Cari
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Create a Shvoong account from scratch

Already a Member? Masuk!
×

Masuk

Sign in using your Facebook account

OR

Not a Member? Daftarkan diri!
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Masuk

Sign in using your Facebook account

Halaman Utama Shvoong>Ilmu Sosial>Pendidikan>Carut MARUT DUNIA PENDIDIKAN INDONESIA

Carut MARUT DUNIA PENDIDIKAN INDONESIA

oleh: aspireblog     Pengarang : zlen
ª
 

Pendidikan merupakan tiang pancang kebudayaan dan pondasi utama untuk membangun peradaban bangsa. Kesadaran akan arti penting pendidikan akan menentukan kualitas kesejahteraan lahir batin dan masa depan warganya. Oleh karena itu substansi pendidikan, materi pengajaran dan metodologi pembelajaran, serta manajemen pendidikan yang akuntabel susah seharusnya menjadi perhatian bagi para penyelenggara Negara. Terbukti bahwa seluruh bangsa yang berhasil mencapai tingkat kemajuan kebudayaan dan teknologi tinggi mesti disangga oleh kualitas pendidikan yang sangat kokoh.

Seperti halnya jepang, bagaimana Negara tersebut bisa pulih dari keterpurukan akibat bom atom yang menghujat Negara tersebut pada perang dunia II Silam. Bukan berapa harta benda yang ada, bukan banyak rakyat yang hidup, bukan berapa rakyat yang mati. Akan tetapi pemeritahan waktu itu menanyakan “berapa guru yang masih hidup”. Artinya pemerintah tersebut yang diinginkan untuk dibenahi awal kali adalah pendidikan.

Pendidikan memiliki peranan yang sangat penting dalam mewarnai kemerdekaan Negara Indonesia. Seperti kita ketahui bagaimana colonial menerapkan politik eksploitasi yang mengakibatkan bangsa kita mengalami hidup dalam kemelaratan dan kebodohan. Segala kebijakan politik diarahkan kepada pengerukan sumber daya alam yang hanya untuk kepentingan penjajah. Sebagai puncaknya, dengan adanya tanam paksa. Menjadikan masyarakat Indonesia semakin tak berdaya melawan kemiskinan dan penderitaan.

Hal tersebut menjadikan para tokoh-tokoh belanda yang berfahamkan humanis dan sosial democrat berbicara. Mereka memaksa kolinial untuk memikirkan nasib rakyat. Sudah saat colonial membebaskan rakyat dari kemelaratan dan kebodohan itu, sudah banyak sudah sumber alam yang dikeruk dari Indonesia. Sehingga muncul faham politik etis yang di ujarkan Van Deventer, yakni politik balas budi atau balas jasa, balas kehormatan belanda terhadap Indonesia. Politik etis dapat diterapkan dengan trilogi van Deventer yang di antara isinya adalah peningkatan pendidikan (edukasi) Indonesia. Sehingga para putra-putri Indonesia dapat merasakan pendidikan, meskipun dalam tingkatan rendah. Namun ada juga dari sebagian golongan tertentu dapat melanjutkan pendidikan yang lebih tinggi, bahkan dapat meneruskan hingga sarjana dan ada juga yang hingga pendidikan barat.

Dengan adanya kesempatan menikmati pendidikan tersebut meski tingkat rendah dan sedikit telah melahirkan elit baru bangsa Indonesia, yakni golongan intelektual (Pelajar) Yang kemudian mereka itulah yang menjadi pelopor, penggerak, pemimpin dalam menentukan nasib serta membawa bangsa Indonesia kea rah yang lebih baik.

Telah dipahami oleh para pendidik bahwa misi pendidikan adalah mewariskan ilmu dari generasi ke generasi selanjutnya. Jangan sampai generasi itu terputuskan dengan begitu saja. Ilmu yang dimaksud antara lain: pengetahuan, tradisi, dan nilai-nilai budaya (keberadaban). Secara umum penularan ilmu tersebut telah di emban oleh orang-orang yang terbeban terhadap generasi selanjutnya. Mereka diwakili oleh orang yang punya visi kedepan, yaitu menjadikan generasi yang lebih baik dan beradab.

