Cari
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Create a Shvoong account from scratch

Already a Member? Masuk!
×

Masuk

Sign in using your Facebook account

OR

Not a Member? Daftarkan diri!
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Masuk

Sign in using your Facebook account

Halaman Utama Shvoong>Ilmu Sosial>Pendidikan>“Kurikulum Memang Harus Selalu Berubah”

“Kurikulum Memang Harus Selalu Berubah”

oleh: aspireblog     Pengarang : Prof. Dr. Arief Rachman
ª
 
Kesannya, setiap ganti menteri pasti ganti kebijakan, termasuk ganti kurikulum. Menurut Prof. Dr. Arief Rachman, memang kurikulum harus terus berubah. Pendidikan yang baik, memang perlu mengubah-ubah kurikulum.

“Sulit dibayangkan bila kita memakai kurikulum zaman dulu. Sekarang ini kan penemuan-penemuan di bidang teknologi seperti komputer sudah demikian pesat. Jadi, materi mata pelajarannya juga harus diganti. Itu artinya, kurikulum juga harus diganti,” kata Direktur SMU Labschool, Jakarta ini. Berikut petikan wawancaranya.

Mengapa kurikulum terus berubah-ubah?
Kurikulum pendidikan di Indonesia ini adalah dinamis. Dia selalu harus berubah mengikuti perubahan ilmunya itu sendiri. Dia harus memenuhi keperluan hidup sehari-hari. Kita sebagai pendidik tidak boleh mengajar sesuatu yang tidak ada gunanya. Begitu pun kurikulum harus mengikuti perkembangan dari anak didik kita. Jadi, orang yang melihat kurikulum harus siap menerima kenyataan bahwa kurikulum itu akan selalu berubah–ubah. Kurikulum tidak akan berhenti di satu tempat. Perubahan-perubahan itu harus dicermati oleh para pengambil kebijakan sektor pendidikan baik yang ada di pusat maupun di daerah.

Mengapa pemerintah daerah juga perlu mencermati perubahan kurikulum?
Ya, sebab diperlukan kurikulum bermuatan lokal. Yang harus dicermati secara lokal oleh pemerintah daerah terhadap kurikulum adalah muatan lokal apa yang dibutuhkan daerahnya.
Anak-anak SMU di suatu daerah tertentu perlu diberikan palajaran dengan muatan lokal. Ambil contoh, Bali. Di sana perlu diberikan kurikulum manajemen pariwisata, atau pengetahuan-pengetahuan yang berkaitan dengan sektor pariwisata.

Bagaimana dengan Kurikulum Berbasis Kompetensi atau KBK?
Pada hakikatnya, KBK adalah perubahan kurikulum lama yang menekankan aspek pengetahuan menjadi aspek kompetensi.

Kompetensi ini bisa diukur. Misalnya, kompetensi membaca, ini harus bisa diukur seberapa jauh anak ini mengetahui kosa katanya, seberapa jauh anak itu mengatahui kalimat-kalimatnya, dan seberapa jauh anak itu mengerti mengapa tulisan itu dibuat. Jadi lebih rinci sehingga guru sebenarnya lebih terbantukan dengan KBK untuk melihat satu masalah lebih detail.

Lalu, sudahkan masuk ke dalam kurikulum nasional?
KBK itu beberapa tahun terakhir ini belum dijadikan suatu keputusan sebagai kurikulum nasional. Baru menjadi uji coba di beberapa sekolah. Sekolah-sekolah yang sudah mengujicoba kurikulum berbasis kompetensi ini juga berkeinginan untuk tetap melanjutkannya, meskipun sekarang juga ada kurikulum 2006.

Bagaimana dengan kurikulum 2006?
Kurikulum 2006 itu menyeleksi Kurikulum 2004 apa saja yang perlu dan tidak perlu dilanjutkan, atau bahkan apa saja yang mesti dibuang.

Jadi, bagaimana sebenarnya kita menyikapi sebuah kurikulum?
Kalau kita bicara kurikulum, kira-kira itulah bentuk kurikulum yang harus kita capai di Indonesia ini. Lebih dari itu, sebuah kurikulum yang nantinya menghasilkan silabus, pokok bahasan-pokok bahasan, materi-materi, harus memungkinkan guru untuk mengajar. Kemudian bisa meningkatkan standar proses.

Dibuatnya standar proses adalah menjadi sebuah strategi agar seorang guru kalau mengajar, menarik, bisa memotivasi, berinteraksi dan sangat menggugah minat anak.

Secara sederhana tidak sekadar anak tahu, tapi harus bisa membuat anak ingin tahu. Tidak hanya mendorong anak ingin tahu apa? Tapi juga mendorong anak ingin tahu mengapa?
Sehingga kurikulum itu sebenarnya akan membantu seseorang berpikir kritis, analitis, komprehensif atau menyeluruh, kompetitif dan lain lain. Jadi, kita meningkatkan keterampilan berfikir kita. Ketrampilan berfikir sederhana adalah menghapal, tapi kalau berpikir kritis lain lagi.

Lalu apa yang mesti dipersiapkan?
Sebuah kurikulum itu harus punya empat perangkat pendukung. Yaitu, materinya harus baik, gurunya harus mengerti, alat-alat penunjang atau peraganya, kemudian manajemen dari sekolah.
Misalnya, sebaiknya kalau mengajarkan matematika pada jam dimulainya belajar, jangan mengajarkan matematika pada jam terakhir setelah olah raga, sebab untuk belajar matematika anak perlu energi yang lebih prima dan suasana yang abstrak dan tenang. Sebaliknya, mengajarkan sejarah sebaiknya pada jam terakhir agar bisa diajarkan drama dan lain-lain.

Diterbitkan di: 10 April, 2013   
Mohon dinilai : 1 2 3 4 5
Terjemahkan Kirim Link Cetak
X

.