Mengapa orang merokok ?
1.Faktor genetik ( Keturunan).
2. Faktor kepribadian (personality) =Memandang diri kurang
sukses
3. Faktor Sosial: Yang paling berpengaruh adalah jumlah temanteman yang merokok.
4. Faktor kejiwaan (psikodinamik). Kehilangan kenikmatan oral yang dini atau adanya suatu rasa rendah diri. Mereka yang mudah berhenti merokok ternyata disapih pada usia sekitar 7-8 bulan, sedangkan yang sukar berhenti, dahulu disapih pada usia sekitar 4,7 bulan.
5 Faktor sensorimotorik. = Menikmati sensasi merokok.
6. Faktor farmakologis. Nikotinlah yang menjadi biang keladi utamanya
Bagaimana Potret Kita,……
Dalam sepuluh tahun terakhir, konsumsi rokok di Indonesia mengalami peningkatan sebesar 44,1% dan jumlah perokok mencapai 70% penduduk Indonesia. Yang lebih menyedihkan lagi, 60% di antara rokok
adalah kelompok berpenghasilan rendah (Susenas 1995 dan 2001).
Parahnya lagi, hampir seluruh perokok atau 91,8%, mereka juga merokok di rumah ketika seluruh anggota keluarganya berada di rumah..
Konsumsi rokok Indonesia setiap tahun mencapai 199 miliar batang rokok atau urutan kelima setelah RRC (1.679 miliar batang), AS (480 miliar), Jepang (230 miliar), dan Rusia (230 miliar).
Apa dampak merokok dalam hal sosial dan ekonomi bagi Perempuan dan anak?
43 Juta Anak Hidup dengan Perokok :
tiga dari 10 pelajar yang telah merokok ternyata pertama kali mencoba rokok di bawah usia 10 tahun . "Konsumsi tembakau atau rokok tercatat membunuh 1 orang setiap detik, dan rokok membunuh separuh dari masa hidup perokok, dan separuh perokok mati pada usia 35-69 tahun, " jelas (Menkes).
Hampir 90% wanita muda Indonesia Perokok. Riset terbaru mengungkapkan 88,78% dari 3.040 pelajar SMP putri
hingga mahasiswi (13-25 tahun) Indonesia merokok. (Riset tersebut dilakukan KuIS, The Tobacco Control Research Program of Southeast Asia Tobacco Alliance (SEATCA) dan Rockefeller Foundation)
Dampak Ekonomi dan Sosial Merokok………
Sementara itu, menurut analisis Soewarta Kosen (ahli ekonomi kesehatan Litbang Departemen kesehatan), total tahun produktif yang hilang karena penyakit yang terkait dengan tembakau di Indonesia pada 2005 adalah 5.411.904 disability adjusted life year (DALYs). Jika dihitung dengan pendapatan per kapita per tahun pada 2005 sebesar US$ 900, total biaya yang hilang US$ 4.870.713.600.
Dari segi ekonomi, rokok memang memberikan kontribusi yang signifikan bagi pemasukan negara. Tiap tahunnya, pemerintah mendapat masukan dari pos penerimaan cukai rokok dan minuman keras tak kurang dari sebesar Rp 27 triliun. Angka ini menyumbang 98% penerimaan cukai negara sehingga urusan kesehatan serta menyelamatkan anak negeri sering tergilas oleh setoran puluhan triliun rupiah tersebut.
"91 persen mendukung usulan agar Indonesia meratifikasi Kerangka Konvensi Pengendalian Tembakau. Dukungan yang tinggi diberikan juga terhadap pelarangan iklan rokok (88%), peningkatan cukai rokok (88%), serta pelarangan merokok di tempat kerja (86%) dan 77% mengatakan bahwa konsumsi rokok di Indonesia sudah sampai pada tingkat mengkhawatirkan. Walaupun Potret kita jelek, dampak yang ditimbulkan sangat mengkawatirkan namun Indonesia belum memiliki perangkat undang-undang dan belum meratifikasi konvensi internasional tentang pengendalian tembakau.