Secara historis kita ketahui bagaimana fase-fase yang mewarnai pendidikan bangsa Indonesia mulai dari pendidikan hindu-budha, yang kemudian pendidikan islam, pendidikan masa colonial belanda, pendidikan militer jepang hingga era reformasi bahkan hingga sekarang ini. Meski bagaimana model yang diterapkan pada pendidikan prasejarah tersebut belum dapat dipastikan informasi tentang bagaimana rekontruksinya, namun dapat diasumsi yang ada pada masa itu berkaitan dengan konteks social yang sederhana. Terutama yang berkaitan dengan lingkungan social sekitarnya.

Namun belajar dari perjuangan nenek moyang pendahulu kita, apakah Indonesia saat ini sudah mengetahui apa sebenarnya hakekat pendidikan?

Ironis dan memperhatinkan memang ketika sekarang kota lihat bagaimana lembaga pendidikan tak ubahnya mesin cetak ijazah yang canggih. Hanya demi bagaimana sekolahannya laku iming-iming cepat lulus, akreditasi disetarakan, dsb. Bisakah kita harapkan dari pendidikan yang fiktif belaka. Sudah menjadi rahasia umum bahwa praktek jual beli ijazah yang terjadi di Indonesia telah merata, bagaimana kita bisa dapatkan title dengan cara yang begitu instant tanpa ada kerja keras yang pantas untuk dapatkan gelar tersebut. Lalu apakah kemudian ketika diterapkan dalam masyarakat bisakah memenuhi target? Apa bukan cara instant lagi yang bakal ia tempuh.

Tak hanya itu, kita tahu dimana-mana sekolahan sekarang bukan lagi lembaga pendidikan yang bakal mencetak golongan-golongan intelektual yang mampu diandalkan. Tapi sekolahan sekarang tak ubahnya sebagai perusahaan keluarga yang menjanjikan. Tak peduli lulusan SMP, tak peduli mutu tak tinggi, yang penting mempunyai silsilah dalam kekuasaan lembaga akan dijadikan bagian dari lembaga tersebut. Mulai dari karyawan, dan bahkan guru. Padahal seorang guru adalah sosok yang menjadi panutan, sosok yang harus menjadi suri tauladan. Tapi kenapa dipilih hanya asal-asalan?

Tentu saat ia mengajar asal-asalan pula yang bakal diberikan. Mungkin kalau Ki Hajar Dewantara melihat pendidikan Indonesia seperti saat ini tentu tidak bisa kita bayangkan berapa airmata yang keluar dari matanya.

Sehingga tak heran kalau pemuda sekarang banyak mengalami kemunduran, Mulai dari krisis identitas, daya kritis kurang, daya kreatif kurang, sering ikut ikutan, kurang mandiri dan sebagainya, hal itu tak lain dikarenakan sistem Pendidikan sekarang yang kurang baik dan kurang tepat sasaran. Pengajaran biasanya hanya terjadi satu arah saja , antara guru ke murid, daya Partisipasi murid biasanya kurang, mereka mengalami kebosanan dan kejenuhan dalam belajar. Bagaimana tidak pelajaran diberikan dalam bentuk teori teori barat dalam bentuk tulisan, bacaan, maupun penjelasan dari Guru tanpa diimbangi dengan praktek yang nyata, hal tersebut membuat kebosanan menghinggapi Pelajar. Penjelasan penjelasan tarsebut hanya didengar dari telinga kanan dan kemudian keluar lagi dari telinga kiri (lupa). Evaluasi belajar pun hanya mengandalkan nilai nilai teori, hal itu memungkinkan pelajar hanya menghafal saja & pemahaman mereka kurang, sedangkan menurut teori yang ada, menghafal hanya dapat menyimpan memori ke dalam otak hanya sementara saja, artinya setelah evaluasi berakhir setelah beberapa hari/minggu, mereka akhirnya lupa akan pelajaran yang telah diberikan oleh gurunya selama berbulan bulan, artinya pengajaran selama ini Sia sia.

Diterbitkan di: 16 April, 2013   
Mohon dinilai : 1 2 3 4 5
Terjemahkan Kirim Link Cetak
X

.