Cari
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Create a Shvoong account from scratch

Already a Member? Masuk!
×

Masuk

Sign in using your Facebook account

OR

Not a Member? Daftarkan diri!
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Masuk

Sign in using your Facebook account

Halaman Utama Shvoong>Ilmu Sosial>Pendidikan>Metode memperoleh ilmu pendidikan Islam

Metode memperoleh ilmu pendidikan Islam

oleh: rajayangsangatsukses     Pengarang : risidin
ª
 
a. Metode Empirik
Dalam al-Qur’a@n ada beberapa ayat yang menyuruh manusia
menggunakan indera-inderanya dalam mencari kebenaran. (29: 20; 10: 101;
88: 17; 26: 7). Dalam Ayat-ayat ini, pengamatan dan penglihatan (visi)
menyiratkan arti “melihat dengan bantuan penalaran yang benar”. Dalam
sejumlah kasus, eksperimen praktis tertentu disebutkan sebagai alat
mendapatkan pengetahuan: a) Lewat seekor burung gagak, Allah mengajari
Qa@bil bagaimana menguburkan mayat (5: 31); b) Tuhan mengajari manusia
bijak mengenai kemungkinan memberikan kehidupan baru kepada yang
mati (2: 259); c) Tuhan menunjukkan kepada Ibra@him bagaimana Dia
menghidupkan yang mati (2: 260).
M. Suyudi secara spesifik menjelaskan bahwa keberadaan metode
empirik dalam al-Qur’a@n mengacu pada 6 term, yaitu: khibrah, ‘ibrah atau
i‘tiba@r, dira@sah, ru’yah, naz}ar, dan bas}ar.
Dalam konteks pendidikan, khibrah adalah ma‘rifah terhadap yang
ada atau ma‘rifah yang diperoleh dari percobaan. ‘Ibrah atau i’\‘tibar adalah
orang yang tidak melihat secara langsung, mengambil pelajaran (i’\‘tibar)
dari peristiwa yang dialami oleh orang lain. Dira@sah lebih dominan
didasarkan pada hafalan dan ingatan. Ru’yah lebih didominasi oleh
pemfungsian daya lihat, baik dengan indra maupun dengan akal. Naz}ar
didasarkan pada pemfungsian mata yang diiringi dengan pengamatan /
analisa. Bas}ar berarti penglihatan secara inderawi, sedangkan bas}i@rah
adalah penglihatan batin / intuisi. Sehingga bas}ar ini lebih didasarkan pada
kasat penglihatan. 131 Salah satu wujud metode empirik adalah pengamatan
(observasi) dan percobaan (eksperimen). al-Qur’a@n dalam berbagai ayatnya
senantiasa mendesak manusia untuk mengadakan observasi terhadap
ciptaan-Nya (al-A‘ra@f: 185; Yu@suf: 105; ‘Ali Imra@n: 191).
b. Metode Logik
Hasil penelitian M. Suyudi tentang term yang mengacu pada metode
logic ini ada 5, yaitu: tafakkur, ta’aqqul, tadabbur, dira@yah dan tafaqquh.
Dalam konteks ilmu pendidikan, tafakkur didasarkan pada pengembaraan
potensi piker sesuai dengan kapasitas yang dimiliki oleh anak didik, dan
potensi ini yang nantinya mendorong untuk mencapai pengetahuan yang
didasarkan pada pengetahuan yang dimiliki. Ta’aqqul merupakan
pengintegrasian antara pikiran dan perbuatan, sehingga hawa nafsu bisa
terkendali sesuai dan berfungsi sejalan dengan pikiran. Tadabbur dilakukan
dengan merespon sesuatu yang dilakukan dengan memperhatikan segala
konsekuensinya. Dira@yah terlebih dahulu diberi penjelasan atau didasarkan
pada pengetahuan yang telah ada. Tafaqquh dilakukan dengan penelaahan
secara mendalam melalui realitas yang ada.
al-Qur’a@n memotivasi untuk memberdayakan kemampuan akal: a)
Ayat-ayat yang memotivasi untuk naz}ar (‘Abasa: 24; al-T}a@riq: 5); b) Ayatayat
yang mengajak untuk tabas}s}ur, yang pengamatan rasional (naz}ar
