Cari
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Create a Shvoong account from scratch

Already a Member? Masuk!
×

Masuk

Sign in using your Facebook account

OR

Not a Member? Daftarkan diri!
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Masuk

Sign in using your Facebook account

Pengertian khiyar

oleh: rajayangsangatsukses     Pengarang : syabbulbac
ª
 
Suatu akad akan bersifat la>zim atau tidak ada ruang bagi salah satu
pihak untuk membatalkan akad, jika masih tedapat hak khiya>r bagi salah
satu pihak. Khiya>r ini memiliki makna, hak salah satu pihak yang
bertransaksi untuk meneruskan atau membatalkan sebuah akad. Tujuan umum
ditetapkannya khiya>r adalah untuk menjaga dan mewujudkan kerelaan antara
pihak yang melakukan transaksi, serta kesenangan pihak yang berakad
(pembeli) terhadap barang yang menjadi objek transaksi .
Menurut Ma>likiyah, khiya>r adalah suatu yang disyaratkan ketika
terjadinya akad dari penjual atau dari pembeli atau dari kedua belah pihak
untuk meneruskan jualbeli atau tidak. Lebih lanjut, khiya>r pada dasarnya
diadakan karena persyaratan yang disepakati oleh kedua pihak yang
melakukan akad, sehingga jika khiya>r tidak disyaratkan pada waktu
terjadinya akad, maka tidak ada khiya>r, meskipun khiya>r tersebut adalah
khiya>r majlis.
Untuk lebih jelasnya mengenai macam khiya>r adalah sebagai berikut;
1. Khiya>r majlis
Khiya>r majlis artinya antara penjual dan pembeli boleh memilih akan
melanjutkan jualbeli atau membatalkannya, selama keduanya masih ada
dalam satu tempat (majlis). Bila keduanya telah terpisah dari tempat
tersebut, maka khiya>r majlis tidak berlaku lagi. Dasar ketentuan khiya>r
ini adalah sabda Nabi Muhammad SAW. berikut:
الْبَيِّعَانِ بِالْخِيَارِ مَا لَمْ يَتَفَرَّقَا
"Penjual dan pembeli boleh melakukan khiya>r selama belum
berpisah".
Pendapat di atas adalah pendapat dari Sha>fi'iyyah dan H}ana>bilah.
Sedangan menurut H}anafiyyah dan Ma>likiyyah, bahwa jika telah terjadi
i>ja>b dan qabu>l, maka akad jual tersebut menjadi la>zim (tetap atau
mengikat), sehingga tidak ada khiya>r majlis. Hal ini didasarkan bahwa
Allah memerintahkan untuk menunaikan akad,103sedangkan khiya>r
tersebut justru menafikannya, dan orang yang membatalkan akad (dengan
melakukan khiya>r) adalah orang yang tidak menunaikan akad. Mereka
juga beralasan bahwa akad dapat terlaksana dengan adanya saling
kerelaan,104 dan kerelaan itu dapat terwujud dengan adanya i>ja>b dan
qabu>l, sehingga jika telah terdapat i>ja>b dan qabu>l maka akad
bersifat la>zim tanpa harus menunggu berakhirnya khiya>r majlis.
2. Khiya>r ta'yi>n
Khiya>r ta'yi>n adalah hak untuk menentukan bagi seorang yang
melakukan akad antara tiga macam objek transaksi yang berbeda baik
dalam segi harga maupun sifatnya yang telah disebutkan ketika akad.
Ketika ia telah menentukan satu pilihan maka jadilah barang yang dipilih
tersebut sebagai objek akad106. Sebagai contoh, seseorang membeli
pakaian dengan 3 macam pilihan, namun pembeli belum menentukan
pakaian yang akan menjadi pilihannya selama waktu 3 hari atau jangka
waktu tertentu. Dalam jangka waktu ini, pembeli berhak untuk memilih
salah satu pakaian dengan harga yang disepakati dengan penjual.
Menurut Sha>fi'iyyah dan H}ana>bilah, khiya>r ini hukumnya adalah
batal atau dilarang karena mengandung unsur jaha>lah dalam objek
transaksi. Berbeda menurut pendapat yang lebih diunggulkan di kalangan
H}anafiyyah. Akan tetapi H}anafiyyah menetapkan beberapa syarat
sebagai berikut;
a. Hak pilih hanya berlaku maksimal untuk 3 pilihan objek transksi.
Khiya>r tidak dapat terlaksana jika objek pilihan lebih dari tiga.
