Cari
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Create a Shvoong account from scratch

Already a Member? Masuk!
×

Masuk

Sign in using your Facebook account

OR

Not a Member? Daftarkan diri!
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Masuk

Sign in using your Facebook account

Nasionalisme

oleh: ayahenawal     Pengarang : fahmi
ª
 
st1\:*{behavior:url(#ieooui) } /* Style Definitions */ table.MsoNormalTable {mso-style-name:"Table Normal"; mso-style-parent:""; font-size:10.0pt; font-family:"Times New Roman";}

Menggugat nilai kebangsaan kita

Nilai adalah suatu tujuan akhir yang di inginkan, mempengaruhi tingkah laku, yang digunakan sebagai prinsip atau panduan dalam hidup seseorang atau masyarakat. Bisa dikatakan bahwa Nilai-nilai pada hakikatnya merupakan sejumlah prinsip yang dianggap berharga dan bernilai sehingga layak diperjuangkan dengan penuh pengorbanan. Jika seseorang hanya memperjuangkan nilai-nilai pribadi sering disebut indivudualis, namun jika seseorang memperjuangkan nilai-nilai sosial sering disebut pejuang atau pahlawan (orang yang banyak pahalanya).

Demikian halnya Schwartz (1994) mendefinisikan nilai sebagai berikut : Value as desireable transituational goal, varying in importance, that serve as guiding principles in the life of person or other social entity.

Dengan demikian nilai-nilai tersebut merupakan representasi dari persyaratan hidup manusia dan dapat bergeser karenanya. Tiga tipe persyaratan itu yaitu: Kebutuhan individu sebagai organisme, Persyaratan interaksi sosial yang membutuhkan koordinasi interpersonal dan Tuntutan institusi sosial untuk mencapai kesejahteraan kelompok dan kelangsungan hidup kelompok tadi.

Selanjutnya bagaimana dengan nilai-nilai perjuangan bangsa Indonesia. Setelah melihat definisi nilai tersebut, maka dalam konteks ke Indonesiaan, kita bisa menyebutkan bahwa nilai-nilai perjuangan dan kepahlawananlah yang dapat mempersatukan bangsa ini.

Nilai tersebut terbagi menjadi dua yaitu: Pertama, Sebelum kemerdekaan nilai-nilai itu terangkum dalam istilah “merdeka.” Kata tersebut diyakini bernilai tinggi dalam mepersatukan wilayah jajahan Hindia Belanda. Semua perbedaan yang ada hilang, baik suku ras ataupun agama semua berghimpun dibalut toleransi.

Merdeka begitu di rindukan oleh semua pihak, mulai dari, Serikan Islam, gerakan Budi Utomo, Sumpah Pemuda dan perjuangan-perjuangan lokal yang lain.

Kedua, nilai-nilai setelah merdeka. Dari semua kepentingan suku-bangsa yang ada melalui wakil-wakilnya dan semua bersepakat untuk menjunjung tinggi kesamaan nilai-nilai yang terangkum dalam istilah Pancasila (lima sila/point). Suatu nilai dasar yang telah digali ini, diambil dari semua golongan yang ada dan kemudian ditetapkan sebagai dasar kesepahaman untuk bergabung dan menyatukan diri dalam suatu negara yaitu negara Indonesia.

Lima sila perjuangan tersbut yaitu: Ke-Tuhaan Yang Maha Esa, Kemanusiaan yang adil dan beradab, Persatuan Indonesia, Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan dan Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Dari nilai-nilai kejuangan yang didasari rasa cinta ini muncul semangat juang dan semangat kepahlawanan, yaitu: rela berkorban, teguh, ulet serta percaya diri.

Sedangkan dimasa pasca reformasi usaha pemahaman Ideologi bangsa menjadi pudar sebagai arus balik dari pemaksaan pemahaman ideologi bangsa yang dipaksakan pada masa orde baru. Bahkan kini orang membaca dan berbicara Pancasila seakan malu-malu dan tanpa makna, tidak lebih hanya seremoni belaka.

Hubungan dengan nilai-nilai dari penafsiran lama atau yang lebih dikenal dengan P4 putus. Dan sampai saat ini belum tumbuh nilai penafsiran lain sebagai pengganti. Semangat juang tidak lagi berkobar bahkan yang terlihat adalah semangat mengedepankan kepentingan pribadi atau golongan.

Tujuan dari otonomi daerah adalah untuk mensejahterakan rakyat yaitu dengan memberikan kelonggaran kepada daerah agar mengelola sumber dayanya sendiri. Namun justru banyak memunculkan nasionalisme kedaerahan. Bagi daerah yang kaya atau mampu, memungkinkan untuk mensejahterakan wilayahnya sendiri. Sedangkan untuk wilayah yang kurang mampu, akan sulit mengatasinya masalahnya.

Dengan kelonggaran tersebut tiap daerah sibuk mengurus diri sendiri tanpa mempertimbangkan kepentingan nasional. Cita-cita negara modern yang bertumpu pada civic-nationalism direduksi kedalam spirit ethno nationalism.

Setalah terjadi bencana seperti sekarang ini semua baru kebingungan. Yang ada selalu saja mencari kesalahan pihak tertentu, entah pemerintah daerah ataupun pemerintah pusat. Memang masih ada perhatian antar daerah namun rasa kebersamaan yang kendur.
Diterbitkan di: 29 Oktober, 2011   
Mohon dinilai : 1 2 3 4 5
Terjemahkan Kirim Link Cetak
X

.