• Daftarkan diri
  • ‎Apakah Shvoong itu?‎
  • Masuk
    Masuk
    Ingat user ID ini. Lupa password anda?

Buat rangkuman pengetahuan manusia di Shvoong.

.

Halaman Utama Shvoong>Ilmu Sosial>Psikologi>Tinggal di Apartemen? Kenapa tidak..

.

Tinggal di Apartemen? Kenapa tidak..

oleh : akuaja    

Pengarang : Th.D Wulandari
Manusia memiliki kebutuhan pokok yang disebut sandang, pangan, dan papan. Ketiganya menjadi pendukung manusia bisa bertahan
hidup dari kerasnya perjalanan di dunia yang harus mereka jalani sehari-hari.
Di kota besar, kebutuhan sandang dan pangan barangkali tidak terlalu masalah. Asal ada uang, dua kebutuhan itu bukanlah jadi masalah utama. Tetapi bagaimana dengan kebutuhan mencari tempat tinggal?
Bagi si lajang, memilih tempat tinggal bukanlah persoalan sulit. Ada beberapa pilihan tempat tinggal yang bisa mereka sewa, mulai dari kos, paviliun, rusun, hingga apartemen. Si lajang bisa memilih tempat tinggal yang dekat dengan kantor. Tinggal bayar, membawa barang secukupnya, si lajang langsung dapat menyelesaikan persoalan tempat tinggal.
Namun bagaimana dengan mereka yang memiliki keluarga dan masih memiliki anak usia balita? Memilih jenis tempat tinggal dam menganalisa lingkungan, harus dilakukan.Apalagi pilihan yang paling mudah adalah tinggal di apartemen. Apartemen yang kebanyakan berlokasi di pusat kota ini menawarkan beragam kemudahan. Akses kendaraan yang mudah, fasilitas, lingkungan yang berkelas, dan pelayanan pihak pengembang.
Tapi sebagian orang menganggap tinggal di apartemen kurang sehat untuk perkembangan psikologi anak dan fisik mereka. Keterbatasan areal bermain, lingkungan pergaulan yang tidak jelas, dan kondisi udara perkotaan yang buruk, menjadi masalah utama.
Menurut psikolog anak Erna Marina Kusuma dari Klinik Gading Utama, ada plus minusnya tinggal di apartemen. Kelemahannya, dihubungankan dengan pengaruh fisik anak yang mengkondisikan apartemen minim ruang lingkup dan sirkulasi udara. Akibatnya, anak akan mudah stress dan cenderung tidak sehat secara fisik.
“Survei kesehatan membuktikan anak yang kurang asupan oksigen akan mudah stress. Efek anak stress, mereka akan cenderung lebih emosional,” ujar Erna.
Kecuali masalah kesehatan, kondisi psikologi anak juga akan terganggu saat mereka tinggal di apartemen.
Kurangnya ruang lingkup pergaulan, keterbatasan anak kontak dengan alam, dan sempitnya ruang bermain, membuat anak kurang kreatif dan tidak memiliki kemampuan adaptasi dan sosialisasi yang lebih baik dari anak yang tinggal di luar apartemen.
Apalagi banyak kecenderungan anak lebih banyak menghabiskan waktunya dengan baby sitter dengan bermain play station, membuat anak lebih individualis dan kurang inisiatif. Untuk mengatasi masalah itu, Erna menyarankan anak-anak di masa pertumbuhan sebaiknya diberi ruang lingkup yang lebih sehat dalam perkembangan emosi dan fisik mereka meski mereka tinggal di apartemen.
Caranya? Sering-sering ajak anak bermain di ruang terbuka yang jadi fasilitas apartemen. Selain bisa bergaul dengan banyak anak, mereka juga bisa belajar bersosialisasi secara alamiah.
Jika anak sudah mulai besar, sarankan anak aktif di kelompok belajar atau hobiest tertentu di luar apartemen.
Selain memiliki beberapa kelemahan, anak-anak yang tinggal di apartemen juga punya kelebihan.
“Secara psikis, anak yang tinggal di apartemen lebih mandiri dan aware, karena dia terbiasa dengan aturan-aturan yang sifatnya ketat dari orangtua maupun pengelola apartemen,” ujar Erna.
Orangtua yang tinggal di apartemen tentu memiliki lebih banyak peraturan untuk anak-anak mereka, terkait keselamatan, kewaspadaan, aturan pihak pengelola, maupun aturan pola pergaulan di lingkungan mereka.
Hal senada juga disampaikan psikolog sosial Universitas Indonesia Ardiningtyas Pitaloka sebagai bagian dari konsekuensi masyarakat urban yang tidak lagi canggung hidup di satu bangunan kotak-kotak.
“Kesadaran akan sempitnya lahan di bumi ini telah menumbuhkan semangat lain untuk bisa mengubah pola pikir tentang rumah yang menapak tanah menjadi rumah yang menjangkau langit,” ujarnya.
Meski demikian, bukan berarti mereka lepas dari keresahan dari beragam gangguan simultan yang bisa berasal dari banyak faktor, termasuk lingkungan. Dan salah satu cara membangun rasa aman dengan beragam aturan-aturan yang ditetapkan secara ketat.
Alhasil, anak-anak yang memiliki orangtua dengan tingak kewaspadaan tinggi tinggal di apartemen juga akan menjadi bagian dari itu dan memiliki persepsi serta karakter yang sama dengan orangtuanya.
Diterbitkan di: Oktober 16, 2009
Mohon ringkasan ini dinilai : 1 2 3 4 5

Bookmark & share this post

.