Seorang pendeta pernah membuat merah seluruh wajah pejabat tinggi
Amerika Serikat saat ia berkotbah tentang istilah-istilah baru yang
ditujukan bagi proses degradasi moral bangsa. Satu istilah yang
dipakainya adalah ''kita memberi nama kebebasan berekspresi pada sikap
acuh kita akan pendidikan tabiat anak''. Sebagai pendidik muda
saya tersedak membaca informasi tersebut. Begitu banyaknya
lembaga-lembaga pendidikan dewasa ini yang mempatenkan ''label
pengembangan kreativitas ataupun kompetensi anak'' sebagai racikan
kurikulum. Apa yang salah
dengan itu semua? Bukankah itulah yang
seharusnya
menjadi proses pembelajaran seorang anak? Bukanlah itu yang
membuat sekolah-sekolah tidak lagi berada di zaman batu dengan guru
yang konservatif?Saya tidak menyalahkan ahli pendidikan yang
mengkampayekan hak-hak
anak untuk lebih bebas dalam berkreasi ataupun
mengembangkan kompetensinya. Yang akan saya tekankan disini adalah
sikap alpa pendidik untuk mengembangkan tabiat sedari ini. Anak-anak
usia sekolah (awal) sangat penuh energi
dan keingintahuan. Saat
perkembangan teknologi begitu pesat dan dunia materialistik begitu
lekat pada kehidupan para
orang tua di kota-kota besar, kita lupa
memenuhi kebutuhan anak-anak akan idola ataupun hubungan khusus dengan
orang tua mereka.Perjumpaan dan sentuhan fisik menjadi
aktivitas langka dan tidak jarang orang tua justru harus pergi
meninggalkan anak-anak mereka yang
masih kecil saat masih tidur dan
pulang kembali ke rumah saat mereka telah terlelap kembali. Televisi
dengan tontonan yang tidak patut, penuh dengan pelajaran tutur bahasa
yang mengerikan, membuat saya bergidik menyaksikan akting-aktif pemain
cilik beradu intrik saat mereka masih sangat belia. Dan itulah yang
ditiru oleh putra-putri kita. Pikiran seperti spons yang menyerap
membuat otak mereka menyimpan memori tentang kata-kata buruk yang tidak
layak diucapkan oleh kanak-kanak seperti mereka.Maka tidak
heran jika anak-anak kecil sudah mulai bermusuhan ataupun terlibat
dalam masalah serupa orang dewasa. Mereka menjadi tidak sabar, bersikap
cengeng, dan tidak bisa mengendalikan diri. Celakanya, para orang tua
dan pendidik tidak peka melihat gejala ini dan merasionalisasikannya
dengan ucapan ''Namanya juga anak-anak, nanti juga berubah''. Seorang
ibu tampak dengan bangga menceritakan anaknya yang masih kecil sudah
piawai mengoperasikan komputer. Tapi ia lupa bahwa sang anak tidak lagi
memperdulikan apapun jika ia asik bermain komputer. Ketidakpedulian
menjadi pangkal ketidaktaatan dan akhirnya membentuk ketidakpekaan. Memang
tidak adil menempatkan label pada anak saat mereka masih bertumbuh,
tapi itu tidak berarti memberikan mereka kebebasan mutlak untuk
mengeksplorasi dunia ini tanpa filter. Jika mereka menunjukkan sikap
yang sangat menganggu hanya karena menginginkan sesuatu, yakinlah
mereka akan menyakiti hati orang tua kelak dengan sikap pemberontak.
Jika tangisan adalah cara untuk meluluhkan hati orang tua yang
permisif, bisa dipastikan mereka akan tumbuh menjadi orang-orang dewasa
yang kekanak-kanakan.Orang tua, cermatilah dan berikanlah waktu
dengan kuantitas dan kualitas yang sempurna bersama anak-anak anda.
Ajar mereka untuk memiliki sikap penurutan dan pengendalian diri
meskipun masih kecil. Dan untuk membuat semuanya itu mungkin,
belajarlah untuk menjadi pribadi idola dan teladan bagi anak-anak anda..
Ringkasan lain tentang Penurutan dan Pengendalian Diri Pada Anak