Cari
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Create a Shvoong account from scratch

Already a Member? Masuk!
×

Masuk

Sign in using your Facebook account

OR

Not a Member? Daftarkan diri!
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Masuk

Sign in using your Facebook account

Halaman Utama Shvoong>Ilmu Sosial>Ilmu Politik>Bagaimana Menciptakan Birokrasi Bersih Berwibawa

Bagaimana Menciptakan Birokrasi Bersih Berwibawa

oleh: kasam     Pengarang : Dr Lilin Budiati
ª
 
Menuju Budaya Birokrasi Egaliter

WACANA pentingnya birokrasi yang bersih-berwibawa kerap muncul di media, salah satunya artikel “Menuju Budaya Birokrasi Egaliter” yang ditulis Dr Lilin Budiati, SH MM, seorang widyaiswara Badan Diklat Provinsi Jateng yang dimuat Suara Merdeka (14/04/2012).

Lilin menganggap sudah saatnya pemda melakukan kontemplasi total lewat introspeksi dan retrospeksi tentang kebijakan mewujudkan otda. Para politikus perlu didorong untuk menjunjung tinggi nilai-nilai etis. Karena reformasi birokrasi yang selama ini diwacanakan banyak pihak belum mampu mengubah kinerja personel dan organisasi pemerintah. Budaya organisasi dan tata kelola pemerintah yang baik dan bersih masih berjalan lamban, termasuk belum optimalnya pelayanan prima (excellence of service).

Dengan jumlah terlalu besar, organisasi birokrasi menjadi tidak efisien. Bahkan, sejumlah pakar mengatakan, birokrasi di Indonesia tidak efektif, tidak objektif, menjadi tidak terkontrol jika berhadapan dengan kritik, serta tidak mengabdi pada kepentingan umum.

Menurut pengamatan Lilin, birokrasi baru melakukan perubahan dari luar. Yang berubah hanyalah nomenklatur (nama) lembaga-lembaga birokrasi. Reformasi birokrasi belum dilakukan secara konsisten, sistematis dan terukur. Salah satu buktinya, korupsi masih merajalela.

Ada tiga alasan penting mengapa restorasi birokrasi yang dilandasi moral dan etika menjadi amat penting. Pertama, perilaku berdemokrasi justru melanggar demokrasi, seperti kerusuhan atau demonstrasi, yang justru melahirkan budaya politik mobokrasi (semua berdalih tindakan apa pun demi pembenaran untuk demokrasi, perilaku demoralisasi tanpa mengedepankan perilaku etis).

Kedua; budaya kepemimpinan. Perubahan sosial era reformasi yang begitu cepat juga dapat dirasakan betapa absurdnya kondisi nilai-nilai budaya bangsa yang makin rentan dan mudah terkikis sehingga harmoni kehidupan bernegara dan bermasyarakat tidak dapat diwujudkan secara sehat untuk membangun budaya bangsa yang beradab.

Ketiga; tata pamong organisasi pemerintahan. Membangun budaya organisasi tata kelola pemerintahan yang sehat sesuai tuntutan reformasi adalah membentuk organisasi yang ramping, dan SDM yang berkinerja sesuai kompetensi. Faktanya, hingga sekarang organisasi pemerintahan daerah belum menganut asas yang mengedepankan miskin struktur dan kaya fungsi.

Diterbitkan di: 14 April, 2012   
Mohon dinilai : 1 2 3 4 5
  1. Menjawab   Pertanyaan  :    bagai mana cara menciptakan birokrasi dan revormasi di pemerintahan? Lihat semua
Terjemahkan Kirim Link Cetak
X

.