Cari
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Create a Shvoong account from scratch

Already a Member? Masuk!
×

Masuk

Sign in using your Facebook account

OR

Not a Member? Daftarkan diri!
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Masuk

Sign in using your Facebook account

Halaman Utama Shvoong>Ilmu Sosial>Ilmu Politik>Jejak Jihad SM. Kartosuwiryo

Jejak Jihad SM. Kartosuwiryo

oleh: FazaFatiha     Pengarang : Irfan S Awwas
ª
 
>

Analisa psikologi yang dilakukan Kaskodam IV / Siliwangi Drs Suyono HW terhadap diri Kartosuwirjo ketika dia berada dalam tahanan. [1] Pada waktu itu usia Kartosuwirjo 59 tahun. Hasil evaluasi didasarkan pada penilaian grafologis, dari tulisan tangan buku harian dari tahun 1960. disamping itu, juga melalui obervasi dan analisa pembicaraan sewaktu diadakan introgasi olehAs-1 Kaskodam IV/ Siliwangi, 27 Juni 1962. Dan observasi pada waktu diadakan interview oleh Parokdam IV/ Siliwangi, 18 Juli 1962.

Menurut observasi tersebut dinyatakan bahwa kecerdasan Kartosuwirjo bertarap tinggi. Mutunya tidak bertitik berate pada kemampuan akademis semata, melainkan juga pada penggunaan fungsi-fungsi intelektual yanga ada padanya. Mengingat pada umurnya yang sudah agak lanjut, fungsi intelektual ini masih tampak baik. Bahkan daya ingat, yang pada tarap umur ini biasanya sudah mulai berkurang, hanya memperlihatkan kemunduran sedikit. Di dalam struktur kecerdasannya terdapat anatara kemampuan yang bersifat teoritis dan praktis.

Factor kedua yang menarik perhatian di dalam struktur intelegensinya ialah, bahwa kemampuan intuisi (intuitie-vermogen) juga besar. Terutama di bidang inter human relation. Jadi dalam menghadapi manusia lain sebagai individu maupun sebagai suatu kelompok yang secara intuitif dapat mengambil langkah-langkah yang paling sesuai dijalankan untuk mencapai maksudnya. Factor ini dapat memperkuat kedudukannya sebagai pimpinan. Intuisi yang kuat ini juga menyebabkan, interest terhadap mistik dan metafisisik ada. Akan tetapi dilain pihak, rationalitasnya demikian besar sehingga daya kritik yang obyektik tetap terpelihara.

Segi lain dari pada struktur inteligensinya yang pantas disebut adalah, jalan pikirannya yang sangat kausal. Kausalitasnya bertitik tolak pada prinsip-prinsipnya, sehingga pembahasan segala persoalan dilakukannya menurut garis-garis tertentu yang tidak dapat dirubah lagi. Dengan demikian, suatu problem tertentu, bagi dia, mempunyai suatu cara pemecahan yang tertentu pula. Tindakan-tinadakannya yang konekuen dapat dipndang dari sudtu ini. Fantasinya adalah kongkrit dan disesuaikan dengan keadaan realita. Itu sebabnya ia dapat menunjukan akal dan siasat yang tepat untuk mengatasi problema-problema yang nyata. Ia adalah seorang intelektual yang produktif.

Sebagaimana manusia umumnya, Kartosuwirjo juga memiliki emosi. Tetapi karena kuatnya control rasional terhadap pergolakan emosinya, menyebabkan ia tidak mudah terangsang oleh kejadian-kejadian sekitarnya. Secara pisik ia dapat menyesuaikan diri dengan keadaan dimana ia berada. Berkat inteligensinya yeng penuh dengan perhitungan dan pertimbanga yang kongkrit, maka ia mampu menghadapi dan meneerima situasi actual secara obyektif, tanpa mengalami perasaan-perasaan depresif.

Struktur pribadi kartosuwirjo menggambarkan adanya dorongan-dorongan jasmaniah yang besar, dorongan mana berada dibawah dominasi intelektual secara keras. Maka dari itu, cara hidup dan cara mngatur lingkungannya adalah hygienis, energi vital yang berakar di dalam bidang dorongan ini menyebabkan ia tidak dapat tinggal diam, melainkan memerlukan penyaluran melalui kegiatan-kegiatan yang produktif. Arus dari pada penyaluran energi ini adalah keras dan terpusat. Hal ini dapat dilihat dari usaha-usaha yang dijalankan dengan intensif, agresif dan terpusatkan pada inti persoalan.

Pragnosa mengenai sikapnya dapat pula dievaluasi. Pada waktu itu, Kartosuwirjo telah dapat mengatasi proses penyesuaian diri secara rasioanal dengan situasinya yang baru sebagai tahanan. Berkat intusi dan daya analisanya yang tajam, maka ia makin hari makin tambah kewaspadaannya. Ia sudah dank an dapat membuat estimate (perkiraan) yang tpat mengenai maksud dan tujuan sebelumnya dari orang-orang yang datang unutk mengadakan introgasi, interview, dan sebagainya. Sehingga akan dapat menyesuaikan sikapnya sedemikian rupa, yang praktis menguntungkan bagi dirinya.

Berdasrakan pengakuan pembantu-pembantu dekatnya, diantara cirri kepribadiannya yang paling menonjol adalah kesederhanaan hidupnya, baik dalam hal makanan maupun pakaian. Postur tubuhnya sedang, rambutya ikal dan bicaranya pelan dan jelas. Tidak banyak bicara. Apabila berjalan menundukan kepala, tenang tanpa gaya. Manakala berada di tengah-tengah prajuritnya dia jarang dikenal karena tidak pernah menonjolkan diri hanya karena jabatannya lebih tinggi. Menurut Ules Sudja’i, Kartosuwirjo adalah orang yang konsekwn dengan keyakinannya. Musyawarah merupakan tabiatnya, tekun dalam beribadah, membaca al-Quran secara teratur, shalta tahajud, istikharah, serta puasa sunah. Kebiasaan lainnya adalah senag berolahraga sehingga fisiknya termasuk yang peling perkasa dan sangat kuat. Sedangkan sesuatu yang yang paling dibencinya adalah apabila putusan musyawarah dilanggar atau tidak dilaksanakan. [2]


[1] Drs Suyono HW, Penumpasan Pemberontakan DI/ TII S.M. Kartosuwirjo di Jawa Barat, Dinas Sejarah TNI AD, 1974yang dinukil Irfan S Awwas dalam Jejak Jihad SM. Kartosuwiryo, Jogyakarta: Uswah, 2007, cet. IV, hal. 74-77

[2] Irfan S Awwas, Jejak Jihad SM. Kartosuwiryo, Jogyakarta: Uswah, 2007, cet. IV, hal. 78-79

Diterbitkan di: 19 Agustus, 2011   
Mohon dinilai : 1 2 3 4 5
Terjemahkan Kirim Link Cetak
X

.