anak perempuan naik ke bahu ayahnya, kemudian ibunya naik ke bahu anggota tim layang-layang dan memegang benang layang-layang, terompet dan drum dibunyikan, dan semua tim berseru Oisho, Oisho.....sambil menarik benang layang-layang, ritual ini disimbolkan sebagai anak yang lahir kelak akan tinggi dan kuat bagai layang-layang. Pada akhirnya layang-layang yang bertahan di udara hingga acara di tutup yang tampil sebagai pemenang.
Keluar dari lapangan menuju bis yang akan membawa pulang, stand kebersihan menghadiahkan tas gratis bagi pengunjung yang mengembalikan kantong plastik yang sudah berisi sampah .... ide yang kreatif, jadi semangat untuk mengumpulkan sampah di lain acara.....
Antrian nan panjang ... menuju bis, tampak di latar belakang, museum layang-layang...
Dalam perjalanan menuju bis yang akan membawa kembali ke stasiun, singgah dulu ke museum layang-layang. Beragam bentuk dan jenis layangan dipajang disini, diperlihatkan juga cara tradisional membuat layang-layang dan benang rami.
Ternyata antrian pulang lebih panjang lagi dari antrian keberangkatan, kaki sudah lumayan pegel ... padahal acara masih belum usai, karena sekarang menuju pusat kota/ machi .....
Sampai kembali di stasiun Hamamatsu ...langsung menuju pusat kota, karena pawai diadakan di sana...
Sekarang jam 3 sore, acara baru dimulai jam 4 ... calon penonton sudah berjajar di sepanjang trotoar, menggelar tikar plastik, mengeluarkan perbekalan ... kalau dilihat sepintas jadi mirip pengemis ... hahaha, tapi kalau dilihat dari dandanannya yang sudah full make up ... pasti bukan ya ...
Menjelang jam 4, polisi bolak balik membersihkan jalan utama yang akan dilewati pawai, sementara jalan trotoar sudah penuh dengan pengunjung yang lesehan. Acara dibuka dengan kompetisi kelompok orang dari masing-masing lingkungan/ yatai neri yang berbaris sambil meniup terompet, periwit, bernyanyi dan membawa lampion. Barisan ini kemudian pamer atraksi di depan podium yang berisi para ketua lingkungan yang disegani, biasanya galon-galon sake yang berukuran besar dipajang disini, dan setiap kelompok yang lewat boleh minum sake sekuatnya.
Ada cerita menarik dibalik yatai neri ini....
Setelah 1 putaran lewat jalan utama, yatai neri, beristirahat bersama kelompok nya masing-masing, suguhan bir, chu-hi ( minuman beralkohol dengan rasa buah ), dan shouchu ( sake / minuman beralkohol, hasil suling dari beras ) disediakan oleh donatur lingkungan. Setiap orang bebas minum sepuas-puasnya. Setelah cukup istirahat, mulai lagi berbaris untuk bernyanyi di jalan utama .... kemudian istirahat lagi ... begitu seterusnya sampai menjelang tengah malam.
Tidak heran, biasanya akan timbul keributan antar kelompok karena saling bersinggungan. Dahulu...jika timbul ketegangan ... orang-orang yang berseteru akan membuka baju nya, dan berkelahi di tengah jalan, tapi sekarang dengan semakin banyaknya aturan dan polisi ... keributan bisa lebih diredam. Padahal tujuan dari acara ini justru untuk merayakan semangat kebersamaan lingkungan.
Menjelas malam, parade Goten Yatai / istana yang mengapung .... dimulai, mobil hias yang ditarik beriringan oleh sekolompok orang, dekorasi hiasan nya mengingatkan saya pada kerajinan Jepara. Didalamnya anak-anak berpakaian daerah bernyanyi sambil memainkan alat musik tradisional.
Akhirnya selesai sudah acara hari ini, dari pagi sampai malam ... padahal acara berlangsung 3 hari berturut-turut, dengan peserta yang sama, tidak heran kalau akhirnya peserta festival perlu minuman keras untuk menambah tenaga.