Cari
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Create a Shvoong account from scratch

Already a Member? Masuk!
×

Masuk

Sign in using your Facebook account

OR

Not a Member? Daftarkan diri!
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Masuk

Sign in using your Facebook account

Kumpul kebo

oleh: KangAfey     Pengarang : Nasaruddin Umar
ª
 

Kumpul Kebo

Entah kapan istilah kumpul kebo dipakai untuk menggambarkan perilaku sepasang insan lain jenis tanpa ikatan pernikahan hidup dalam satu atap, yang pasti kumpul kebo selalu berkonotasi negatif baik ditinjau dari segi agama maupun adat istiadat yang berlaku di sejumlah daerah di tanah air.

Dalam hukum Islam, kumpul kebo atau berzina merupakan dosa besar, pelakunya bisa dihukum rajam bahkan sampai mati, sedangkan hukum adat mengecam keras pelaku kumpul kebo. Dalam budaya Bugis Makassar pelaku kumpul kebo dianggap penyebab turunnya bala, seperti musim paceklik, banjir bandang, puting beliung dan lain sebagainya. Sehingga pelaku kumpul kebo akan di usir bahkan kalau perlu rumah mereka di bakar untuk membersihkan aib di masyarakat, bahkan darah keduanyapun halal.

Prilaku kumpul kebo menyalahi tata nilai agama maupun budaya bangsa Indonesia. Maka wacana dihadirkannya pasal kumpul kebo atau perzinahan dalam draf KUHP sesungguhnya mengakomodasi nilai-nilai agama dan budaya bangsa, karena hampir semua suku yang ada di kepulauan Nusantara mencela perilaku kumpul kebo.

Dalam Islam praktek perzinahan jelas sekali diharamkan, jangankan melakukannya mendekatinya saja tidak boleh, seperti yang termaktub dalam Al- Qur’an surat Al-Isra ayat 32, “ Dan janganlah kamu mendekati zina, sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk.”

Hadist Nabipun menjelaskan bahwa tidak ada orang yang berdua-duaan dengan lawan jenisnya yang bukan muhrim melainkan yang ketiganya adalah syetan. Keharaman mendekati zina adalah besifat preventif, sebelum betul-betul terjadi perzinahan. Tidak satupun agama yang mentolelir perzinahan, bahkan agama-agama besar di duniapun mengutuk perbuatan zina.

Syetan memainkan peranan besar dalam terjadinya perzinahan, tidak sedikit perzinahan dilakukan oleh pasangan yang baru saja kenal, ataupun yang sering ketemu dilokasi yang sama sehingga menimbulkan bibit-bibit asmara yang bermuara pada perzinahan, apalagi kalau hubungan tersebut sudah terjalin lama maka agak sulit menghindari untuk tidak melakukan perbuatan tercela, apalagi berada disuatu tempat yang disitu ada keamanan dan keleluasaan.

Apabila bangsa ini ingin menjadi bangsa yang beradab dan religius, maka perlu adanya pengaturan mengenai prilaku kumpul kebo yang diharamkan Allah yang apabila dilanggar akan menimbulkan dampak yang sangat buruk di masyarakat.

Sementara ada keinginan segelintir orang yang ingin berusaha menggagalkan pasal tersebut sebaiknya perlu diajak berdialog, sebelum kita menyesal, segala sesuatu yang bisa menolak adzab Allah perlu kita perjuangkan, salah satunya adalah melindungi masyarakat dari perilaku kumpul kebo dan mengaturnya di dalam suatu undang-undang.

Diterbitkan di: 28 Mei, 2013   
Mohon dinilai : 1 2 3 4 5
Terjemahkan Kirim Link Cetak
X

.