Di tengah deru mesin perang tentara Israel yang membunuh ratusan warga Palestina, Presiden
terpilih Amerika Barack
Obama diam seribu bahasa. Dia baru resmi menjadi presiden Amerika
setelah pelantikan 20 Januari nanti.
Kita percaya, Obama pasti berbeda dengan Bush hampir dalam semua aspek kebijakan kecuali satu
hal, yakni sikap pro-Israel. Namun, perlu dicatat, sikap pro-Israel antara Bush dan Obama pasti
berbeda tingkatannya. Pada Bush, sikap pro-Israel mutlak, tak dapat ditawar sedikit pun, dan juga
spirit anti-Hamas dan dunia Islam.
Pada Obama, sikap pro-Israel pasti ada dan hal itu tidak unik pada dirinya. Tapi, berbeda dengan
Bush, Obama lebih memiliki sensitivitas kemanusiaan secara universal. Dengan tamsil yang
manusiawi, Obama pernah berkata bahwa jika anak dan istrinya diserang ketika sedang tidur, maka
kewajiban dirinya untuk membela hak hidup dan keselamatan keluarganya.
Mengapa Obama memilih sikap berdiam ketika sudah lebih dari 500 manusia tewas di Jalur Gaza?
Apakah janji perubahan, keadilan, dan perdamaian di Timur Tengah hanya berlaku saat dia kampanye,
tidak berlaku lagi saat-saat dia menuju Gedung Putih?
Secara realistis, Obama tidak punya banyak pilihan. Politik luar negeri Amerika yang pro-Israel
menjadi kebijakan yang hampir tidak dapat ditawar lagi. Komitmen Amerika terhadap keamanan Israel
dan kehidupan warganya menjadikan hubungan kedua negara itu semakin spesial, tak tergoyahkan
dengan serangan sekejam apa pun yang dilakukan Israel atau Amerika terhadap dunia Islam.
Ketika Obama dilantik sebagai presiden Amerika pada 20 Januari nanti, prospek perdamaian di Timur
Tengah menjadi harapan semua orang. Ketika berpidato saat pelantikan, kita berharap terjadinya
arah perubahan baru dalam kebijakan politik luar negeri Amerika di Timur Tengah.
Jika Obama punya kemauan politik dan berhasrat untuk memenuhi janji kampanye perubahan ke arah
proses perdamaian di Timur Tengah, maka sejumlah opsi proposal dapat diambil dan ditindaklanjuti.
Pertama, Obama dapat mengevaluasi politik luar negeri Amerika yang pro-Israel. Kedua, jika Obama takut pada opsi pertama dan kemungkinan besar memang demikian adanya, maka dia
dapat mengambil opsi yang lebih lunak, yakni dengan tetap memelihara komitmen pada Israel, tetapi
memberhentikan bantuan rutin Amerika ke Israel sampai negara Zionis Yahudi itu berhenti perang.