Cari
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Create a Shvoong account from scratch

Already a Member? Masuk!
×

Masuk

Sign in using your Facebook account

OR

Not a Member? Daftarkan diri!
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Masuk

Sign in using your Facebook account

Halaman Utama Shvoong>Ilmu Sosial>Psikologi>Penyebab homoseksual - suatu referensi ilmiah (terbaru) Bagian 1

Penyebab homoseksual - suatu referensi ilmiah (terbaru) Bagian 1

oleh: hdiputra     Pengarang : Diputra.Hangga
ª
 
Sejak berabad - abad lalu, banyak ahli terutama medis berusaha mencari tahu penyebab seseorang memiliki orientasi seks berbeda. pada jaman dulu orang - orang beranggapan gay adalah individu yang kerasukan roh jahat (lihat tulisan saya sebelumnya), namun seiring berkembangnya ilmu pengetahuan terutama psikologi, psikiatri dan kedokteran, muncul teori - teori yang berusaha menjelaskan penyebab seseorang bisa memiliki orientasi seks sejenis.

Sebelum mengetahui penyebabnya alangkah baiknya apabila kita mengetahui definisi dari gay itu sendiri.

Gay atau homo adalah istilah yang sering digunakan masyarakat untuk menyebut laki-laki yang tertarik pada laki-laki (jenis kelamin yang sama), secara ilmiah homoseks dibagi menjadi dua yaitu laki-laki yang tertarik pada laki-laki yang lazim disebut gay dan perempuan yang tertarik pada perempuan yang sering disebut lesbian.

Gay dapat diartikan sebagai suatu bentuk ketertarikan seorang laki-laki secara erotis pada laki-laki lain (Carrol, 2007: 280), sedangkan Oetomo (2003: 6) menjelaskan gay sebagai laki-laki homoseks yang tertarik secara emosional maupun seksual hanya kepada sesama laki-laki atau dengan kata lain gay sama sekali tidak memiliki ketertarikan pada perempuan. Dalam menjalin suatu hubungan biasanya para gay lebih cenderung mengutamakan aspek-aspek seksual dalam hubungan mereka (Supratiknya, 1995: 95). Lebih jauh Lebih lanjut para ahli mengatakan homoseksualitas termasuk gay hanya merupakan salah satu bentuk orientasi seks (Tan, 2005: 35).

Lalu apakah orientasi seksual itu sendiri ?, Orientasi seks sendiri dapat diartikan sebagai suatu kecenderungan untuk tertarik secara fisik maupun seksual pada lawan jenis, sesama jenis, atau bahkan pada dua jenis kelamin. Orientasi seks dibagi menjadi heteroseks, homoseks, dan biseks. Heteroseksual yaitu ketertarikan pada lawan jenisnya. Homoseksual yaitu ketertarikan pada jenis yang sama dan biseksual yaitu ketertarikan pada kedua jenis kelamin. Orientasi seks sendiri relatif menetap dan tidak bisa dirubah (Wijana dalam Soetjiningsih, 2004: 285-286). tulisan yang saya bold merupakan statement yang perlu diketahui oleh awam kalau homoseksualitas tidak dapat disembuhkan (tulisan mengenai ini akan saya bahas di tulisan berikutnya).

Sedangkan APA menjelaskan menjelaskan orientasi seksual sebagai berikut :

Sexual orientation refers to an enduring pattern of emotional, romantic, and/or sexual attractions to men, women, or both sexes. Sexual orientation also refers to a person’s sense of identity based on those attractions, related behaviors, and membership in a community of others who share those attractions

Lalu apakah penyebabnya ?

