"CEUK saha mun anu miskin teh teu boga duit? Geuning loba warga nu beunghar oge tapi hirup teu sejahtera. Urang teh kudu
bangkit ulah hayang wae dibere ku pamarentah!"
Suara itu terdengar nyaring dari halaman salah satu rumah dalam gang sempit di Desa/Kec. Ngamprah Kab. Bandung Barat, akhir pekan lalu.
Juniangsih (31), seorang pemudi desa biasa, berupaya menyamakan persepsi tentang kemiskinan kepada ibu-ibu yang berada di sekitar kampungnya. Ia meyakini, dengan mengubah paradigma masyarakat tentang arti miskin, kemiskinan di kampungnya akan semakin cepat teratasi.
Baru empat bulan ini, Niang--begitu ia kerap disapa--seakan bangkit dari ketidakpeduliannya selama ini. Kini, ia dikenal sebagai pemudi yang aktif menyuarakan pengentasan kemiskinan di kampungnya.
Ia pun bergabung menjadi relawan Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM) Mandiri, dengan harapan dapat merealisasikan kemandirian bagi seluruh warga di kampungnya.
"Saya mah yakin, yang menjadikan masyarakat miskin itu tak hanya faktor ekonomi. Tapi, juga faktor sosial dan lingkungan. Saya hanya ingin mengajak masyarakat menyadari hal-hal kecil itu agar terhindar dari jeratan kemiskinan," kata Niang.
Ia pun kemudian menyentuh persoalan lingkungan yang lekat dengan perilaku masyarakat, sebagai titik awal perubahan.
"Masalah sampah di kampung ini cukup merepotkan. Setiap hari petugas sampah mengeluh karena menghabiskan dua liter minyak tanah untuk membakar sampah dari warga. Padahal, minyak tanah kini mahal dan sulit. Saya ajak masyarakat untuk mengelola sampah sendiri agar biaya itu dapat ditekan," kata dia.
Niang juga menanamkan pemahaman tentang kebersihan lingkungan hingga terbebas dari penyakit dan memperbaiki kualitas hidup warga. Ia yakin, kemiskinan dapat dienyahkan dari kampungnya jika masyarakat sehat secara fisik dan dapat bekerja keras untuk mencukupi kebutuhannya.
Niang adalah ibu dari dua anak kembar yang dilahirkannya tujuh tahun silam. Suaminya buruh serabutan yang kini menjadi buruh tenun rajut. Kemiskinan telah lekat dengan hidupnya sejak lama. Kemiskinan pulalah yang memisahkan ia dengan salah satu anak kembarnya yang terpaksa dititipkan kepada saudaranya karena tak sanggup membiayai. Sejak kecil, ia juga tergolong apatis dengan semua program yang dijalankan oleh komunitas apa pun di kampungnya, termasuk pemerintah.
Namun, sebuah revolusi terjadi pada dirinya sejak empat bulan silam. Beberapa relawan PNPM Mandiri di kampungnya rupanya telah menyadarkan diri Niang untuk bergerak membantu warga agar mandiri. Melalui proses yang singkat, ia pun berubah.
"Masyarakat telah terbiasa disuapin oleh pemerintah. Masyarakat juga selalu menganggap dirinya miskin dan selalu ingin diberi. Padahal, banyak sekali potensi yang bisa dikembangkan dan masyarakat tak semiskin yang diperkirakan sebelumnya," kata Niang yang sehari-hari berjualan lotek itu.
Bentuk penyadaran warga yang dilakukan Niang tergolong unik. Pertama-tama, ia memberikan pemahaman warga yang membeli loteknya saat ia mengulek lotek dalam cobek besarnya.
Ia pun kemudian mengatur jadwal untuk pertemuan FGD (focus group discussion) bersama warga. Pertemuan itu akan menghasilkan kerangka potensi warga yang akan disusun menjadi program kerja. Program kerja inilah yang ia perjuangkan agar dapat didanai oleh pemerintah melalui PNPM Mandiri.
Hadi Susandi (30), fasilitator senior PNPM Mandiri di Ngamprah mengakui perjuangan Niang membangkitkan warganya patut diacungi jempol. Meski bersifat relawan yang notabene tak dibayar, Niang mampu menjadi jembatan bagi masyarakat dalam mengembangkan potensinya untuk membangun kampungnya.
Pemudi seperti Niang mungkin lebih memaknai arti Sumpah Pemuda daripada kebanyakan orang seperti kita yang hanya tahu memperingatinya.