Cari
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Create a Shvoong account from scratch

Already a Member? Masuk!
×

Masuk

Sign in using your Facebook account

OR

Not a Member? Daftarkan diri!
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Masuk

Sign in using your Facebook account

Halaman Utama Shvoong>Ilmu Sosial>Pendidikan>Siswa Harus Bermoralitas

Siswa Harus Bermoralitas

oleh: MarianusHilariusGoa     Pengarang : rian goa
ª
 

Krisis multidimensi yang tengah terjadi dewasa ini memberi gambaran bahwa sebagian masyarakat telah kehilangan spiritualitas hidup dan kearifan sosial, seperti toleransi, kemampuan berempati, semangat kegotong-royongan dan kerjasama. Akibatnya masyarakat dengan mudah menyalahkan orang lain, gampang kehilangan kendali emosi, mudah terseret isu yang bermuara pada kerusuhan, dan mudah curiga terhadap kelompok atau golongan lain yang berujung pada konflik atau bentrok yang membabi buta.

Kondisi masyarakat di atas semakin diperparah oleh berbagai persoalan dan telah menjadi keprihatinan berbagai pihak, seperti: (1) Pekerjaan terbatas dan tenaga kerja yang melimpah ruah, pengangguran terjadi di mana-mana, premanisme semakin menjadi-jadi di kalangan kaum muda; (2) Pergaulan bebas sulit dikendalikan; (3) Model-model pakaian yang memicu kepada gairah seks; (4) Hubungan anak dengan orang tua kurang dilandasi nilai-nilai moral dan etika; (5) Penghayatan agama hanya sebatas menampilkan simbol-simbol ritual,[1] sedangkan pengamalannya kurangtampak, sehingga umat pada umumnya dan para siswa atau kaum muda khususnya kehilangan identitas keagamaannya.

Kaum muda dan remaja yang sedang dalam proses pendidikan pun tidak luput dari dampak globalisasi yang semakin berkembang. Dewasa ini

[1] R. Sumarni, makalah dampak kaum muda terhadap globalisasi”,(Bandung. http.//www.Rio.2002

perilaku para siswa yang sebagian besar adalah remaja dan kaum muda, kerap menimbulkan persoalan dan keresahan bagi masyarakat. Perilaku tersebut seperti: (1) Tawuran antara pelajar, pergaulan asusila di kalangan pelajar (2) Pornografi yang susah dibendung (free sex), kebiasaan bolos sekolah; (3) Kesukaan terhadap minuman keras; (4) Kecanduan terhadap ekstasi dan tindakan aborsi. Penyimpangan perilaku tersebut menjadi indikator yang menunjukkan bahwa moral dan akhlak para siswa semakin merosot, karena hilangnya nilai-nilai ajaran agama. Keadaan ini menjadi kian parah oleh pola pendidikan yang kurang memadai dan tidak efektif untuk merangsang seluruh dimensi perkembangan manusia[1] (Tim Pastoral Pendidikan KAE, 2009:8).

Dalam UU RI No. 20 Pasal 1 Ayat 1, dikatakan bahwa pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, bangsa dan negara.[2] Ini berarti bahwa pendidikan dipandang sebagai pilar pembentuk manusia dan perkembangan masyarakat.

Diterbitkan di: 13 Desember, 2012   
Mohon dinilai : 1 2 3 4 5
Terjemahkan Kirim Link Cetak
X

.