Mengutip hasil penelitian Stanley Coopersmith, artikel ini mengungkapkan betapa pentingnya harga diri pada perkembangan anak.
Stanley Coopersmith adalah profesor psikoligi pada Universitas Davis California, Amerika Serikat. Penelitian terhadap 1.748 anak laki-laki, Coopersmith menemukan bahwa rumah masa kanak-kanak pria muda yang memiliki kepercayaan diri dan sekses memiliki tiga hal yang sama:
1. Kasih sayang dalam keluarga: kasih sayang berupa pernyataan penghargaan dan perhatian pada anak. Anak yang merasa menjadi sasaran penghargaan dan perhatian yang mendalam, mereka merasa orang yang berharga.
2. Orang tua anak-anak dengan harga diri tinggi tampak sekali tidak terlalu serba memperbolehkan. Orang tua yang serba memperbolehkan, yang berarti tidak memberlakukan peraturan, mereka tidak begitu peduli apa yang terjadi pada anak-anaknya.
3. Suasana demokratis yang menonjol dalam keluarga dengan harga diri tinggi. Setelah memberlakukan peraturan tertentu, orang tua mendorong anak agar menyatakan gagasannya sendiri untuk dibicarakan.
Menurut Coopersmith, anak yang gagal mengembangkan harga diri memperlihatkan beberapa gejala antara lain:
1. Ketakutan dan sikap malu-malu. Sebagai orang tua, Coopersmith memperingatkan jangan memaksa anak menghadapi suatu keadaan sosial sebelum dia siap untuk itu. Jika tiba waktunya yang tepat, anak-anak siap mengikuti kegiatan seperti perkemahan, kursus tari, dan lain-lain.
2. Menggertak dan membual. Ini biasanya karena anak membutuhkan perhatian. Yang diperlukan adalah perhatian dari orang tua. Dan orang tua membantu anak untuk mendapatkan cara konstruktif untuk memperoleh perhatian.
3. Ketidakmampuan membuat keputusan. Ini bisa diakibatkan karena orang tuanya sendiri biasa dalam situasi kebingungan, dan ini bisa menular pada anak. Kalau anak membuat keputusan salah lalu dapat celaan, mereka mengambil jalan aman untuk tidak membuat keputusan sama sekali. Karena itu, orang tua perlu mendorong anak mengambil keputusan kecil yang hampir tidak memungkinkan membuat kesalahan, seperti memilih buku yang akan dipinjam di perpustakaan, menyiapkan pakaian sendiri untuk pergi ke sekolah, memilih masakan untuk makan malam.
4. Mengira akan gagal. Sebagai orang tua, jangan memaksa anak untuk berhasil. Tetapi dia bisa mendorong agar anak mencapai sasaran yang semestinya dan menjelaskan kalau anak gagal itu akan menjadi tanggung jawabnya sendiri, kalau berhasil itu merupakan hasil jerih payah si anak sendiri.
Sumber: Mendidik Anak Volume I, Tim Mitra Utama, Jakarta, 1994