Cari
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Create a Shvoong account from scratch

Already a Member? Masuk!
×

Masuk

Sign in using your Facebook account

OR

Not a Member? Daftarkan diri!
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Masuk

Sign in using your Facebook account

Halaman Utama Shvoong>Ilmu Sosial>Pendidikan>Laboratorium Berjalan, Kenalkan Iptek pada Anak

Laboratorium Berjalan, Kenalkan Iptek pada Anak

oleh: ChenYuan    
ª
 
Laboratorium berjalan? Pasti banyak dari Anda yang belum pernah mendengarnya bahkan asing di telinga Anda. Apakah laboratorium yang dapat berjalan sendiri, atau yang lainnya? Ternyata yang disebut laboratorium berjalan tersebut adalah sejenis media pembelajaran seperti peragaan alat-alat listrik dan yang lainnya sehingga disebut laboratorium berjalan karena dapat diperagakan dimana saja.

Sains dan teknologi memang sering menjadi mata pelajaran yang dianggap sulit bagi anak-anak, terutama pada anak yang masih duduk di Sekolah Dasar. Dengan adanya berbagai teori dan penjelasan yang sulit mereka hafalkan, ditambah lagi rumus-rumus rumit yang membingungkan menyebabkan mereka bosan dengan mata pelajaran tersebut.

Salah satu metode agar minat belajar sains dapat ditingkatkan adalah dengan menyajikan mata pelajaran tersebut menjadi suatu bentuk permainan. Melalui permainan, hal tersebut dapat menimbulkan daya tarik bagi siswa untuk mempelajari sains lebih dalam tanpa adanya rasa bosan.

Hal itulah yang mendorong lima mahasiswa Universitas Gadjah Mada untuk mendirikan laboratorium Media Pecinta Teknologi di Sekitar Kita atau Metaloka dan membuat para mahasiswa ini baru saja meraih medali perak dalam PIMNAS 2012 atau Pekan Ilmiah Nasional 2012. Laboratorium Metaloka adalah laboratorium inovatif untuk mempermudah anak usia sekolah dasar dalam mempelajari sains, terutama fisika dan kimia.
Laboratorium berjalan yang berisi berbagai macam permainan sebagai media pembelajaran sains ini dirancang oleh Erna Setianingsih, Rosalia Diah Mindarti, Fida Khansa, Ida Lutfiani, serta Dawi Karomati Barorah.

Erna yang menjadi ketua tim, mengatakan bahwa laboratorium berjalan tersebut memiliki keunggulan yaitu sebagai media belajar yang sesuai dengan kurikulum yang ditetapkan oleh pemerintah. Sebab selama ini meskipun cukup banyak permainan edukatif yang beredar, masih belum sesuai dengan kurikulum. Hal tersebut menyebabkan lemahnya pemahaman siswa terhadap sains.

Laboratorium berjalan yang berisi 17 macam media belajar itu telah disesuaikan dengan kurikulum tingkat Sekolah Dasar untuk kelas tiga hingga kelas enam seperti termometer botol, gasing warna, teropong cakram, badut goyang, elektromagnetik, listrik statis, dan lain sebagainya. Materi yang terangkum di sana juga cukup memadai seperti elektromagnetik, listrik statis, kapilaritas, pembuatan magnet, termometer botol, serta rangkaian listrik fisika. Tak hanya itu, pengembangan selanjutnya juga akan ditambahkan materi lagi seperti tenaga surya, roket air, serta pengenalan robotika. Selain produk permainan, para mahasiswa tersebut juga akan memberikan jasa pelatihan terhadap media belajar yang digunakan.

Erna juga menambahkan bahwa laboratorium berjalan tersebut telah diuji coba di beberapa sekolah dasar di Yogyakarta. Hasilnya, anak-anak menjadi aktif dan bersemangat untuk belajar sains. Rencana selanjutnya mereka juga akan mengembangkan media permainan untuk pembelajaran biologi, jenjang pendidikannya pun juga akan ditambah hingga tingkat SMP.

Ibnu Hamad, seorang juru bicara dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI menuturkan bahwa perpaduan atau korelasi antara ilmu pengetahuan dengan permainan makin berkembang akhir-akhir ini dan hal inilah yang disebut dengan edutainment.

Dunia edutainment memang diprediksi akan semakin mengalami perkembangan seiringnya pertumbuhan gadget pada siswa, terutama di kota-kota besar. Hal tesebut juga dapat mengangkat kreativitas siswa dalam mencari ilmu.
Diterbitkan di: 16 September, 2012   
Mohon dinilai : 1 2 3 4 5
Terjemahkan Kirim Link Cetak
X

.