Cari
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Create a Shvoong account from scratch

Already a Member? Masuk!
×

Masuk

Sign in using your Facebook account

OR

Not a Member? Daftarkan diri!
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Masuk

Sign in using your Facebook account

Halaman Utama Shvoong>Ilmu Sosial>Pendidikan>Sejarah dan Latar Belakang Pendidikan Integral

Sejarah dan Latar Belakang Pendidikan Integral

oleh: penulissuksesssss     Pengarang : muhammad
ª
 
Gagasan kemunculan pendidikan integral dilatar belakangi situasi
krisis tradisi keilmuan dunia Islam.Bagaimana tidak, setelah keruntuhan
dinasti Abbasiyah di Timur Tengah tradisi keilmuan Islam mengalami
kemajuan ilmu pengetahuan sekaligus keruntuhannya menandai kemerosotan
besar.7Periodesasi dalam sejarah Islam telah mencatat beberapa prestasi besar
yang ditorehkan yaitu proyek besar penerjemahan literatur naskah Yunani
kedalam bahasa Arab, pembiayaan terhadap para pakar untuk melakukan riset
baik geografi, astronomi, kedokteran, teologi, kesusteraan dan
filsafat.Masyarakat Islam saat itu sangat menerima masuknya ilmu-ilmu asing
yang berasal dari tradisi hellenistik ke dalam kurikulum pendidikan Islam dan
dikembangkan melalui halaqah-halaqah pribadi atau perpustakaanperpustakaan
seperti Dâr al-Hikmah dan Bait al-Hikmah.Transformasi ilmu
asing ini terjadi melalui penerjemahan, penelitian, kajian dan diskusi yang
dilakukan ulama khususnya pada masa Abbasiyah
Dalam perjalanannya, pergantian dari Dinasti ke Dinasti hanya
memperpanjang mata rantai keruntuhan peradaban sekaligus tradisi keilmuan
Islam.Masa keruntuhan peradaban Islam ini adalah masa pemerintahan tiga
kerajaan sekaligus, yaitu Kerajaan Usmani di Turki (1282-1924 M), Kerajaan
Safawi di Persia (1501-1732 M) dan Kerajaan Mughal di India (1526-1858
M).Meski demikian, tiga imperium Islam tersebut menempati ruang
keruntuhan peradaban Islam sehingga tidak memiliki prestasi pengembangan
ilmu pengetahuan secara signifikan.
Puncaknya, sejarah Islam memasuki periodesasi modern yang ditandai
dengan penetrasi Barat atas dunia Islam.Ekspedisi Napoleone Bonaparte
(Wafat 1821 M) ke Mesir memberi implikasi signifikan bagi kehidupan
masyarakat Islam khususnya rakyat Mesir saat itu.Tujuan utama kehadiran
ekspedisi tersebut adalah strategi politik kebijakan pemerintah Prancis yang
ingin menjadikan Mesir sebagai basis operasi militer dalam menghadapi
Inggris yang saat itu berkuasa di India.
.... Mereka (Perancis) membentuk sebuah lembaga ilmiah yang
bernama “Institute d’ egypte”, yang terdiri atas empat bidang kajian, yaitu
ilmu pasti, ilmu alam, ekonomi-politik dan sastra seni. Lembaga ini juga
menerbitkan suatu publikasi yang bernama La Decade Egyupteinne dan
sebuah majalah yang bernama La Courrie d’ Egypte, sehingga dengan ini
rakyak Mesir untuk pertama kalinya mengenal percetakan, majalah dan
surat kabar.10
Periodesasi ifiltrasi Barat terhadap dunia Islam telah membuka mata
dunia tentang kawasan Timur tengah yang memiliki sumber daya alam
besar.Negara kolonial yang berhasil memasukkan pengaruhnya kali pertama
ada Prancis di daratan Mesir, selain itu hadir juga musuh Perancis yaitu,
Kolonial Inggris.Dengan demikian, memasuki periode modern dunia Islam
nampaknya belum bisa bangkit dari keterpurukan baik politik, ekonomi,
maupun ilmu pengetahuan.Sebaliknya, peradabaan Islam kian terpuruk
seiring dengan kanal politik internal masing-masing negara Timur Tengah
setelah kemerdekaan bangsa Arab dari cengkerama Kolonial Barat.Lebih
jauh, upaya bangkit dari keterpurukan yang di inisiasi kelompok tertentu kian
menambah konflik faksional di Arab.Oleh sebab itu, muncul beberapa
gerakan yang mencoba menghadirkan gagasan persatuan dunia Arab yang
salah satu tujuannya adalah melepas diri dari pengaruh politik faksional dan
Barat.11Selain itu, motivasi gerakan “Pan Islamisme” yang di usung kalangan
negara Arab adalah mengembalikan kejayaan peradaban Islam pada periode
klasik. Perjalanan sejarah Islam (Timur) kian nampak mengalami
