Cari
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Create a Shvoong account from scratch

Already a Member? Masuk!
×

Masuk

Sign in using your Facebook account

OR

Not a Member? Daftarkan diri!
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Masuk

Sign in using your Facebook account

Halaman Utama Shvoong>Ilmu Sosial>Psikologi>Kendala dalam Mengembangkan Kreativitas Anak

Kendala dalam Mengembangkan Kreativitas Anak

oleh: aietama    
ª
 
Sumber kendala itu dapat bersifat internal, yaitu berasal dari diri individu sendiri, dan dapat bersifat eksternal yang terletak pada lingkungan, apakah itu lingkungan makro (masyarakat & kebudayaan) maupun lingkungan mikro (keluarga, sekolah, dan teman sebaya).

Sumber Kendala

Kendala dapat dirumuskan sebagai faktor atau keadaan yang membatasi, menghalangi, atau mencegah pencapaian sasaran (Kamus Besar Bahasa Indonesia, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1988), dalam hal ini menghambat perilaku kreatif. Shallcross (1985) menggolongkan kendala dalam menggunakan potensi kreatif kedalam kendala historis, biologis fisiologis, dan sosiologis.

1. Kendala historis
Ditinjau secara historis ada kurun waktu tertentu yang merupakan puncak kejayaan kreativitas. Sebaliknya pula terdapat kurun waktu yang tidak menunjang bahkan menghambat pengembangan kreativitas perorangan maupun kelompok.

2. Kendala biologis
Dari sudut biologis, beberapa pakar menekankan bahwa kreativitas merupakan ciri herediter (bawaan), sementara pakar lain percaya bahwa lingkungan menjadi faktor penentu utama. Gen memang sering berperan dalam menentukan batasan-batasan intelegensi, tetapi sering dalam hal intelegensi kreatif, hereditas lebih banyak digunakan sebagai alasan daripada kenyataan.

3. Kendala fisiologis
Kendala fisiologis berarti seseeorang yang memiliki keterbatasan fisik atau biasa disebut dengan cacat, baik yang terjadi karena kerusakan otak, penyakit atau kecelakaan. Tetapi bagi sebagian penyandang cacat, walaupun mereka memiliki keterbatasan (handicap) namun mereka masih dapat berkreasi dan dapat menghasilkan karya.

4. Kendala sosiologis
Lingkungan sosial mempunyai peran besar dalam menghambat kreativitas seseorang. Dalam setiap kebudayaan atau masyarakat pasti memiliki norma, aturan, nilai, tradisi, kegiatan, minat dan perilaku kolektif.sering anggota masyarakat menganggap perilaku yang menyimpang dari kebiasaan dan norma dianggap sebagai tindakan amoral dan dianggap memiliki kelainan. Perilaku unik dan saran-saran perubahan dapat dianggap subversif dan mengancam stabilitas dan keamanan yang diperoleh dari afiliasi kelompok (Shallcross, 1985). Sering seseorang memendam minat dan potensi kreatifnya agar dapat diterima di lingkungannya.

5. Kendala psikologis

Dari semua kendala terhadap produktivitas kreativitas tersebut diatas, kendala psikologis merupakan kendala yang paling utama dan penting untuk diperhatikan. Kendala yang ditemukan sampai sekarang, sebagian besar termasuk faktor eksternal. Banyak diantaranya digunakan sebagai alasan untuk tidak kreatif. Kenyataannya, beberapa orang meyakinkan dirinya bahwa faktor eksternal menyebabkan mereka tidak mempunyai kesempatan untuk mengembangkan kreativitasnya; keyakinan ini pun sudah merupakan kendala psikologis.

6. Kendala diri sendiri
Faktor-faktor internal (diri sendiri) yang menghambat perilaku kreatif, seperti pengaruh dari kebiasaan atau pembiasaan, perkiraan harapan orang lain, kurangnya usaha atau kemalasan mental, menentukan sendiri batas-batas yang dalam kenyataan tidak adayang menghambat kinerja kreatif kita, dan kekakuan atau ketidaklenturan dalam berpikir. Menurut Murphy (1980), jika anda mempunyai keinginan yang kuat untuk membebaskan dari kebebasan yang menghambat ungkapan kreatif, anda telah sembuh 51%.

