MEMBACA PRILAKU PEMILIH MENURUT USIA
Dalam Pemilukada
1.
Pemilh Pemula (17-22 Tahun) Rata-rata
terdiri dari 20-30 persen pemilih.
Pemilih pemula tidak memiliki kepedulian untuk memilih akan
tetapi mudah di pengaruhi. Tidak untuk diarahkan memilih akan tapi mudah diarahkan
untuk provokasi, bertindak anarkis dan bahkan merusak suasana serta lingkungannya. Secara psikologis pemilih pemula lebih suka ramai-ramai sehingga
yang dapat mempengaruhi mereka untuk memilih adalah
mereka yang di anggap tokoh dan idola
(Artis, orang tua, dll) di karena kan minimnya mereka mendapat pendidikan politik dan begitu banyaknya beban pendidikan yang harus mereka dikerjakan.
2.
Pemilh Dewasa (22-50 Tahun) Rata-rata
terdiri dari 30-40 persen pemilih.
Pemilih dewasa lebih cenderung rentan bervirus skeptis
sejalan ketidakpercayaan mereka terhadap perubahan yang selalu tidak menampakan perbaikan setelah proses
pemilu. Pemilih dewasa cenderung lebih dewasa dalam memberi perbedaan yakni dari perbedaan
pendapat, variasi pilihan calon dan perbedaan menentukan parpol.
Mereka pemilik massa pemilih dalam konteks
politik tidak bertuan alias
mengambang .Mereka cenderung terikat pada hubungan emosional dengan ideologi
tertentu. Nah dengan begitu pemilih dewasa harapan meraup suara melalui pilihan
yang didasarkan pada ikatan emosional terhadap ideologi atau komunitas tertentu
menjadi sangat terbuka. Karena itu pula, dalam laga pilkada, program-program rasional bukan menjadi garapan utama tim
pemenangan calon kepada pemilih dewasa. Ketika calon diperkenalkan kepada publik, yang ditonjolkan
justru warna ideologi tertentu atau representasi komunitas tertentu lebih
terapresiasi oleh pemilih dewasa, akan tetapi tidak perlu terburu-buru membuat
kesimpulan mengenai adanya perilaku pemilih dewasa itu. Tapi, indikasi
tersebut patut menjadi warning bagi siapa pun tokoh yang ingin maju dalam Pemilukada. Dan dalam kenyataannya, dinamika
perilaku pemilih dewasa cenderung lebih terbuka.
3. Pemilh Orang Tua (50 Tahun Ke atas) Rata-rata terdiri dari 10-20 persen
pemilih.
Mereka yang tidak banyak lagi mendapatkan pengetahuan politik
dan bahkan tidak tahu menahu pemimpin dan kepemimpinan karena usianya.Sehingga
mereka kurang menilai segala penyelewengan padahal partai/figur yang di
dukungnya melakukan apa saja yang sewenang-wenang. Karna usianya mereka tidak
dapat menegur/memperbaiki kesalahan – kesalahan figur/partai alias lebih
cenderung pasrah. Akhirnya pemilih tua akan mudah diarahkan untuk tujuan
suara atau memilih. Makin tua biasanya akan makin konservatif yakni cenderung berpandangan
positif terhadap kekuatan dominan yang menjanjikan stabilitas.