Demonstrasi : Antara Simpati dan Antipati Gerakan mahasiswa
merupakan suatu upaya atau tindakan yang dilakukan secara terencana dengan tujuan melakukan perubahan atau pembaharuan yang meliputi semua aspek kehidupan sosial, politik, ekonomi , budaya dan lain sebagainya untuk mencapai tujuan perjuangan. Salah satu metode atau cara dalam mencapai tujuan perjuangan adalah melalui demonstrasi. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia ( KBBI 1997 ), demontrasi diartikan sebagai bentuk pernyataan protes yang dilakukan secara massal. Protes terhadap sebuah kondisi yang dianggap melanggar hak-hak rakyat kemudian menggugah hati nurani mahasiswa sebagai kaum-kaum yang dianggap memiliki kelebihan di atas rata-rata masyarakat awam untuk mengambil peran sebagai penyambung lidah rakyat. Dari sini kita bisa melihat bahwa aksi-aksi yang dilakukan oleh mahasiswa secara idealnya adalah semata-mata memperjuangkan kepentingan rakyat.
Namun, hari ini citra mahasiswa mendapat tantangan yang dapat menjadi boomerang bagi keberlangsungan aktivitas gerakan politik moral. Tidak hanya masih terfragmentasi karena perbedaan ideologi, bahkan sekarang masyarakat umum yang notabene adalah orang-orang yang diperjuangkan dalam setiap orasi, malah berbalik memberikan pelabelan negatif ( stigmaisasi ) terhadap aksi-aksi mahasiwa.
Salah satu sebab merosotnya citra gerakan mahasiswa dikarenakan aksi-aksi demonstrasi yang dilakukan seringkali anarkis dan menggangu kepentingan umum, seperti memblokir jalan, merusak fasilitas umum sampai bentrokan yang sampai merenggut nyawa. Disini gerakan mahasiswa harus melakukan evaluasi bahwa mayoritas masyarakat tidak lagi merasa memberi mandat pada mahasiswa, dengan kata lain masyarakat menjadi antipati terhadap demonstrasi.
Bagaimana gerakan mahasiswa menyikapi hal ini ? Pertama, demonstrasi damai. Jika aksi demontrasi yang dilakukan sesuai dengan koridor dan tidak mengganggu kepentingan umum, perlahan-lahan simpati masyarakat perlahan-lahan akan muncul. Kita juga tidak etis hanya menyalahkan sikap anarkis mahasiswa karena bukan tidak mungkin sikap perlawanan yang dilakukan, muncul karena sikap aparat yang terlalu represif atau masuknya sejumlah provokator yang bertujuan memecah konsentrasi dari dalam. Kedua, membangun hubungan dengan elit. Hubungan disini bukan dalam artian politik kekuasaan, namun sebagai mitra yang memiliki tujuan yang sama. Aksi-aksi demonstrasi hanya akan menjadi teriakan angin lalu jika tidak didukung oleh elit politik. Aksi demonstrasi hanyalah menyuarakan aspirasi arus bawah, tetap saja yang mempengaruhi dan menentukan pengambilan keputusan adalah elit-elit politik.
Ketiga, sudah saatnya mahasiswa bisa menawarkan sebuah alternatif yang solutif daripada hanya berteriak dan sekedar menghujat. Dalam hal ini data, fakta dan informasi diolah melalui kajian-kajian sehingga menjadi landasan untuk bergerak. Keempat, tidak menjadikan demonstrasi sebagai satu-satunya alternatif untuk mempengaruhi kebijakan dan merebut simpati masyarakat.
Ada beberapa metode lain yang dapat dijadikan alternatif , seperti gerakan kultural, yaitu melakukan kerja-kerja advokasi langsung ke grass root. Kemudian gerakan akademis dengan banyak melakukan kegiatan-kegiatan kajian, penelitian dan acara-acara yang dapat menarik perhatian publik. Dan yang terakhir gerakan struktural dengan menjalin komunikasi dengan aparat-aparat pemerintahan dalam rangka bekerja sama menyelesaikan persoalan baik di tingkat lokal maupun nasional.
Sudah saatnya gerakan mahasiswa mereformasi diri dan melakukan otokritik terhadap cara-cara memperjuangkan aspirasi. Aksi-aksi anarkis yang dilakukan oleh segelintir pelaku demonstrasi juga jangan dijadikan generalisasi bahwa semua elemen mahasiswa adalah anarkis. Gerakan yang mendapat dukungan dari rakyat tentunya akan memiliki bargain position yang lebih tinggi dihadapan tembok tebal kekuasaan. Wiji Thukul, seorang sastrawan yang hilang di zaman orde baru mengatakan “ jika kami bunga, engkau adalah tembok itu. Telah kami sebar biji-biji. Suatu saat kami akan tumbuh bersama dengan keyakinan bahwa engkau harus hancur ”. Mahasiswa tidak akan pernah bisa duduk nyaman ketika duduk berdampingan dengan ketidakadilan dan akan senantiasa terus bergerak sebagai penyambung lidah rakyat.
Adi Surya
Mahasiswa Ilmu Kesejahteraan Sosial
Fisip Unpad 2004