Cari
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Create a Shvoong account from scratch

Already a Member? Masuk!
×

Masuk

Sign in using your Facebook account

OR

Not a Member? Daftarkan diri!
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Masuk

Sign in using your Facebook account

Halaman Utama Shvoong>Ilmu Sosial>Ilmu Politik>Tujuan mempelajari ilmu politik

Tujuan mempelajari ilmu politik

oleh: Aamprogresif    
ª
 
secara umum terdapat tiga makna tujuan
mempelajari ilmu politik:
Pertama, perspektif intelektual: Sebagaimana kita maklumi bahwa
sebenarnya tujuan politik adalah tindakan politik. Untuk mencapai itu diperlukan
pembelajaran untuk memperbesar kepekaan pembelajar sehingga ia dapat
bertindak. Agar dapat bertindak dengan baik secara politik, orang perlu
mempelajari azas dan seni politik, nilai-nilai yang dianggap penting oleh
masyarakat. Seperti, bagaimana nilai-nilai itu diwujudkan dalam lembagalembaga,
serta taktik ataupun strategi apa yang digunakan untuk bertindak?
Dengan demikian orang belajar, bagaimana kekuasaan dapat dijinakkan oleh
Prometheus, dan diabdikan kepada tujuan manusia yang positif. Sebagai contoh,
Plato dan Aristoteles di akademi-akademi Yunani, tetapi juga mereka sangat
terlibat dalam politik praktis. Begitu juga sebelumnya Socrates sebagai lambing
guru politik yang aktif, ia juga meninggal karena tekanan-tekanan politik praktis
penguasa Yunani kuno.
Metode pembelajarnnya-pun sudah mengenal metode yang bersifat kritis.
Tujuannya tidak lain adalah untuk menelaah kesalahan-kesalahan yang dibuat
oleh para penguasa dan berusaha untuk mengurangi ketidaktahuan dari mereka
yang dikuasai.. Walaupun ajaran kritis tersebut pada prinsipnya bersifat
intelektual, tetapi dapat menimbulkan hal-hal yang bersifat praktis. Itulah
sebabnya mengapa tradisi intelektual dapat dengan mudah menjadi subversif
terhadap penguasa dan merangsang timbulnya perdebatan politik. “Dengan
demikian tidak bisa dihindari bahwa pembelajarn politik bersifat politis, dan guruguru
politik merupakan aktivis”. Jadi, perspektif intelektual dalam politik adalah
perspektif yang mempergunakan diri-sendiri sebagai titik tolak. Sebab perspektif
itu bertolak dan dibangun berdasarkan apa yang dianggap salah oleh individu,
maka pemikiran individu itu yang memperbaikinya.
Kedua, perspektif politik. Maksudnya adalah bahwa pandangan intelektual
mengenai politik, tidak banyak berbeda dengan pandangan politisi. Bedanya
terletak jika politisi lebih bersifat “segera” (yang ada kini dan di sini, daripada
hal-hal yang teoretis). Sedangkan intelektual dapat menjadi politisi jika ia ammpu
memasukkan masalah politik dalam pelayanan suatu kepentingan ataupun tujuan.
Sebagai contoh, sebuah kasus dengan adanya sistem pemilihan lanagsung di
Indonesia, banyak intelektual yang bersedia menjadi calon legislatif dan eksekutif
pusat dan daerah. Dengan kampanye yang bergaya “orator mendadak”, dalam
waktu singkat mereka mempersiapkan dan menggunakan strtegi itu dari yang
biasanya sangat teoretik mendadak berubah ke dalam suatu kerangka kerja yang
bersifat praktik. Hal ini mirip dengan apa yang dinyatakan Robert Dahl (1967: 1-
90), bahwa dalam waktu singkat mereka telah menjadi politisi.
Singkatnnya, dunia politisi adalah dunia hari ini, dan hari esok yang dekat.
Sedangkan kaum intelektual menaruh perhatian dalam tiga dimensi; hari kemarin,
hari ini, dan hari esok. Keputusan-keputusan dari politisi diuji dalam kenyataan
tanggapan publik yang keras. Suara lebih dahulu, sedangkan azas belakangan.
Jika tujuan pertama pilisi adalah memperoleh kekuasaan, maka kaidah kedua
adalah mempertahanakan kekuasaan. Juga tidak usah heran sebagian politisi ⎯
termasuk yang terbaik dan tercerdik sekalipun ⎯ sering melakukan hal-hal yang
mengerikan. Karena itu tidak usah heran pula jika politisi adalah orang yang
selalu optimis yang senantiasa tergugah oleh kemungkinan-kemungkinan yang
dapat diperoleh dari kekuasaan (Apter, 1996: 20).
Ketiga, perspektif ilmu politik. Dalam hal ini politik dipandang sebagai
ilmu. Ia menilai politik dari sisi intelektual dengan pertimbangan kritis serta
mempunyai criteria yang sistematis. Pendirian ini memandang memndangnya
terhadap kebutuhan ke depan, untuk meramalkan akibat tindakan politik maupun
kebijaksanaan para politisi. Jika para politisi memandang politik sebagai pusat
kekuasaan publik, maka kaum intelektual memandang politik sebagai perluasan
pusat moral dari diri. Dengan demikian politik sebagai ilmu menaruh perhatian
pada dalil-dalil, keabsahan, percobaan, hukum, keragaman, pembentukan asasasas
yang universal (Apter, 1996: 21).
Diterbitkan di: 27 Februari, 2011   
Mohon dinilai : 1 2 3 4 5
  1. Menjawab   Pertanyaan  :    tujuan e-politik Lihat semua
  1. Menjawab   Pertanyaan  :    apa tujuan mempelajari ilmu politik bagi pelajar? Lihat semua
Terjemahkan Kirim Link Cetak
X

.