‘aqli), ada 148 ayat (al-Dha@riya@t: 21) c) Tadabbur, 4 ayat, semuanya
berkaitan dengan tadabbur terhadap al-Qur’a@n (S}a@d: 29); d) Tafki@r, 16 ayat,
berkaitan dengan memikirkan segala z}ahir wujud, baik ayat-ayat
kawniyyah, jiwa, maupun dalil-dalil atas ketauhidan dan kebenaran
teruturnya Nabi Muh}ammad Saw. (al-Nah}l: 10-11; Ali ‘Imra@n: 190-191); e)
I‘tibar, 7 ayat, (al-Hashr: 3); f) Tafaqquh, 20 ayat, (al-An‘a@m: 65); g)
Tadhakkur, termasuk pemberdayaan akal tingkat tinggi, setidaknya
disebutkan 269 kali, antara lain: al-Baqarah: 221).
Menurut Baharuddin, al-‘aql memiliki daya mengetahui (al-‘ilm).
Daya mengetahui itu muncul akibat adanya daya pikir, seperti tafakkur
(memikirkan), al-naz}ar (memperhatikan), al-i‘tibar (menginterpretasikan),
dan lain-lain. Selain itu, dimensi al-‘aql juga memiliki daya memahami,
seperti tadabbur (memahami dengan seksama), ta’ammul (merenungkan),
istibs}a@r (melihat dengan mata batin), tadhakkur (mengingat), dll.
c. Metode Intuitif
Menurut Suyudi, term al-Qur’a@n yang mengacu pada metode intuitif
ini adalah al-dhikr dan tazkiyyah. Pemahaman terhadap term al-dhikr
melibatkan kata kunci udhkur, dhakkir, dan afala@ tadhakkaru@n. Term
udhkur mengandung 3 makna, yaitu: Pertama, dhikir kepada Allah dengan
menyebut nama-Nya; Kedua, dhikir terhadap nikmat Allah, dengan cara
beriman kepada-Nya dan apa yang telah diturunkan; Ketiga, dhikir dengan
meneladai para Rasul. Sedangkan term dhakkir mencakup 2 makna, yaitu:
Pertama, melalui informasi terhadap peristiwa-peristiwa masa lalu; Kedua,
melalui penanaman ilmu dengan informasi al-Qur’a@n. Adapun term afala@
tadhakkaru@n memuat 5 makna, yaitu: Pertama, menolak pengetahuan yang
tidak relevan dengan al-Qur’a@n dengan memakai pendekatan rasional;
Kedua, mengarahkan kajian untuk menemukan nilai moral dengan
mengemukakan fenomena alam atas manusia; Ketiga, menginternalisasikan
nilai melalui kajian, dengan membuat perumpamaan (amtha@l); Keempat,
memberi nilai moral kajian yang dilakukan dengan melalui dialog; Kelima,
menginternalisasikan nilai kajian melalui pendekatan imani.
Term tazkiyyah mengacu pada proses bimbingan ila@hy@ seperti yang
dialami oleh para Nabi dan Rasul. Dalam hal ini manusia dapat menyucikan
jiwa melalui dua cara: Pertama, dengan perbuatan (al-A‘la@: 14); Kedua,
dengan ucapan (al-Najm: 32).
Beberapa ayat al-Qur’a@n menunjukkan bahwa di samping saluransaluran
pengamatan biasa, yaitu perenungan dan pengintelekan, ada cara
yang lebih langsung dalam meraih pengetahuan akan realitas dunia lewat
Sang Pemberi pengetahuan; tetapi cara ini bukanlah cara yang umum, dan
hanya orang-orang beriman pilihan saja yang dapat melewatinya. Ayat-ayat
ini bisa dibagi pada beberapa kelompok: a) Tuhan memberikan ilmu khusus
kepada orang-orang beriman pilihan (2: 251; 12: 101; 18: 65; 5: 110; 12: 68;
21: 78-80; b) Kelompok ayat lain menunjukkan pewahyuan kepada para
Nabi (17: 39; 53: 10-11; 4: 163; 7: 117; 10: 2; 10: 87; 23: 27; 3: 44; 16: 43;
18: 110); c) Meskipun demikian, kelompok ayat-ayat yang lain
menunjukkan kemungkinan memberikan wahyu kepada orang-orang selain
Nabi (5: 111; 28: 7) Dalam kasus ini, “wahyu” ditafsirkan “ilha@m”.
Diterbitkan di: 17 Januari, 2012   
Mohon dinilai : 1 2 3 4 5
Terjemahkan Kirim Link Cetak
X

.