b. Barang-barang yang menjadi pilihan tersebut telah ditentukan
harganya masing-masing, sehingga yang tidak diketahui perbedaan
sifat barang tersebut. Jika barang-barang tersebut sama maka makna
khiya>r tidak ada. Selanjutnya, jika harga barang masing-masing
belum ditentukan maka berarti terdapat unsur jaha>lah
(ketidakjelasan). Sedangkan ketidakjelasan dalam harga dapat merusak
akad (fa>sid).
c. Jangka waktu yang disepakati tidak boleh lebih dari tiga hari. Jika
lebih dari tiga hari maka akad tersebut menjadi fa>sid.
Jika waktu telah usai maka jualbeli menjadi la>zim (mengikat), dalam
arti pembeli berkewajiban untuk memilih salah satu pilihan dan
menyerahkan harganya kepada penjual. Hak khiya>r ini bisa diwariskan.
Jika pembeli meninggal sebelum menentukan pilihannya, maka ahli
warisnya harus menentukan pilihan dan menyerahkan harganya setelah
jangka waktu berakhir. Berkahirnya khiya>r ta'yi>n ini, dapat dilakukan
dengan pernyataan langsung dari pembeli misalnya ia mengatakan "aku
menerima barang ini bukan yang lainnya". Juga dapat dilakukan dengan
suatu perbuatan yang menunjukkan bahwa pembeli telah menentukan
pilihan atas barang tertentu. Selain itu, berakhirnya khiya>r ini, dapat
terjadi jika salah satu objek rusak di tangan pembeli, dan jadilah barang
yang rusak tersebut sebagai objek akad yang menjadi pilihan dan harus
pembeli bayarkan harganya, sedangkan barang yang lain menjadi amanah
yang wajib ia kembalikan kepada penjual108.
3. Khiya>r Syarat
Khiya>r Syarat adalah hak untuk meneruskan atau membatalkan
transaksi bagi salah sau pihak atau keduanya dengan syarat dalam jangka
waktu tertentu. Penshari'atan khiya>r ini dimaksudkan untuk menghindari
penipuan dalam suatu transaksi.
Jumhu>r ulama sepakat bahwa jangka waktu yang disyaratkan
haruslah diketahui, jika tidak diketahui maka akad tersebut adalah fa>sid
menurut H}anafiyyah dan ba>til menurut Sha>fi'iyyah dan H}ana>bilah.
Sedangkan menurut Imam Ma>lik, diperbolehkan melakukan khiya>r
syarat tanpa memberi batasan jangka waktu.
Lebih lanjut menurut Sha>fi'iyyah dan H}anafiyyah, jangka waktu
yang disyaratkan tidak boleh lebih dari 3 hari. Sedangkan menurut
H}ana>bilah, jangka waktu tersebut sesuai dengan kesepakatan kedua
belah pihak yang bertransaksi dan boleh lebih dari 3 hari109.
4. Khiya>r 'aib
Merupakan hak untuk meneruskan atau membatalkan akad jualbeli
karena adanya unsur 'aib (cacat) yang terdapat pada objek akad. Dasar
penshari'atan khiya>r ini adalah h}adi>th Nabi sebagai berikut;
الْمُسْلِمُ أَخُو الْمُسْلِمِ لَا يَحِلُّ لِمُسْلِمٍ بَاعَ مِنْ أَخِيهِ بَيْعًا وَفِيهِ عَيْبٌ إلَّا بَيَّنَهُ لَهُ
"Orang muslim adalah saudaranya orang muslim. Tidak dihalalkan
bagi orang muslim untuk menjual kepada saudaranya dengan suatu
jualbeli yang di dalamnya terdapat 'aib kecuali apabila ia
menjelaskannya".
لَا يَحِلُّ لِأَحَدٍ أَنْ يَبِيعَ شَيْئًا إلَّا بَيَّنَ مَا فِيهِ ، وَلَا يَحِلُّ لِأَحَدٍ يَعْلَمُ ذَلِكَ إلَّا بَيَّنَهُ
"Tidak dihalalkan bagi seseorang menjual sesuatu kecuali ia
menjelaskan apa yang ada di dalamnya, dan tidak dihalalkan bagi
seseorang yang mengetahui hal tersebut ('aib) kecuali ia
menjelaskannya".
H}adi>th-h}adi>th tersebut menunjukkan larangan jualbeli yang di
dalamnya terdapat 'aib kecuali apabila 'aib tersebut dijelaskan. Dengan
demikian ketika terjadi tindakan tadli>s al-'aib (salah satu pihak
menyembunyikan 'aib yang terdapat dalam objek), maka dalam hal ini
berlaku ketentuan khiya>r 'aib. Ulama Hanafiyyah menyebutnya dengan
khiya>r al-ghubn
Diterbitkan di: 18 Januari, 2012   
Mohon dinilai : 1 2 3 4 5
Terjemahkan Kirim Link Cetak
X

.