Cari
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Create a Shvoong account from scratch

Already a Member? Masuk!
×

Masuk

Sign in using your Facebook account

OR

Not a Member? Daftarkan diri!
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Masuk

Sign in using your Facebook account

Political SOCIOLOGY

oleh: PapapFarras     Pengarang : Tom Bottomore
ª
 
DEMOKRASI DAN KELAS-KELAS SOSIAL

Tema utama sosiologi politik dalam periode proses pembentukannya pertengahan abad 19 adalah konsekuensi sosial yang diakibatkan oleh lahirnya demokrasi sebagai suatu bentuk pemerintahan, dan manfaat politis dari penciptaan kelas-kelas sosial yang bersandar pada kapitalisme industri.

Teori demokrasi dan kelas-kelas sosial merupakan unsur-unsur dasar dalam konstruksi ilmu politik, dan penyelidikan terhadap perkembangan teori-teori ini akan membantu dalam menjelaskan sifat dan permasalahannya. Konsepsi Tocqueville mengenai demokrasi yang memandang gerakan politik demokratis itu sebagai kekuatan utama yang menciptakan aturan sosial yang baru dan memberi nilai utama pada keuntungan mayoritas, membangun suatu masyarakat yang terbuka serta merangsang berkembangnya perdagangan dan industri.

Teori kelas-kelas sosial, yang pertama kali dirumuskan secara mendalam oleh Marx, mendekati permasalahan yang sama dan berusaha menjelaskan demokrasi sebagai konsekuensi berbagai perubahan yang berlangsung di dalam masyarakat. Seluruh revolusi politik demokratis telah dilancarkan oleh sebuah kelas baru – kelas borjuis – yang terbentuk dalam proses perkembangan kapitalisme perdagangan dan industri, yang selanjutnya dengan dipengaruhi tendensi intrinsik pada produksi kapitalis berhubungan dengan kelas baru yaitu kelas proletar.

Walaupun Tocqueville dan Marx memberi tekanan pada gejala yang berbeda dalam pembangunan masyarakat Eropa dan Amerika Utara pada abad 19, dalam hal tententu keduanya mengakui adanya saling hubungan antara kekuatan ekonomi dan politik.

Demokrasi mengalami pertumbuhan yang sangat lamban dan mendapat banyak hambatan, karenanya sulit mengatakan bahwa sistem politik di dunia pada abad 20 telah menunjukkan praktek demokrasi yang sangat luas, dan telah memberikan hak semua warga negara dewasa secara konstitusional untuk memilih pemimpin politik melalui sarana pemilihan bebas, seperti dirumuskan oleh Max Weber dalam bukunya berjudul Economy and Society dan Parliament and Goverment in a Reconstructed Germany.

Bukti atas segala hambatan dan pembatasan ini terlihat jelas, tidak hanya dalam upaya meluaskan hak pilih yang begitu lambat, tetapi juga dalam bentuk permusuhan dan kekerasan untuk mencegah rakyat mengorganisasi diri. Tetapi penggunaan kekerasan dalam membatasi demokrasi, walau sangat jamak di dunia masa kini, bukanlah merupakan satu cara dengan mana hambatan tersebut diterapkan. Gerakan demokrasi industri telah pula dihambat, dan bahkan pemerintah sosialis, baik reformis maupun revolusioner, telah memperlihatkan kehendak kecil untuk mengalihkan kekuasaan yang akan memberi kemungkinan terlibatnya rakyat secara intent dalam penentuan aktivitas ekonomi.

Argumen Weber diajukan secara lebih sistematis dan dalam bentuk yang agak berbeda, meski dengan obyek yang sama dengan sudut pandang J.A. Schumpeter dalam Capitalism, Socialism and Democracy. Schumpeter dengan tegas menolak “doktrin klasik“ demokrasi, yang memandang demokrasi sebagai gerakan sejarah yang secara konstan dimaksudkan untuk memperluas daerah dalam mana anggota suatu masyarakat dapat mengatur diri sendiri, sehubungan dengan kehidupan politik dan hubungan antara pemimpin politik dengan rakyat. Konsepsi demokrasi ini merupakan salah satu pengaruh penting yang mengarahkan para ahli ilmu politik untuk mencurahkan perhatian terhadap pemilihan dan tingkah laku pemilihan.

Gerakan demokrasi haruslah dipandang sebagai gerakan kelas; gerakan borjuis yang mencari kemerdekaan dari kendala feodal dan kekuasaan aristokratis, kemudian gerakan kelas buruh yang mencari kemerdekaan dari dominasi kaum borjuis. Kedua tahap gerakan itu dibedakan menjadi; tahap demokrasi liberal ketika sistem politik yang kompetitif diperkenalkan dalam ekonomi pasar, dan tahap demokrasi sosial, yang mengungkapkan ide dominasi politik kelas mayoritas, yaitu buruh, dan ide transformasi ekonomi pasar ke dalam ekonomi sosialis.

Ada dua rangkaian masalah yang harus dipertimbangkan: pertama, dampak politis gerakan kelas buruh dalam masyarakan kapitalis yang berkembang sejak abad 19; dan kedua, sistem politik yang telah lahir dari revolusi yang dilakukan dibawah bendera Marxisme sebagai “revolusi kaum proletar“ dinegara Rusia, China dan negara lainnya. Bersamaan dengan itu, kelas buruh di masyarakat kapitalis maju, sebagian besar belum bersifat revolusioner, setidaknya di USA, karena gagal meraih dukungan besar dan efektif dari kelas buruh.

Yang paling mendasar dalam perubahan politis dan doktrin yang dapat dirumuskan dengan sebutan “Eurocommunism“ pelepasan konsep ’dictatorship of the proletariat’, dan “Leninisme“ sebagai suatu penuntutan universal bagi tindakan politik adalah bahwa demokrasi kini diberikan suatu nilai independen sebagai suatu tujuan perjuangan kelas buruh. Penyempurnaan kembali doktrin-doktrin politik ini telah berlangsung bersama dengan revisi substansial terhadap teori Marxis, dimana otonomi relatif atas politik sama-sama ditekankan.
Diterbitkan di: 04 Desember, 2008   
Mohon dinilai : 1 2 3 4 5
Terjemahkan Kirim Link Cetak
X

.