Hal apakah yang paling membuat
manusia bahagia? Jawabannya, uang! Seberapa banyak endorfin hormon yang terlibat dalam suasana batin penuh suka cita yang diproduksi tubuh ternyata paling dipengaruhi oleh seberapa banyak kekayaan dimiliki oleh seorang individu. Semakin nyaring gemerincing harta, semakin berbunga hati dibuatnya. Demikian penegasan yang dihasilkan oleh Ruut Veenhoven, profesor sosiologi, lewat studinya selama 30 tahun
di 140 negara.
Bahkan, dibandingkan
dengan komunitas Afrika dan Asia, orang−orang yang tinggal di negara makmur seperti Amerika Serikat, Kanada, dan sejumlah negara Uni Eropa didapati lebih gamblang dalam mengutarakan adiksi mereka akan kekayaan.
Meskipun terkesan bombastis, riset Veenhoven sebenarnya tak lebih hanya nyanyian ulang atas lagu The Beatles,
“The best things in life are free, but you can keep it for the birds and bees. Now gimme money, that’s what I want!”Uang, faktualnya, sudah
menjadi bahasa universal. Ia, seperti dituangkan oleh seorang mafia dalam buku “Mafia Manager”, merupakan pembeda antara lawan dan kawan. Hina? Tidak juga, karena faktualnya seekor lebah pun tidak akan hinggap di bunga yang tak menghasilkan madu.
Permasalahannya, pertalian antara uang dan kepuasan diakui secara luas adalah laksana dua garis yang tak kunjung bertemu pada satu titik. Timbunan harta tidak akan memosisikan si empunya
ke titik yang lebih dekat dengan kepuasan. Bahkan sebaliknya, bak meneguk air laut, kian banyak kekayaan, kian jauh pula kepuasan dari gapaian.
Mengejar kekayaan terus−menerus hanya akan mengantar pelakunya ke delusi tanpa akhir. Syahwat akan uang dalam banyak kasus terbukti menjadi pintu masuk menuju kegilaan. Tidak usah jauh−jauh mencari contoh, negeri ini adalah buktinya. Peringkat Indonesia pada
Human Development Index yang anjlok dari tahun ke tahun, di samping statusnya sebagai penghuni tetap jajaran lima besar dalam daftar
Corruption Index, adalah pengakuan internasional yang diterima dengan getir.
Untuk mengatasinya, dibutuhkan penjungkir−balikan logika, dari “uang sebagai tujuan” ke “uang sebagai alat untuk mencapai tujuan”. Langkah ini memang tidak sederhana. Namun, penelitian Seligman membuktikan, bahwa
afterglow (baca: kebahagiaan) akan dirasakan lebih dahsyat pada saat individu mencurahkan energinya untuk memasak sup bagi kaum papa daripada ketika menonton film premier di bioskop. Dalam ungkapan lain, pengalaman sensasional penuh eksitasi lebih potensial diperoleh saat manusia melakukan aktivitas berorientasi
filantropi.
Kemurah hatian yang dimanifestasikan lewat “tingkah budi memberi” tidak pernah membuat pelakunya mengalami defisiensi. Merelakan sesuatu berpindah ke tangan orang lain justru membangkitkan energi susulan yang diperlukan untuk tampil menghadapi tantangan.
Ironisnya, betapapun positifnya filantropi, ia ternyata hanya ada di bagian bawah dalam daftar Veenhoven tentang hal−hal yang dapat menciptakan kebahagiaan. Padahal, kata Seligman, adalah lewat kegiatan filantropi manusia berpeluang menjalani perubahan hidup paripurna.
Setting KerjaTidak sedikit eksekutif puncak yang pernah penulis temui yang mengutarakan keinginan mereka untuk dapat kelak mencurahkan perhatiannya pada bidang kemanusiaan. Pertanyaannya, apakah katup filantropi baru akan terbuka setelah seseorang mencapai taraf kemakmuran finansial? Mengapa cahaya filantropi baru dinyalakan setelah memasuki usia purnatugas? Mengapa “kelak”?
