Cari
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Create a Shvoong account from scratch

Already a Member? Masuk!
×

Masuk

Sign in using your Facebook account

OR

Not a Member? Daftarkan diri!
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Masuk

Sign in using your Facebook account

Halaman Utama Shvoong>Ilmu Sosial>Pendidikan>Implikasi Model Pembelajaran Konstruktivisme

Implikasi Model Pembelajaran Konstruktivisme

oleh: yusfy0527     Pengarang : Edi Widi
ª
 

Implikasi model pembelajaran konstruktivisme dalam pembelajaran meliputi empat tahapan, yaitu:

Apersepsi

Dalam tahap ini, siswa didorong untuk mengungkapkan pengetahuan awal tentang konsep yang akan dibahas. Di sini guru dapat memberikan pertanyaan-pertanyaan problematik tentang fenomena yang sering ditemui sehari-hari dengan mengkaitkan konsep yang akan dibahas dan siswa diberi kesempatan untuk mengkomunikasikan, mengilustrasikan pemahamannya tentang konsep itu.

Eksplorasi

Di tahap ini, siswa diberi kesempatan untuk menyelidiki dan menemukan konsep melalui pengumpulan, pengorganisasian, dan penginterpretasian data dalam suatu kegiatan yang telah dirancang pendidik serta secara berkelompok didiskusikan dengan kelompok lain.

Diskusi dan penjelasan konsep

Saat siswa memberi penjelasan dan solusi yang didasarkan pada hasil observasinya ditambah dengan penguatan pendidik, maka siswa membangun pemahaman baru tentang konsep yang sedang dipelajari.

Pengembangan dan aplikasi

Guru berusaha menciptakan iklim pembelajaran yang memungkinkan siswa dapat mengaplikasikan pemahaman konseptualnya, baik melalui kegiatan atau pemunculan dan pemecahan masalah-masalah yang berkaitan dengan isu-isu di lingkungannya.

Widodo (2004) menyimpulkan bahwa ada lima unsur penting dalam lingkungan pembelajaran yang konstruktivis, yaitu:

a. Memperhatikan dan memanfaatkan pengetahuan awal siswa

Kegiatan belajar ditujukan untuk membantu siswa dalam mengkonstruksi pengetahuan. Siswa didorong untuk mengkonstruksi pengetahuan baru dengan memanfaatkan pengetahuan awal yang dimilikinya.

b. Pengalaman belajar yang otentik dan bermakna

Segala kegiatan yang dilakukan di dalam pembelajaran dirancang sedemikian rupa sehingga bermakna bagi siswa. Oleh karena itu dalam melakukan pembelajaran hendaklah yang dapat menimbulkan minat, sikap, dan kebutuhan belajar siswa.

c. Adanya lingkungan sosial yang kondusif.

Siswa diberi kesempatan untuk bisa berinteraksi secara produktif dengan sesama siswa maupun dengan guru. Selain itu juga ada kesempatan bagi siswa untuk bekerja dalam berbagai konteks sosial.

d. Adanya dorongan agar siswa bisa mandiri

Siswa didorong untuk bertanggung jawab terhadap proses belajarnya. Oleh karena itu, siswa dilatih dan diberi kesempatan untuk melakukan refleksi dan mengatur kegiatan belajarnya.

e. Adanya usaha untuk mengenalkan siswa tentang dunia ilmiah IPA bukan hanya produk (fakta, konsep, prinsip, teori), namun juga mencakup proses dan sikap. Oleh karena itu pembel- ajaran IPA harus bisa melatih dan memperkenalkan siswa tentang “kehidupan” ilmuwan.

Diterbitkan di: 21 Januari, 2012   
Mohon dinilai : 1 2 3 4 5
Terjemahkan Kirim Link Cetak
X

.