budaya instant adalah suatu istilah yang digunakan oleh manusia untuk menjuluki keadaan dunia jaman sekarang. mengapa instant
disebut budaya? edward burnett tylor pada abad ke-19 menyatakan bahwa budaya atau kebudayaan merupakan suatu keseluruhan yang kompleks yang mencakup pengetahuan, keyakinan, kesenian, moral, hokum, adapt-istiadat, dan segala kemampuan dan kebiasaan yang diperoleh manusia sebagai anggota masyarakat. setelah melihat definisi ini kita dapat menyimpulkan bahwa instant dikatakan sebuah budaya karena hal itu sudah menjadi sebuah kebiasaan dalam masyarakat. kebiasaan manusia yang ingin segala sesuatu diperoleh secara instant ini merupakan dampak dai tuntutan jaman yang semakin kompleks. karena tuntutan ini akhirnya orang-orang berusaha menciptakan alat-alat atau eknologi-teknologi yang dapat membantu manusia dalam memperoleh sesuatu secara cepat.
ada banyak perubahan pesat yang terjadi sekarang membuat dalam diri manusia timbul ketidakseimbangan antara akalbudi modern yang bersifat praktis dan cara berpikir teoritis. muncul pula ketidakseimbangan antara pemusatan perhatian pada kedayagunaan praktis dan tuntutan moral suara hati, antara syarat-syarat kehidupan bersama dan tuntutan pemikiran pribadi. ketidakseimbangan yang terjadi tersebut dapat kita lihat secara nyata di kehidupan kita. budaya instant termasuk dalam ketidakseimbangan tersebut. orang lebih mementingkan hasil dari pada proses. kita tidak bisa menyangkal bahwa kita terjebak dalam arus budaya instant. banyaknya produk yang bersifat instant yang bisa kita temui di mana saja entah itu berupa makanan, pakaian, alat komunikasi, dan teknologi yang semakin canggih dan menawarkan kenyamanan bagi para pemakainya merupakan salah satu factor utama dari munculnya budaya instant. tanpa kita sadari hal ini sangat mempengaruhi mentalitas kita yang selalu ingin segala sesuatunya diperoleh secara instant dan bahkan menggunakan cara-cara yang menyimpang. Inilah yang dinamakan dengan mentalitas instantisme. lalu apa yang harus kita lakukan supaya kita tidak terjerumus dalam mentalitas seperti ini?