Cari
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Create a Shvoong account from scratch

Already a Member? Masuk!
×

Masuk

Sign in using your Facebook account

OR

Not a Member? Daftarkan diri!
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Masuk

Sign in using your Facebook account

Halaman Utama Shvoong>Ilmu Sosial>Pendidikan>Pandangan Ulama tentang Asuransi

Pandangan Ulama tentang Asuransi

oleh: NhaMute     Pengarang : Ana Mutiara
ª
 
A. Pandangan ulama mengenai Asuransi

a) Pendapat Ulama yang Menolak Asuransi

Dengan meluasnya praktek asuransi di seluruh penjuru dunia termasuk negri-negri Islam, maka para sarjana hukum Islam (fuqaha) tidaklah berdiam diri dalam mendudukan hukumnya. Sebagai akad model baru yang tidak dikemukakan dalam kitab-kitab fiqih lama, menimbulkan persoalan apakah aasuransi ini dibenarkan atau harus ditolak.

Dengan memandang berbagai jurusan, ternyata para ulama tidak spendapat dalam menetapkan hukumnya. Segolongan menolaknya dan segolongan lagi menerimanya, dan adapula yang meghendaki perubahan sistem dan penyesuaian, sehingga dapat diterima dalam syariat Islam.

v Syekh Ahmad Ibrahim

Syekh Ahmad Ibrahim dalam suatu fatwanya telah meenadaskan bahwa asuransi jiwa itu tidak sah. Apabila dikatagorikan kepada mudlarabah, maka perjanjian asuransi itu adalah mudlarabah yang rusak. Syarat yang rusak itu didapati dalam perjanjian asuransi, dimana keuntungan perdagangan seluruhnya bagi pemilik modal sedangkan pihak mudlarib menjadi penerima upah yang setimbang dengan kerjanya, dan hal ini berarti keluar dari kedudukannya selaku kongsi.

v Sayed Sabiq

Sayed Sabiq dalam Fiqhus-Sunnah, setelah mengutarakan pandangan Syekh Ahmad Ibrahim tersebut, beliau menggaris bawahi asuransi tidak dapat dimasukan sebagai mudlarabah yang shahih tetapi termasuk mudlarabah yang rusak.

Perusahaan asuransi itu tidak dapat dikatakan memberikan sumbangan kepada pihak tertanggung (nasabah) dengan apa yang diharuskannya, karena karakter asuransi menurut undang-undang adalah termasuk akad pembayaran yang tidak menentu (untung-untungan).

Dengan pandangan tersebut,Sayed Sabiq mengambil kesimpulan bahwa dengan alasan apa pun asuransi tidak dapat diterapkan dalam aqad yang dibenarkan syari’at Islam.

v Syekh Muhammad Bakhit Al-Muthi’i

Syekh Muhammad Bakhit Al-Muthi’I adalah mufti di Mesir dan anggota mahkamah tinggi syari’ah, dalam fatwanya menegaskan bahwa perikatan asuransi pada asalanya dari yang haram. Adapun sebabnya ialah karena asuransi mengharuskan sesuatu yang tidak harus, yang berarti pertaruhan atau perjudian.

Syekh ibnu Abidin bahwa dalam pelaksanaan akad asuransi di negara Islam lalu memperoleh gantinya di negara yang bukan Islam, tetap tidak halal. Tetapi syekh al-Muth’I membenarkan penerimaan pembayaran di negri bukan Islam.[1]

b) Pendapat ulama yang Memperbolehkan

ü Syekh Abdur Rahman Isa.

Syekh Abdur Rahman Isa adalah seorang Guru Besar Universitas Al-Azhar. Dengan tegas ia menyatakan bahwa asuransi merupakan praktek muamalah gaya baru yang belum dijumpai imam-imam terdahulu, demikian juga para sahabat Nabi.pekerjaan ini menghasilkan kemaslahatan ekonomi yang banyak. Ulama telah menetapkan bahwa kepentingan umum ynag selara dengan hukum syara’ patut diamalkan. Oleh karena itu asurnsimenyangkut kepentingan umum, maka halal menurut syara’.

Menurutnya, perjanjian asuransi adalah sama dengan perjanjian al-ji’alah memberi janji upah. Ia berkata bahwa asuransi mewajibkan dirinya untuk membayar sejumlah uang ganti kerugian, apabila pihak lain mengerjakan sesuatu untuknya, ialah membayar uang premi dengan peraturan tertentu. Maka, apabila seseorang telahmengerjakan perbuatan ini, berkahlah ia atas sejumlah uang pengganti kerugian yang dijanjikan.

ü Prof. Dr. Muhammad al-Bahi

Prof. Dr. Muhammad al-Bahi adalah wakil Rektor Universitas Al-Azhar Mesir. Dalam kitabnya, Nidlomut Ta’min fi Hadigihi Ahkamil Islam wa Dlururotil Mujtamil Mu’ashir, Ia berpendapat bahwa asuransi itu hukumnya halal karena beberapa sebab:

1 Asuransi merupakan suatu usaha yang bersifat tolong menolong.

2 Asuransi mirip dengan akad mudharabah dan untuk mengembangkan harta benda.

3 Asuransi tidak mengandung unsur riba.

4 Asuransi tidak mengandung tipu daya.

5 Asuransi tidak mengurangi tawakal kepada Allah.

6 Asuransi suatu usaha untuk menjamin anggotanya yang jatuh melarat karena suatu musibah.

7 Asuransi memperluas lapangan kerja baru.

ü Syekh Muhammad Dasuki

Dalam kitabnya Majimaul Bukhuts al-islamiyah, ia mengatakan bahwa asuransi itu hukumnya halal dikarenakan beberapa hal:

1 Asuransi sama dengan syirkah mudahrabah

2 Asuransi sama dengan akad kafalah atau syirkatul ain.

3 Pelaksanan asuransi dapat didasarkan atas firman Allah dalam surat Al-An’anm ayat 28

Artinya: Tetapi (sebenarnya) telah nyata bagi mereka kejahatan yang mereka dahulu selalu menyembunyikannya[466]. Sekiranya mereka dikembalikan ke dunia, tentulah mereka kembali kepada apa yang mereka telah dilarang mengerjakannya. dan Sesungguhnya mereka itu adalah pendusta belaka.

ü Syekh Muhammad al-Madani

Syekh Muhammad al-Madani adalah seorang ulama yang cukup dikenal di Al-Azhar Kairo. Syekh Muhammad al-madani mengatakan bahwa asuransi itu hukumnya menurut syara’ boleh, sebab premi (iuran) asuransi itu diinventasikan dan bermanfaat untuk tolong-menolong. Dengan demikan pula sahabat al-Madani Ustadz Ahmad Thoha as-Sanusi, salah satu cendikiawan di Al-Azhar Mesir, mengatakan hal yang sama.[2]


[1] Dr. H. Hamzah Ya’qub, “Kode Etik Dagang Menurut Islam”,….. h: 295-299

[2] Ir. Muhammad Syakir Sula, “Asuransi Syariah”,…..h:71-75

[3] Drs. Musthafa Kamal Pasha, “Fikih Islam”, (Yogyakarta: Citra Karsa Mandiri, 2003), h: 390

[4] Prof. Dr. Ahmad Rodoni, “Inventasu Syariah” (Jakarta: Lembaga Penelitian UIN, 2009), h: 150-151

Diterbitkan di: 09 April, 2012   
Mohon dinilai : 1 2 3 4 5
Terjemahkan Kirim Link Cetak
X

.