Cari
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Create a Shvoong account from scratch

Already a Member? Masuk!
×

Masuk

Sign in using your Facebook account

OR

Not a Member? Daftarkan diri!
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Masuk

Sign in using your Facebook account

Halaman Utama Shvoong>Ilmu Sosial>Pendidikan>Model – model penyelenggaraan RSBI

Model – model penyelenggaraan RSBI

oleh: penulissuksesssss     Pengarang : atsarotulm
ª
 
Berdasarkan kenyataan dilapangan, maka terdapat model
penyelenggaraan RSBI, dimana suatu daerah atau sekolah penyelenggara
dapat memilih salah satunya sesuai dengan kebutuhan, kekhasan,
keunikan, dan kemampuan yang dimiliki oleh setiap sekolah, baik untuk
sekolah baru atau pengembangan. Model – model penyelenggaraan RSBI
antara lain:
a. Model terpadu atau satu atap satu sistem (SATAP - SATEM)
Yaitu penyelenggaraan RSBI pada jenjang SMP didalam satu
lokasi dengan sistem pengelolaan pendidikan yang sama. Model ini
bisa dipimpin oleh seorang direktur / manajer yang
mengkoordinasikan tiga kepala sekolah pada tiap satuan pendidikan
(SD-SMP-SMA) dalam satu lokasi / tempat, syaratnya prasarana dan
sarana tetap sesuai dengan IKKM (indikator kerja kunci minimum),
khususnya tanah minimal 6 ha, 1 ha untuk SD dan SMP 5 ha.
Hal ini biasanya dilakukan oleh suatu lembaga atau yayasan,
dimana yayasan itu mempunyai pengasuh atau kepala yayasan yang
mempunyai sekolah SD, SMP, dan SMA yang menjadi tanggung
jawabnya sehingga secara otomatis kepala yayasan itu sekaligus
menjadi koordinator. Contohnya: di yayasan Takmiriyah.
b. Model terpisah – satu sistem – beda atap
Yaitu penyelenggaraan RSBI SMP dilokasi yang berbeda atau
terpisah dengan menggunakan sistem pengelolaan pendidikan yang
sama.
Model ini dilaksanakan apabila sekolah tersebut menggunakan
sistem pengelolaan yang sama tetapi dilokasikan sekolah yang
berbeda. Hal ini dilakukan karena sekolah tersebut mempunyai cabang
sekolah yang berada dilokasi yang berbeda.
c. Model terpisah – beda sistem – beda atap
Yaitu penyelenggaraan RSBI SMP dilokasi yang berbeda –
beda (terpisah) dengan sistem pengelolaan pendidikan yang berbeda –
beda juga.
Model ini dilaksanakan untuk menjadi SBI tetapi dengan
sistem pengelolaan yang berbeda antara satu sekolah dengan sekolah
yang lainnya dengan maksud yang sama menjadi SMP – SBI tetapi
lokasi dan sistemnya berbeda. Misalnya: SMP Negeri 1 Sidoarjo
dengan SMP Negeri 1 Sedati. Sekolah ini sama – sama RSBI tetapi
lokasi dan sistem pengelolaannya berbeda.
d. Model Entry Exit
Yaitu penyelenggaraan RSBI pada jenjang pendidikan dasar
dan menengah dengan cara mengelola kelas – kelas regular dan kelas
bertaraf Internasional.
Pada model ini dimana sekolah hanya menerapkan beberapa
kelas saja yang akan dijadikan kelas bertaraf Internasional, dimana
kelas tersebut mendapatkan sistem pengajaran yang berbeda dengan
kelas biasa, hal ini terjadi biasanya untuk mengukur kesuksesan satu
kelas terlebih dahulu atau adanya keterbatasan dana, tenaga pengajar,
dan sarana prasarana.
e. Model Newey Developed SBI – SMP
Yaitu model adopsi dengan asumsi bahwa untuk menjadikan
Rintisan sekolah Bertaraf internasional (RSBI) segala –galanya yang
bertaraf internasional, mulai dari siswa, kurikulum, guru, kepala
sekolah, sarana prasarana, dana dan sebagainya.
Model ini dilaksanakan apabila sekolah tersebut mengadopsi
system SBI luar negeri mulai dari buku pelajaran yang digunakan,
sarana prasarananya, tenaga pendidiknya, dan dari kurikulum yang
dipakai juga sama dengan sekolah yang menjadi acuan adopsinya.
Contohnya: SMP dan SMA Ammanatul Ummah yang ada di
Siwalankerto Surabaya yang mengadopsi sistem pengelolaan dari
Arab, agar murid atau anak didiknya dapat diterima di Al-Azhar atau
Luar negeri.
f. Model pengembangan (existing Developed) RSBI
Yaitu dengan mengembangkan sekolah yang telah ada,
khususnya sekolah yang mutunya bagus.
Model pengembangan ini biasanya dipakai untuk sekolah –
sekolah yang memang telah diakui mutu dan kualitasnya, sehingga
pihak sekolah hanya perlu mengembangkan sistem pendidikannya
agar menjadi SBI, model mengembangkan ini dilakukan oleh sekolah
Al- Hikmah Surabaya.
g. Model Kemitraan
Model ini bisa sekolah yang sudah ada atau sekolah baru
dengan menjalin kerjasama / mitra dengan salah satu sekolah diluar
negeri / Negara maju yang telah memiliki reputasi internasional.
Model ini dilakukan oleh sekolah yang menjalin kerjasama
dengan pihak sekolah diluar negeri yang telah menjadi SBI.
Diterbitkan di: 04 Februari, 2012   
Mohon dinilai : 1 2 3 4 5
Terjemahkan Kirim Link Cetak
X

.