Berbagai penelitian menunjukkan bahwa ketidakmampuan
mendengarkan
ini berisiko dan terkadang menimbulkan akibat yang fatal,
terutama dalam dunia ekonomi dan dunia politik.
Krisis ekonomi dan politik di Indonesia belakangan ini sebenarnya
adalah krisis mendengarkan, yakni ketidakmampuan para pemimpin untuk
mendengarkan suara rakyat.Mendengarkan bersifat aktif, karena ketika impuls yang
dikirimkan ke otak ditafsirkan dan dipahami, meskipun mendengarkan
adalah perilaku komunikasi paling awal yang dipelajari manusia, dan
baru kemudian berbicara, membaca dan menulis.Mahasiswa gagal ujian karena ia gagal mendengarkan
dosen, pengusaha gagal menjual produknya karena ia gagal mendengarkan
(calon) konsumennya, pemerintah gagal dalam tugasnya karena ia gagal
mendengarkan suara rakyatnya (bukan wakil rakyat).Usahakan mendengarkan untuk memahami,
akan menciptakan
kita menjadi penganalisis dan pemikir, sehingga semakin baik anda
mendengarkan, semakin beruntunglah anda.Kejatuhan Soekarno dan Soeharto dari kepresidenan
antara lain disebabkan mereka tidak mau mendengarkan pihak lain,
keduanya merasa kata-kata mereka tidak boleh dikritik, dibantah dan
ditolak siapa pun.Kerja
sama semua pihak, terutama pemerintah daerah
dengan Perguruan Tinggi dan Lembaga
Swadaya Masyarakat
sangat diperlukan. Bila
hal ini dapat dilaksanakan
akan mengurangi krisis mendengarkan di pemerintahan.
Ringkasan lain tentang Krisis Mendengarkan