Cari
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Create a Shvoong account from scratch

Already a Member? Masuk!
×

Masuk

Sign in using your Facebook account

OR

Not a Member? Daftarkan diri!
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Masuk

Sign in using your Facebook account

Halaman Utama Shvoong>Ilmu Sosial>Psikologi>Membentuk Anak Menjadi Pribadi yang Handal

Membentuk Anak Menjadi Pribadi yang Handal

oleh: dwib    
ª
 
Setiap orang tua pasti menginginkan keberhasilan anak-anaknya. Dengan segala upaya, para orang tua mendorong anaknya untuk dapat mewujudkan keinginan mereka. Kendati terasa janggal, namun begitulah kenyataannya. Betapa tidak, para orang tua memacu anaknya untuk les ini les itu demi mewujudkan hasrat mereka. Dan para orang tua selalu berkata, bahwa mereka membekali anak-anak mereka demi masa depan anak itu sendiri. padahal mungkin saja terselip dalam hati kecil orang tua, bahwa sebenarnya keinginan merekalah yang hendak mereka wujudkan pada diri anak-anak mereka. Meskipun demikian, pada dasarnya bukan sesuatu yang dianggap terlalu salah, asal para orang tua tidak memaksakan kehendak mereka sampai anak-anak justru menjadi jengkel memenuhi kehendak tersebut. Akibatnya, anak-anak justru tidak menjadi apa-apa saat mereka besar. Psikolog sering menganjurkan dan memfasilitasi keperluan anak-anak, termasuk yang tidak sesuai dengan keinginan para orang tua. Artinya, oreng tua tidak boleh mengarahkan mentah-mentah ke jurusan yang tidak diminati oleh anak. Tawarkan saja kepada mereka alternative, tetapi keputusannya tetap berada di tangan si anak itu sendiri. Sebenarnya ada perkara yang jauh lebih penting, agar orang tua membekali anak sejak usia dini. Itulah masalah pembentukan pribadi handal, yang berproses lama seiring dengan pertumbuhan usia anak. Bentuklah anak menjdai pribadi yang dapat diandalkan, misalnya anak memiliki sikap percaya diri tanpa mereka perlu menjadi sombong, punya prinsip terhadap permasalahan hidup tanpa mereka menjadi kepala batu, berkepribadian luwes tanpa merendahkan diri dihadapan orang lain, mempunyai disiplin tinggi tanpa tekanan dari siapapun, dapat berfikir konsisten dan konsekuen sebagai wujud sikap bertanggung jawab. Pada sisi lain, para orang tua mesti sedih, putus asa, dan malu jika mempunyai anak rendah diri, pemberang, egoistis, sulit bergaul, tidak disiplin, dan sikap-sikap kepribadian negative lainnya.

Untuk proses pembentukan agar menjadi anak-anak handal, para orang tua perlu melakukan beberapa langkah berikut ini:
1. Latihlah anak sejak usia dini untuk menangani sendiri berbagai hal dalam kehidupan sehari-hari, sesuai dengan usia masing-masing. Ajari anak untuk mandiri dalam mengurus keperluan mereka sehari-hari, seperti menata kerapian kamar tidur serta perlengkapanyya, mengatur jadwal pelajaran sekolah, dll.
2. Berilah kepercayaan dan tanggun jawab kepada anak untuk mempelajari pelajaran sendiri menjelang ulangan atau ujian. Mengerjakan pekerjaanrumah, membagi waktu untuk belajar dan bermain, dll.
3. Berikan motivasi lewat percakapan santai keluarga untuk berusaha meraih masa depan mereka sebagai seorang pribadi yang berhasil. Ajukan contoh dan teladan pribadi yang berhasil meniti karir dari bawah hingga akhirnya mencapai puncak kesusksesan prestasi mereka, baik orang tua sendiri, orang berkebangsaan Indonesia ataupun orang suskes lainnya dari seluruh dunia.
4. Beritahu kepada anak, bahwa para orang tua tidak hidup seterusnya, karana pada suatu hari orang tua akan meninggal dunia dan anak harus bisa mandiri menghadapi kehidupan ini. Tentu saja perkara ini diberitahukan kepada anak ketika mereka telah mampu berfikir tentang perkara ini.
5. Berikan tantangan kepada mereka, bahwa kehidupan ini keras dan setiap orang harus bertahan dan tabah mengalaminya sendiri. Jangan berharap terlalu besar untuk mendapat pertolongan, baik dari orang tua, saudara, teman maupun orang lain. Berjuanglah sendiri dengan gigih dalam rimba belantara dunia ini. Bukankah lebih baik kita katakan bahwa perjuangan hidup ini berat namun mereka pasti mampu nengatasinya, daripada dikatakan ringan tetapi mereka tenggelam dalam kesengsaraan.
6. Perlu juga mereka diberi nasihat untuk cermat dalam memilih segala sesuatu, mulai dari cabang ilmu yang diminati, pekerjaan, pasangan hidup,dll. Jangan “main pukul dahulu urusan belakang”, tetapi pikirkan dahulu semuanya dengan pikiran jernih.jika mereka salah pilih, maka mereka seperti sepur langsir yang maju mundur, buang uang, waktu, tenaga, pikiran, dan kesempatan. Lalu merekapun tertinggal dalam proses kompetisi dengan anak-anak lain.
7. Ajari anak untuk tidak berspekulasi, sebaliknya ajaklah mereka untuk memiliki visi dan misi ke masa depan mereka. Dengan demikian semua perkara yang mereka hadapi benar-benar berupa rancangan dan perencanaan yang matang. Perkara yang kita kemukakan ini bukan utnuk menakut-nakuti mereka, tetapi melengkapi dan membekali mereka dengan pengetahuan dan pemahaman, bahwa hidup ini harus dihadapi dengan persiapan yang baik.

Jangan kita sebagai orang tua, membiasakan anak untuk berleha-leha bergantung pada kekayaan, jabatan, atau apa saja yang selama ini dimiliki oleh orang tua. Boleh saja semua fasilitas itu memudahkan mereka untuk mencapai cita-cita, namun pada akhirnya mereka harus tetap berusaha sendiri untuk meraihnya. Kekayaan orang tua bisa habis, jabatan bisa berakhir, bahkan orang tua sendiripun tidak untuk selama-lamanya hidup dan mampu untuk membantu mereka.

Jika anak sejak kecil sudah memahami, bahwa mereka akan menjadi orang-orang yang harus mengatasi sendiri apa saja dalam kehidupan ini, niscaya mereka akan tekun dan rajin dalam tahap persiapan mereka dalam menyongsong masa depan.
Diterbitkan di: 01 Oktober, 2010   
Mohon dinilai : 1 2 3 4 5
Terjemahkan Kirim Link Cetak
X

.