Kendala dalam Mengembangkan Kreativitas Anak

Dalam upaya membantu anak merealisasikan potensinya, sering kita menggunakan tekanan yang terlalu keras agar mereka belajar. Penggunaan paksaan atau kekerasan tidak saja beraarti bahwa kita mengancam dengan hukuman atau mematuhi aturan-aturan, tetapi pemberian hadiah atau pujian yang berlebihan juga dapat membuat anak merasa terbebani dan tertekan. Amabila (1989) mengemukakan empat cara yang dapat mematikan kreativitas anak, yaitu:

1. Evaluasi
Rogers (dalam Vernon, 1982) menekankan salah satu syarat untuk memupuk kreativitas konstruksif ialah para pendidik tidak memberikan evaluasi, atau paling tidak menunda pemberian evaluasi sewaktu anak sedang berkreasi.

2. Hadiah
Kebanyakan orang percaya bahwa pemberian hadiah akan memperbaiki atau meningkatkan perilaku tersebut. Ternyata pemberian hadiah justru dapat merusak motivasi interinsik dan mematikan kreativitas.

3. Persaingan (Kompetisi)
Kompetisi lebih kompleks dari pada pemberian evaluasi atau hadiah secara tersendiri, karena kompetisi meliputi keduanya. Biasanya persaingan terjadi apabila siswa merasa bahwa pekerjaannya akan dinilai terhadap pekerjaan siswa lain dan bahwa yang terbaik akan menerima hadiah. Hal ini terjadi dalam kehidupan sehari-hari dan dapat mematikan kreativitas.

4. Lingkungan yang membatasi
Lingkungan yang sangat membatasi anak dalam berkreasi dapat menyebabkan hilangnya minat terhadap suatu hal yang disukainya, bahkan anak akan merasa disakiti karena diberi batasan-batasan.

Kendala dari Sosialisasi

Anak memerlukan pengendalian sehingga mereka merasa aman dalam lingkungan yang stabil dan andal, tetapi tidak sedemikian jauh bahwa mereka merasa seakan-akan melakukan yang diharuskan tetapi sedemikian bahwa mereka dapat mempertahankan motivasi interinsik mereka (amabile, 1989). Pengendalian akan menjadi penghambat apabila dilakukan secara berlebihan dan berubah menjadi pengawasan yang justru akan menghambat motivasi dan kreativitas.

Kendala dari Rumah

Terkadang karena keinginan orangtua membantu anak berprestasi sebaik mungkin, mereka mendorong anak dalam bidang-bidang yang tidak diminati anak. Akibatnya ialah, meskipun anak berprestasi cukup baik menurut ukuran standar, mencapai nilai tinggi, mendapat penghargaan, tetapi mereka tidak menyukai kegiatan tersebut sehingga tidak menghasilkan sesuatu yang betul-betul kreatif. Lingkungan keluarga dapat pula menghambat kreativitas anak dengan tidak menggunakan secara tepat empat “pembunuh kreativitas” yaitu evaluasi, hadiah, kompetisi, dan pilihan atau lingkungan yang terbatas (Amabile, 1989)

Kendala dari Sekolah

Keempat “pembunuh kreativitas” dapat pula ditemukan di sekolah dan pada guru yang sebetulnya ingin memupuk kreativitas. Jika siswa merasa diawasi dan dinilai oleh guru, motivasi dan kreativitas mereka akan berkurang.

Sikap guru

Dalam suatu studi, tingkat motivasi interinsik siswa rendah, jika guru terlalu banyak mengontrol dan lebih tinggi jika guru memberikan lebih banyak otonomi. Beberapa studi menunjukan pygmalio effect, yaitu bahwa tanpa disadari seseorang berperilaku. Guru-guru sekolah dasar diberitahu bahwa anak-anak tertentu didalam kelas akan menunjukan “kemajuan yang luar biasa” dalam kinerja intelektual selama tahun pelajaran. Dalam kenyataan, nama siswa-siswa tersebut betul-betul memperhatikan kemajuan intelektual. Kemudian, peneliti menemukan bahwa kemajuan juga terjadi jika guru mengharapkan siswa meningkat dalam kreativitas.
Diterbitkan di: 23 Juli, 2012   
Mohon dinilai : 1 2 3 4 5
Terjemahkan Kirim Link Cetak
X

.