Berbeda dengan pandangan konvensional, bahwa produktivitas melulu berhubungan dengan semangat berprestasi, filantropi ternyata secara spesifik juga berpengaruh positif terhadap kepuasan kerja. Pearson (2003), sebagai misal, menyimpulkan bahwa para karyawan merasakan kepuasan kerja yang lebih tinggi manakala mereka menganut filosofi yang sama berkenaan dengan nilai−nilai
filantropis.
Perasaan puas itu muncul karena individu (karyawan) dapat merasakan langsung manfaat penghasilan mereka terhadap hal−hal di luar diri mereka. Kondisi kerja yang memuaskan tersebut pada gilirannya akan meningkatkan produktivitas kerja para karyawan, sebuah prakondisi yang menguntungkan bisnis perusahaan.
Jones (2001) juga mencatat, beraneka program filantropi yang diselenggarakan oleh perusahaan merupakan daya pikat besar bagi para pelamar untuk bekerja di situ, sekaligus instrumen andal untuk mempertahankan para karyawan berkualitas agar tidak pindah ke perusahaan lain.
Dengan demikian, terdapat dua implikasi pensosialisasian filantropi. Dari sisi karyawan, filantropi tidak semestinya diaktifkan secara berurutan (
sequential) setelah pensiun bergelimang harta. Andai kaya raya menjadi prasyarat mutlak bagi mereka yang ingin menjadi filantropis, dapat dipastikan hanya Sulaiman yang tercantum dalam sejarah sebagai manusia pengasih! Bukan Musa, bukan Isa, apalagi Muhammad!
Misi “menjadi profesional” dan “menjadi humanis” dapat direalisasikan dengan pendekatan simultan. Keduanya komplementer menciptakan manusia sejati, baik di perusahaan maupun di masyarakat. Terpuji di mata atasan, sekaligus mulia di hadapan Tuhan.
Fakta di atas memperkaya wacana peningkatan produktivitas kerja. Dari sisi perusahaan, tidak tepat lagi untuk menganggap bahwa elan vitale hanya dapat dibangkitkan melalui program−program pelatihan motivasi berprestasi yang biasanya ditujukan untuk menggelorakan hormon adrenalin. Berdasarkan kajian Pearson, militanisme kerja juga dapat dibangun lewat atmosfer profesional yang mendorong karyawan untuk sesering mungkin menaruh kepedulian konkrit terhadap sesama.
Untuk itu, kegiatan−kegiatan yang menyentuh nurani pantas dipertimbangkan sebagai alternatif pengganti aktivitas pelatihan motivasi yang secara kasat mata lebih identik dengan sorak sorai gembira. Tujuannya, dalam terminologi Kostick’s PAPI, bukan lagi mengasah faktor prestasi, melainkan pembinaan terus−menerus terhadap faktor empati.
Penggalangan dana kemanusiaan secara rutin serta kunjungan karyawan ke panti asuhan seyogianya diagendakan sebagai program tetap perusahaan, bukan program sampingan belaka. Itulah beberapa perwujudan nyata nilai filantropis yang juga logis dimasukkan ke dalam
achievement motivation training.
Masalah filantropi relevan ditarik ke pelataran hidup berbangsa. Berbagai kebijakan nasional telah dihasilkan dengan pertimbangan demi kepentingan anak−anak Ibu Pertiwi. Pertanyaan introspektif, seberapa besar kemaslahatan yang telah dihasilkan lewat itu semua? Korban jiwa dalam antrian dana kompensasi, para guru yang berpuisi menyuarakan amarah−frustrasi mereka, adalah sebagian jawabannya? Wallaahu a’lam.
MENJADI FILANTROPIS
Reza Indragiri Amriel *
Ringkasan lain tentang Menjadi Filantropis