Apakah itu karya Epigon?
Epigon secara etimologi berasal dari bahasa Latin, yaitu epigonos atau epigignestai yang artinya
terlahir kemudian. Dan menurut kamus Besar Bahasa Indonesia, epigon berarti orang yang tidak memiliki gagasan baru dan hanya mengikuti jejak pemikir atau seniman yang mendahuluinya.
Dalam dunia berkarya, baik penulisan, karya ilmiah, karya sastra,
sinematografi, dan sebagainya, orang yang meniru-niru gaya dari karya original orang lain lazim disebut epigon. Kita sering mendapati dalam acara ditelevisi, dimana jika ada suatu acara baik itu sinetron, kuis, reality show dan sebagainya yang sukses pada satu stasiun televisi, maka stasiun televisi lainnya berlomba-lomba untuk membuat acara serupa.
Hal yang sama juga terjadi pada karya tulis. Tak jarang jika kita sedang berada di toko buku, kita mendapati banyak sekali buku-buku yang serupa atau mirip dalam tampilannya, dalam tema tulisannya atau lainnya dengan buku-buku yang sudah menjadi fenomena dan best seller. Contoh setelah buku tetraogi Laskar Pelangi karya Andrea Hirata, atau novel populer karya Habiburrahman El Shirazy antara lain yang berjudul Ayat-Ayat Cinta dan Ketika Cinta Bertasbih, maka bermunculan buku-buku atau novel serupa baik dalam tema, isi cerita, atau bahkan hanya sekedar tampilan cover-nya saja.
Dalam duni per-film-an juga terjadi proses epigon. Tercatat pada tahun 1974 mulai dilakukan epigon film di Indonesia yaitu saat muncul film "Rama Superman Indonesia" karya sutradara Frans Totok Ars setelah muncul dan terkenalnya film "Superman" karya Jerry Siegel dan Shuster. Hingga saat ini, di dunia per-film-an Indonesia, praktek epigon kerap dilakukan pelakunya, tebukti dengan suksesnya film "Jelangkung" karya sutradara Jose Purnomo dan Rizal Mantovani, kemudian bermunculan bak jamur dimusim hujan film-film horror yang bertemakan dunia mistik dan klenik. Kemudian setelah suksesnya film "Ayat-Ayat Cinta" yang diangkat dari novel populer dan menduduki peringkat Top Best Seller karya Habiburrahman El Shirazy, yang bercerita tentang drama percintaan yang berbasis lingkungan reliji ke-Islam-an, maka berikutnya bisa ditebak, bermunculan film-film yang bertema serupa.
Sesuai kodrat manusia yang sejak kecil bahkan masih bayi memang sudah diajarkan aktivitas untuk meniru, hingga besar pun cenderung untuk meniru dari orang-orang yang dianggap hebat atau berhasil dalam bidangnya. Sebenarnya pun menjadi atau melakukan epigon itu dapat dianggap sah-sah saja jika orang yang melakukan epigon itu tidak sekedar meniru tetapi melakukannya sebagai alat untuk menemukan jati diri atau ciri khas-nya, serta selanjutnya membuat kreativitas dalam karyanya, dan ini disebut
epigon kreatif. Namun jika epigon dilakukan dengan cara menjiplak karya orang lain atau yang lazin disebut plagiat, maka inilah epigon yang tidak diharapkan, bahkan yang seperti ini dianggap sebagai pencuri karya orang lain dan termasuk katagori melanggar hak cipta.