a. Dari sudut pandang psikoanalisa menjelaskan bahwa kecenderungan seorang laki-laki memiliki orientasi seks sejenis dikarenakan adanya oedipus complex yang tidak terselesaikan (unresolved Oedipus complex) pada masa kanak-kanak (Maguire, 1995: 199). Oedipus complex sendiri adalah suatu tahapan psikoseksual yang terjadi pada anak-anak di usia 3-5 tahun, pada tahap ini seorang anak laki-laki akan mengalami perasaan cinta pada ibunya dan melihat ayahnya sebagai saingan sehingga anak mengalami kecemasan akan dikebiri oleh ayahnya karena cintanya pada ibunya. Pada tahap ini idealnya anak laki-laki akan menghilangkan rasa cemasnya dengan mencoba membangun rasa percaya pada ayahnya kalau ayah mereka tidak akan mengebiri mereka dan mencoba melakukan identifikasi diri pada ayahnya (Hjelle & Ziegler, 1992: 99-100). Namun apabila peran ibu terlalu dominan sedangkan peran ayah lemah atau dingin dalam keluarga maka anak akan gagal melakukan identifikasi diri pada ayahnya atau yang disebut identifikasi object loss (Tan, 2005: 66), sehingga ketika dewasa nanti anak tersebut akan mencari cinta dari laki-laki lain sebagai bentuk kompensasinya terhadap dominasi ibunya dan tidak adanya figur ayah (Maguire, 1995: 200).

b. Ada yang mengatakan bahwa gay merupakan hasil bawaan (biologis) atau pengaruh lingkungan (psikososial). Sadarjoen (2005: 49) menyoroti faktor psikososial memberikan andil dalam pembentukan orientasi homoseks, faktor-faktor psikososial yang paling memberikan andil terbesar yaitu keluarga, dimana peran antara ayah dan ibu tidak seimbang, peran yang tidak imbang tersebut umumnya ditunjukan oleh ayah yang lemah dan tidak bijaksana dan ibu yang dominan atau ayah yang dingin, kaku dan kejam. Pendapat Sadarjoen ini diperkuat oleh pernyataan dari Supratiknya (1995: 97) yang menjelaskan bahwa salah satu faktor penyebab seorang laki-laki memiliki orientasi seks sejenis yaitu karena adanya pengalaman heteroseks yang tidak menyenangkan di mana ibu dominan di rumah sedangkan sosok ayah lemah atau hilang sama sekali, sehingga individu tersebut melihat hubungan heteroseks sebagai sesuatu yang menakutkan.Selain faktor psikososial, ada satu faktor lagi yang dianggap sebagai penyebab seseorang memiliki orientasi seks berbeda dari orang kebanyakan, yakni faktor biologis. Faktor –faktor biologis yang dianggap sebagai penyebab seseorang memiliki orientasi seks sejenis menurut Carrol (2005: 284), yaitu adanya ketidakseimbangan hormon sebelum kelahiran atau jumlah hormon di saat dewasa. Ketidakseimbangan hormon – hormon tersebut biasanya disebabkan oleh obat-obatan kimia yang dikonsumsi seorang ibu saat hamil (Pease, 2008:275).

Pada dasarnya kedua faktor tadi tidak berdiri sendiri, melainkan terjadi interkasi antara keduanya. Seperti yang dijelaskan oleh Kartono (1989: 248) yang menyatakan adanya interkasi antara faktor biologis dan psikososial memberikan pengaruh penting dalam pembentukan orientasi seks sejenis pada laki-laki. Lebih jauhnya Kartono menjelaskan faktor herediter berupa ketidakseimbangan hormon-hormon seks lalu dipicu oleh pengaruh lingkungan yang tidak baik bagi perkembangan kematangan seksual yang normal seperti pengalaman homoseks pada masa remaja yang menggairahkan atau pengalaman traumatis dengan ibu, sehingga menimbulkan kebencian pada sosok ibu dan semua wanita menyebabkan seorang laki-laki memiliki ketertarikan pada sesama jenisnya.

Berdasarkan hasil obrol - obrol ringan dari beberapa teman yang gay, nampak beberapa memiliki masa kecil yang bisa dibilang seperti individu heteroseksual, yang menjadi menarik adalah mereka - mereka yang mengakui munculnya ketertarikan mereka pada sesama jenis pada usia yang sangat muda (pra remaja) terjadi begitu saja tanpa ada suatu peristiwa yang menjadi pencetus , seperti sexual abused atau dominasi ibu berlebihan. bahkan ada yang mengaku dirinya sudah merasa gay sejak umur 3 tahun !, suatu hal yang menarik bukan ?, tapi tidak dipungkiri juga ada gay yang menyadari dirinya berbeda saat usia dewasa.

Diterbitkan di: 07 Juli, 2012   
Mohon dinilai : 1 2 3 4 5
Terjemahkan Kirim Link Cetak
X

.