Cari
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Create a Shvoong account from scratch

Already a Member? Masuk!
×

Masuk

Sign in using your Facebook account

OR

Not a Member? Daftarkan diri!
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Masuk

Sign in using your Facebook account

Halaman Utama Shvoong>Ilmu Sosial>Pendidikan>Pengembangan Model Supervisi

Pengembangan Model Supervisi

oleh: DionThohiron     Pengarang : NN
ª
 

Yang dimaksud dengan model dalam uraian ini ialah suatu pola, misalnya : acuan dari supervisi yang diterapkan. Ada empat model pengembangan dalam supervisi yang berkembang saat ini, yaitu :

1. Model Supervisi yang Konfensional (tradisional)

Model ini tidak lain dari refleksi kondisi masyarakat pada suatu saat. Pada saat kekuasaan yang otoriter dan feodal, akan berpengaruh pada sikap pemimpin yang otrokrat dan korektif. Pemimpin cenderung untuk mencari-cari kesalahan. Perilaku supervisi ialah mengadakan inspeksi untuk mencari kesalahan dan menemukan kesalahan. Kadang-kadang bersifat memata-matai (snoopervision). Atau sering disebut supervisi yang korektif. Lebih sulit untuk melihat segi-segi positif dalam hubungan dengan hal-hal baik dari pada hanya mengoreksi kesalahan orang lain.

Menurut Briggs, jika adanya supervisor hanya ditujukan untuk mencari kesalahan maka dianggap menjadi pemulaan yang tidak berhasil. Karena hanya mencari-cari kesalahan dalam membimbing adalah betentangan dengan prinsip dan tujuan supervisi pendidikan. Akibatnya guru-guru merasa tidak puas dan ada dua sikap yang tampak dalam kinerja guru : acuh tak acuh (masa bodoh) dan menantang (agresif).

2. Model Supervisi yang Bersifat Ilmiah

Supervisi yang bersifat ilmiah memiliki ciri-ciri sebagai berikut :

a) Dilaksanakan secara berencana dan kontinu

b) Sistematis dan menggunakan prosedur serta teknik tertentu

c) Menggunakan teknik pengumpulan data.

d) Ada data yang objektif yang diperoleh dari keadaan yang riil.

Dengan menggunakan merit rating, skala penilaian atau check list para siswa atau mahasiswa menilai proses kegiatan belajar-mengajar guru/dosen di kelas. Hasil penelitian diberikan kepada guru-guru sebagai balikan terhadap penampilan mengajar guru pada semester yang lalu. Data ini tidak berbicara kepada guru dan guru yang mengadakan perbaikan. Penggunaan alat perekam data ini berhubungan erat dengan penelitian. Walaupun demikian, hasil perekam data secara ilmiah belum merupakan jaminan untuk melaksanakan supervisi yang lebih manusiawi.[1]

3. Model Supervisi Klinis

Richard Waller memberikan definisi tentang supervisi klinis sebagai berikut: Supervisi klinis adalah bentuk supervisi yang difokuskan pada peningkatan mengajar dengan melalui siklus yang sistematis dalam perencanaan, pengamatan serta analisis yang intensif dan cermat tentang penampilan mengajar yang nyata, serta bertujan mengadakan perubahan dengan cara rasional

Keith Archeson dan Meredith D. Gall mengemukakan bahwa Supervisi Klinis adalah proses membantu guru-guru memperkecil kesenjangan antara tingkah laku mengajar yang nyata dengan tingkah laku yang ideal.

Dari kedua definisi tersebut di atas, John J. Bolla menyimpulkan Supervisi Klinis adalah suatu proses pembimbingan dalam pendidikan yang bertujuan membantu pengembangan professional guru, khususnya dalam penampilan mengajar, berdasarkan observasi dan analisis data secara teliti dan objektif[2].

Beberapa ciri Supervisi Klinis:

a) Dalam supervisi klinis, bantuan yang diberikan bukan bersifat intruksi atau memerintah. Tetapi tercipta hubungan manusiawi, sehingga guruguru memiliki rasa aman. Dengan timbulnya rasa aman diharapkan adanya kesediaan untuk menerimam perbaikan.

b) Apa yang akan disupervisi itu timbul dari harapan dan dorongan dari guru sendiri karena dia memang membutuhkan bantuan itu.

c) Satuan tingkah laku mengajar yang dimiliki guru merupakan satuan yang terintegrasi. Harus dianalisa sehingga terlihat kemampuan apa, keterampilan apa yang spesifik yang harus diperbaiki.

d) Suasana dalam pemberian supervisi adalah suasana yang penuh kehangatan, kedekatan, dan keterbukaan.

e) Supervisi yang diberikan tidak saja pada keterampilan mengajar tapi juga mengenai aspek-aspek kepribadian duru, misalnya motivasi terhadap gairah mengajar.

4. Model Supervisi Artistik

Mengajar adalah suatu pengetahuan (knowledge), mengajar itu suatu keterampilan (skill), tapi mengajar juga suatu kiat (art). Sejalan dengan tugas mengajar supervisi juga sebagai kegiatan mendidik dapat diakatakan bahwa supervisi adalah suatu pengetahuan, suatu keterampilan dan juga suatu kiat.

Supervisi itu menyangkut bekerja untuk orang lain, bekerja dengan orang lain, bekerja melalui orang lain, dalam hubungan bekerja dengan orang lain maka suatu rantai hubungan kemanusiaan adalah unsur utama. Hubungan manusia dapat tercipta bila ada kerelaan untuk menerimam orang lain sebagaimana adanya. Hubungan itu dapat tercipta bila ada unsur kepercayaan. Saling mengerti saling menghormati, saling mengakui, saling menerima seorang sebagaimana adanya. Hubungan tampak melalui pengungkapan bahasa, yaitu supervisi lebih banyak menggunakan bahasa penerimaan ketimbang bahasa penolakan (Thomas Gordon, 1985). Supervisor yang mengembangkan model artistik akan menampak dirinya dalam relasi dengan guru-guru yang dibimbing sedemikian baiknya sehingga para guru merasa diterima. Adanya sikap seperti mau belajar mendengarkan perasaan orang lain, mengerti orang lain dengan problema-problema yang dikemukakan, menerima orang lain sebagaimana adanya, sehingga menjadi dirinya sendiri. Itulah supervisi artistik.

Dalam bukunya Supervision of Teaching, Sergiovanni Th.J, menyamakan beberapa ciri yang khas tentang model supervisi yang artistik, antara lain:

a) Supervisi yang artistik memerlukan perhatian agar lebih banyak mendengarkan daripada banyak berbicara

b) Supervisi artistik memerlukan tingkat pengetahuan yang cukup/keahlian khusus, untuk memahami apa yang dibutuhkan seseorang yang sesuai dengan harapannya.

c) Supervisi yang artistik sangat mengutamakan sumbangan yang unik dari guru-guru dalam rangka mengembangkan pendidikan bagi generasi muda.

d) Model artistik terhadap supervisi, menuntut untuk memberi perhatian lebih banyak terhadap proses kehidupan kelas dan proses itu diobservasi sepanjang waktu tertentu, sehingga diperoleh peristiwa-peristiwa yang signifikan yang dapat ditempatkan dalam konteks waktu tertentu

e) Model artistik terhadap supervisi memerlukan laporang yang menunjukkan bahwa dialog antara supervisor yang supervisi dilaksanakan atas dasar kepemimpinan yang dilakukan oleh kedua belah pihak.

Diterbitkan di: 04 Maret, 2012   
Mohon dinilai : 1 2 3 4 5
Terjemahkan Kirim Link Cetak
X

.