Cari
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Create a Shvoong account from scratch

Already a Member? Masuk!
×

Masuk

Sign in using your Facebook account

OR

Not a Member? Daftarkan diri!
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Masuk

Sign in using your Facebook account

Halaman Utama Shvoong>Ilmu Sosial>Pendidikan>Pendapat Ulama tentang Asuransi Konvensional dan Asuransi Syariah

Pendapat Ulama tentang Asuransi Konvensional dan Asuransi Syariah

oleh: NhaMute    
ª
 
a) Pendapat Ulama mengenai Asuransi konvensional

Dalam mengkaji masalah asuransi konvensional, para ulama melihat didalamnya ada empat hal yang menjadi pangkalan perselisihan, ketiga hal tersebut adalah:

a. Adanya unsur ketidak pastian (gharar)

Dalam asuransi konvensional perjajian asuransi jiwa termasuk akad pertukaran (tabadduli), yaitu pertukaran pembayaran premi de gan uang pertanggungan. Dalam hal ini unsur ghararnya terlihat bahwa nasabuah mengetahui secara pasti besarnya jumlah seluruh premi yang akan dibayar.

b. Adanya unsur untung-untungan (gambling), semacam perjudian (maisir)

Dalam asuransi konvensional ada pihak yang mendapatkan keuntungan dan sebagian ada yang mengalami kerugian.

c. Adanya unsur riba

Dalam ansuransi konvesional dana yang dikumpulkan dari para nasabah akan ditanamkan di berbagi usaha dengan sistem bunga, seperti didepositkan di bagi bank dengan sistem bunga, dalam bentuk SBI (Sertifikat Bank Indonesia) dan sebagainya.

d. Unsur Komersial. Dalam asuransi konvensional penanam modal bertujuan untuk mendapatkan keuntungan sebesar-besarnya, seperti halnya menanamkan modalnya di banding komersial lainnya semacam PT, Firma, CV dan sebagainya.

Oleh karena itu hasil ijtihad mereka terbagi menjadi empat kesimpulannya, yaitu:

a. Bahwa asuransi termasuk bentuk cara operasi yang haram hukumnya, karena mengandung unsur ketidak pastian.

b. Bahwa asuransi hukumnya ‘mubah’ diperolehkan dalam Islam, karena sama sekali tidak adanya ketetapan dalam nash al-Qur’an atau al-Hadits.

c. Bahwa asuransi yang diperbolehkan (mubah) dalam Islam adalah asuransi sosial, sedangkan asuransi komersial tidak diperbolehkan.[1]

b) Pandangan Ulama Mengenai Asuransi Syariah

Tujuan asuransi ini sangatlah mulai karena keinginan untuk saling tolong menolong kedalam kebaikan. Namun persoalan yang dipertikaikan lebih lanjut oleh para ulama bagaimana instrumen yang akan mewujudkan niat baik dari asuransi tersebut, baik itu bentuk akad yang melandasinya. Sistem pengelolaan dana, bentuk majemen dan lain sebagainya.

Dari permasalah instrumen pendukung inilah, para ulama terpola kepada dua kelompok besar. Pertama kelompok yang mengharamkan asuransri syariah karena bebetapa hal, diantaraanya:

1. Ibnu abidin dari kalangan mazhab Hnafiah yang berpendapat bahwa asuransi haram karena uang setoran peserta (primer) tersebut adalah iltizam maa lam yalzam (mewajibkan sesuatu yang tidak lazim/wajib).

2. Muhammad Bakhit al-Muth’I (bekas mufti Mesir) mengatkan bahwa akad asuransi yang menjamin atas hartan benda pada hakikatnya termasuk dalam kafalah atau ta’addi/itilaf.

3. Muhammad Al-Gazali mengatakan bahwa asuransi haram karena mengandung riba. Beliau melihat riba tersebut misalnya dalam pengelolaan dana asuransi dan pengambilan premi yang disertai bunga ketika waktu perjanjian telah habis.

Kelompok ulama kedua memperbolehkan keberadaan asuransi antara lain dikemukan oleh : Syekh Abdurrahman Isa (guru besar universitas Al-Azahra Kairo), syekh Abdul Khalaf, Prof Dr. Muhammad al-Bahi. Pada dasarnya mereka mengakui bahwa asuransi merupakan suatu bentuk manfaat dan nilai positif bagi umat selama dilandasi oleh praktek-praktek yang sesuai dengan nilai Islam dalam menjalankannya.[2]

A. Perbedaan Asuransi Syariah dengan Asuransi Konvensional

Setidaknya ada enam perbedaan mendasar antara asuransi syariah dengan asuransi konvensional yaitu:

a. Pada asuransi syariah ada Dewan Pengawas syariah yang bertugas mengawasi produk yang dipasarkan dan pengelolaan investasi dana. Dewan ini tidak ditemukan pada asuransi konvensional.

b. Akad yang dilaksanakan pada asuransi syariah berdasarkan bagi hasil (mudharabah). Asuransi konvensional berdasarkan jual-beli

c. Investasi pada asuransi konvensional memakai bunga sebagai landasan perhitungan investasi.

d. Kepemilikan dana pada Asuransi syariah ada pada peserta, perusahan hanya sebagai pemegang amanah untuk mengelola. Pada Asuransi konvensional dana yang terkumpul dari nasabah menjadi memiliki perusahaan sehingga perusahaan bebas menentukan alokasi invenstasi.

e. Dalam hal pembayaran klaim, pada asuransi syariah diambil dari rekening tabarru (dana kebijakan) seluruh peserta. Jadi sejak awal peserta sudah ikhlas ada penyelisihan dana yang akan dipakai untuk tolong menolong jika terjadi musibah. lain halnya pada asuransi konvensional pembayaran klaim diambil dari rekening dana perusahaan.

f. Pada asuransi syariah keuntungan dibagi antara perusahaan dengan peserta sesuai prinsip bagi hasil dengan proporsi yang telah ditentukan. Seluruh keuntungan pada asuransi konvensional menjadi milik perusahaan.[3]


[1] Drs. Musthafa Kamal Pasha, “Fikih Islam”, (Yogyakarta: Citra Karsa Mandiri, 2003), h: 390

[2] Prof. Dr. Ahmad Rodoni, “Inventasu Syariah” (Jakarta: Lembaga Penelitian UIN, 2009), h: 150-151

[3] Prof. Dr. Ahmad Rodoni, “Inventasu Syariah”….h: 176-177

Diterbitkan di: 09 April, 2012   
Mohon dinilai : 1 2 3 4 5
  1. Menjawab   Pertanyaan  :    ada salah satu asuransi mengklaim tidak pakai sistem bunga (riba),tapi ditentukan berdasarkan tingkat inflasi dan harga emas di pasaran,klu boleh tau hal ini hukumnya apa?tq... Lihat semua
Terjemahkan Kirim Link Cetak
X

.