kemunduran besar bila dibandingkan dengan sejarah Barat.Keunggulan Barat
kian nampak dalam mewarnai sejarah praktek kolonialisasi memasuki periode
modern (Abad 20).Barat telah mampu mengembangkan kemampuan
teknologi dan ilmu pengetahuan jauh lebih maju ketimbang Timur, sehingga
menempatkan mereka pada keemasan peradaban (advantagesof
civilization).Lebih jauh, paska kemerdekaan negara-negara Arab sulit
melepas hegemoni negara adidaya Barat.Oleh sebab itu, muncul gerakan baru
yang menghadirkan gagasan mengembalikan kejayaan Islam kontemporer
pada masa keemasan peradaban. Bukan hanya kalah dalam hal politik dan
ekonomi an sich, melainkan juga pada ranah yang paling vital pengembangan
peradaban yaitu ilmu pengetahuan.
Fakta peradaban demikian mendorong kalangan Muslim moderat
berfikir ulang tentang cara pandang (paradigm) yang selama ini menjadi
kontruksi nalar Arab. Seperti yang diurai A. Lutfhi Assyaukanie sebagai
berikut:
Sekitar tahun 1967 dianggap sebagai "penggalan" (qathi'ah) dari
keseluruhan wacana Arab modern, sebab pada periode tersebut masyarakat
mulai merubah cara pandang terhadap masalah sosial-keagamaan dan
dposisi mereka semestinya. Hal ini didorong atas pukulan telak negara
Arab atas Israel. Inilah awal mula apa yang dinamakan kritik-diri yang
kemudian direfleksikan dalam wacana-wacana keilmiahan, baik dalam
fora akademis maupun literatur-literatur ilmiah lainnya....... Langkah
pertama yang dilakukan oleh para intelektual Arab adalah menjelaskan
sebab-sebab kekalahan (tafsir al-azmah) tersebut. Di antara sebab-sebab
yang paling signifikan adalah masalah cara pandang orang Arab kepada
budaya sendiri dan kepada capaian modernitas. Karena itu, pertanyaan
yang mereka ajukan adalah; bagaimana seharusnya sikap bangsa Arab
dalam menghadapi tantangan modernitas dan tuntutan tradisi?
Meski perlahan, pola dan cara pandang demikian dianggap sebagai
permulaan kebangkitan peradaban Islam. Intelektual Arab mulai menafsir
ulang tentang posisi Tradisi (tsurats) dengan keniscayaan Modernitas
(Modern).Sebagaimana telah dipaparkan diatas, implikasi signifikan arus
modernisasi yang digawangi Barat ternyata memberi pengaruh penting dalam
perkembangan tradisi pemikiran di Arab, salah satu yang menjadi fokus
utama adalah tentang “Nalar Arab” (al Aql Araby).13Capaian yang
menakjubkan adalah sikap intelektual Arab dalam mengapresiasi modernisasi
dan bagaimana mereka memposisikan tradisi sebagai bagian integral hidup
masyarakat Arab.Gagasan utama digulirkan dalam praktek wacana ini
merupakan respon terhadap pola berfikir dikotomis yang terjadi akibat
common sense kemunduran peradaban Islam, sebaliknya peradaban Barat
mengalami perkembangan pesat. Akhirnya bukan hanya soal peradaban an
sich yang mengalami proses kanalisasi dikotomis, melainkan juga merambah
hingga perkembangan ilmu pengetahuan.
Senada dengan itu, bagi Al-Faruqi bahwa pendikotomian ilmu ini
merupakan simbol kejatuhan umat Islam. Dikotomi keilmuan sebagai
penyebab kemunduran berkepanjangan umat Islam sudah berlangsung sejak
abad ke-16 hingga abad ke-17 yang dikenal sebagai abad stagnasi pemikiran
Islam.Dikotomi ini pada kelanjutannya berdampak negatif terhadap kemajuan
Islam.14Dalam perkembangannya, pemikiran Islam tidak mampu
menunjukkan prospek yang gemilang, sebaliknya beberapa negara Islam
justru terpuruk dalam kubangan stagnasi pemikiran.Alih-alih mampu
menghadapi modernitas yang di usung Barat, justru sikap ekslusif (menutup
diri) mewarnai lanskap kehidupan masyarakat Arab dua dekade terakhir.
Lebih jauh, implikasi dari cara pandang dikotomik tersebut justru
mengantarkan pada faktor yang menghambat perkembangan peradaban Islam.
Adapun faktor yang menghambat perkembangan keilmuan Islam salah
satunya adalah kemunculan Fundamentalisme Agama.15Dalam prakteknya,
gerakan yang marak ini tidak apresiatif terhadap modernitas dan cenderung
membangun nalar dikotomis.
Diterbitkan di: 05 Februari, 2012   
Mohon dinilai : 1 2 3 4 5
  1. Menjawab   Pertanyaan  :    mana latar belakang integral nya Lihat semua
Terjemahkan Kirim Link Cetak
X

.