Cari
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Create a Shvoong account from scratch

Already a Member? Masuk!
×

Masuk

Sign in using your Facebook account

OR

Not a Member? Daftarkan diri!
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Masuk

Sign in using your Facebook account

Pengertian Konflik

oleh: penulissuksesssss     Pengarang : sefifariha
ª
 
Seseorang mempunyai asumsi atau pendapat yang berbeda mengenai
konflik. Asumsi tersebut dipengaruhi oleh berbagai faktor, seperti budaya,
agama, pendidikan, pengalaman mengahadapi konflik, jenis kelamin, dan
sebagainya. Secara umum, asumsi orang dapat dikelompokkan menjadi tiga
jenis, yaitu konflik buruk dan merusak; konflik netral, tidak baik dan tidak
buruk, serta sesuatu yang baru. Asumsi orang mengenai konflik memengaruhi
gaya manajemen konflik orang ketika menghadapi situasi konflik. Apalagi
pada seorang anak didik, karena pada usia-usia sekolah anak lebih cenderung
menggunakan emosi terlebih dahulu.
Banyak orang juga berpendapat bahwa konflik merupakan sesuatu
yang buruk, negative, dan merusak. Oleh karena itu, konflik harus dicega dan
dihindari. Stephen P. Robbins (1992) menyebut asumsi ini sesuatu yang
merusak mengasosiasikan konflik dengan sesuatu yang negative, antara lain
sebagai berikut:
a. Konflik buruk. konflik menimbulkan sesuatu yang buruk, seperti
pertentangan, kompetisi, perkelahian, perang, dan sebagainya.
b. Konflik merusak. Konflik merusak keharmonisan hidup dan hubungan
baik antarmanusia, keselarasan, serta keseimbangan hidup dan interaksi
sosial antar manusia.
c. Konflik sama dengan kekerasan dan agresi. Konflik mengarah kepada
kebencian, kekerasan, agresi, perkelahian, dan perang.
d. Konflik emosional dan irasional. Konflik dapat membuat orang menjadi
emosional dan irasional; membuat orang merasa bahwa dirinya sendiri
yang benar dan lawan konfliknya salah, tanpa mempertimbangkan fakta
dan data yang ada.
e. Konflik merupakan penyebab stres dan frustasi. Pihak-pihak yang terlibat
konflik akan mengalami stres dan frustasi sehingga mempengaruhi fisik
dan kejiwaan seorang anak.
f. Konflik sama dengan perang, agresi, kehancuran, dan penderitaan
manusia. Konflik destruktif sama dengan perang. Dimana terjadi saling
menyerang dan agresi.
g. Konflik ancaman. Bagi pihak yang terlibat konflik, konflik merupakan
ancaman dari lawan konflik yang berupaya untuk mengalahkannya.
Apabila kalah saat terlibat konflik, maka akan kehilangan apa yang
diimpikannya.
Seseorang yang berasumsi bahwa konflik adalah buruk dan merusak,
maka ia akan berupaya untuk menghindari dan mencegah terjadinya
konflik. Caranya dengan menghilangkan penyebab terjadinya konflik,
yaitu dengan menghindari penyebab konflik dan menindas penyebab
konflik tersebut jika suatu konflik akan terjadi dan telah terjadi.
Konflik juga diartikan sebagai suatu proses sosial antara dua orang
atau lebih (bisa juga kelompok) di mana salah satu pihak berusaha
menyingkirkan pihak lain dengan menghancurkannya atau membuatnya tidak
berdaya. Konflik dilatarbelakangi oleh perbedaan di antaranya adalah: Ras,
kepandaian, pengetahuan, adat istiadat, keyakinan dan sebagainya. Dengan
cirri-ciri individual dalam interksisosial, konflik merupakan situasi yang wajar
dalam setiap manusia dan semua manusiapun pernah mengalami konflik antar
anggotanya atau dengan kelompok lainnya.
Clinton F. Fink mendefinisikan tentang konflik, sebagaimana dikutip
oleh Kartini Kartono, konflik adalah relasi-relasi psikologis yang antagonis,
berkaitan dengan tujuan-tujuan yang tidak biasa di sesuaikan interes-interes
yang eksklusif dan tidak dapat ditemukan, sikap-sikap emosional yang
bermusuhan dan struktur nilai yang berbeda. Secara perilaku konflik dapat
berupa perlawanan halus, tersembunyi, terkontrol, tidak langsung atau sampai
pada perilaku yang berbentuk perlawanan terbuka, dan sikap ekstrim
lainnya.
Keberadaan konflik selama ini dibatasi pada peristiwa-peristiwa yang
dianggap sudah benar-benar ekstrim dalam artian konflik sudah berada pada
kondisi emosional yeng memuncak, konflik dapat diartikan sebagai situasi
yang sangat menganggu kestabilan organisai atau sebuah lembaga.
Konflik dan pertikaian adalah hal yang tidak terhindarkan didalam tiap
kelompok sosial. Adapun pengertian kata konflik itu sendiri banyak,
diantaranya adalah, Menurut Lewis A.Caser yaitu perselisihan mengenai nilainilai
atau tuntutan berkenaan dengan status, kuasa, dan sumber-sumber lain
yang berselisish tidak hanya bermaksud untuk memperoleh barang yang
diinginkan, melainkan juga memojokkan, merugikan dan menghancurkan
lawan mereka, dikatakan pula bahwa perselisisan atau konflik dapat
berlangsung antar individu-individu, kelompok-kelompok atau antar individu
dengan kelompok.
Konflik juga dapat diterjemahkan sebagai aposisi, interaksi yang
antagonis, benturan antara macam-macam paham, perselisihan, perlawanan,
maupun perang. Konflik merupakan sesuatu yang tidak menyenangkan, akan
tetapi merupakan hal yang wajar terjadi. Didalam hubungan yang berlangsung
lama, konflik mempunyai peranan tertentu yang dapat memperkaya suatu
hubungan.
Konflik mempunyai cara untuk mengarahkan dirinya sendiri.
Terjadinya konflik dalam setiap proses pendidikan merupakan sesuatu hal
yang tidak dapat dihindarkan, hal ini karena di satu sisi orang-rang yang
terlibat dalam konflik mempunyai karakter, tujuan, visi maupun gaya yang
berbeda. Disisi lain adanya saling ketergantungan antara satu dengan yang
lain yang menjadi karakter setiap lembaga. Tidak semua konflik merugikan
sebuah lembaga. Konflik yang ditata dan dikendalikan dengan baik dapat
menguntungkan lembaga tersebut sebagai suatu kesatuan. Dalam menata
konflik dalam dunia pendidikan diperlukan keterbukaan, kesabaran serta
kesadaran semua pihak yang terlibat maupun yang berkepentingan dengan
konflik yang terjadi dalam sebuah lembaga tersebut.
Diterbitkan di: 02 Februari, 2012   
Mohon dinilai : 1 2 3 4 5
Terjemahkan Kirim Link Cetak
X

.