Cari
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Create a Shvoong account from scratch

Already a Member? Masuk!
×

Masuk

Sign in using your Facebook account

OR

Not a Member? Daftarkan diri!
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Masuk

Sign in using your Facebook account

Halaman Utama Shvoong>Ilmu Sosial>Pendidikan>Sumber Ilmu Pendidikan Islam

Sumber Ilmu Pendidikan Islam

oleh: rajayangsangatsukses     Pengarang : risidin
ª
 
Sebagai pengantar menuju topik bahasan, peneliti kemukakan terlebih
dahulu definisi pendidikan Islam menurut seorang pakar pendidikan Islam
kontemporer, Sa‘i@d Isma@‘i@l ‘Aly@ dalam Us}u@l al-Tarbiyyah al-Isla@miyyah:
Pendidikan Islam adalah suatu sistem yang lengkap dengan sistematika yang
epistemik yang terdiri dari teori-teori, praktek-praktek, metode-metode, nilainilai
dan pengorganisasian yang saling berhubungan melalui kerja sama yang
harmonis dalam konsepsi Islami tentang Allah, alam semesta, manusia dan
masyarakat; dan bertujuan merealisasikan pengabdian kepada Allah dengan
(cara) menumbuh-kembangkan manusia dengan sifatnya –sebagai– makhluk
individu maupun sosial dari berbagai sisi yang beraneka-ragam sesuai dengan
tujuan universal shari@‘at (Islam) yang bertujuan untuk kebaikan manusia di
dunia dan akhirat.
Definisi di atas relatif komprehensif dalam meninjau pendidikan Islam,
sehingga peneliti tidak harus mengutip definisi-definisi yang dikemukakan oleh
para pakar pendidikan lainnya.
Pendidikan Islam didasari suatu suatu pemikiran, bahwa ilmu adalah milik
Allah, maka pendidikan Islam juga berasal dari Allah. Allah adalah pendidik yang
pertama dan utama (al-Fa@tih{ah: 2) dan juga sebagai pengajar pertama (al-
Baqarah: 31). Ayat-ayat ini menjadi sandaran teologis, bahwa pendidik yang
sebenarnya itu adalah Allah, sedangkan peserta didiknya adalah seluruh makhluk-
Nya. Semuanya harus tunduk pada tatanan atau aturan yang telah ditetapkan.
Dia-lah pemilik ilmu yang sebenarnya, yang tersebar di seluruh jagat alam raya
ini. Sedangkan pengetahuan yang dimiliki manusia hanyalah “pemberian” dari
Allah, baik langsung maupun melalui proses, baik secara historis-teologiseskatologis
maupun kausalitas.
Pernyataan Mujamil Qomar di atas senada dengan pendapat para pakar
pendidikan Islam, seperti al-Shayba@ny@ melalui pernyataannya di bawah ini:
Pengertian ( رب العالمين ) adalah Dhat Pendidik alam semesta. Kata ( رب ) dan ( (ربى
berasal dari akar kata yang sama. Maka Allah Swt. adalah Dhat Pendidik
Yang Agung terhadap alam semesta; bukan hanya sebagai Dhat Pendidik bagi
manusia, melainkan juga Dhat Pendidik alam semesta.
Meskipun demikian, dalam perjalanannya, pendidikan Islam senantiasa
memunculkan signifikansi peranan manusia melalui kreativitas dan inovasinya
dalam mengembangkan pendidikan Islam secara teoritis maupun praktis.
Pengembangan pendidikan Islam secara teoritis inilah yang kemudian
menghasilkan produk berupa ilmu pendidikan Islam.
Sebagai sebuah disiplin ilmu, upaya pengembangan ilmu pendidikan Islam
bisa dilakukan dengan merumuskan teori-teori pendidikan Islam dari sumbersumber
ilmu pengetahuan yang diakui dalam Islam.
Pada prakteknya, manusia telah diberi bekal berupa akal (penalaran) untuk
merumuskan teori-teori pendidikan Islam dari Di@n Allah (wahyu Allah yang
tertulis, yang terdapat dalam al-Qur’a@n dan al-Sunnah) maupun Sunnah Allah
(hukum Allah yang diberlakukan pada alam semesta). Di sinilah akal berfungsi
melakukan perenungan, dan hasil yang dicapai tidak mutlak dari kemampuan
akal, tetapi ada juga yang semata-mata pemberian Allah dengan jalan intuisi.
Secara implisit, pernyataan di atas mengakui keberadaan sumber-sumber
ilmu pengetahuan di luar al-Qur’a@n dan H}adi@th, yaitu pengalaman (panca indra),
penalaran (akal) dan intuisi (hati). Sumber-sumber tersebut sekaligus berfungsi
sebagai sumber-sumber ilmu pendidikan Islam.
Dalam hal ini, sebenarnya ada beberapa istilah yang digunakan oleh pakar.
Ada yang menyebut dengan istilah “sumber” ( مصادر المعرفة ) seperti Sa‘i@d Isma@‘i@l
‘Aly@, Amma@n ‘Abd al-Mu’min Qah}i@f, ‘Izz al-di@n al-Tami@my@ dan Badr Isma‘@ i@l
Samri@n; “jendela” ( منافذ العلم والمعرفة ) oleh Muhammad T}a@lib Madlu@l; al-Kurdy@
menyebutnya dengan istilah “saluran-saluran” ( ط.ُر( قُ الْم ع رِْفَة Namun pada
pembahasan selanjutnya, peneliti cenderung menggunakan istilah “sumber”.
‘Izz al-di@n al-Tami@my@ dan Badr Isma@‘i@l Samri@n menyatakan bahwa sumber
ilmu pengetahuan yang harus dikuasai oleh pakar pendidikan Islam ada 4, yaitu:
a) wahyu (al-Qur’a@n dan al-Sunnah); b) khazanah ilmu pengetahuan dan
kebudayaan ( الترث العلمي والثقافي ); c) pengalaman panca indra ( الملاخظة ); d) bekas
peninggalan sejarah ( .(الأثار
Amma@n ‘Abd al-Mu’min Qah}i@f juga menyebut 4 sumber ilmu pengetahuan
menurut al-Qur’a@n, yaitu: a) panca indra; b) akal; c) hati (intuisi); d) khabar (al-
Qur’a@n dan al-Sunnah).
Secara detail, al-Shayba@ny@ menyebut 5 sumber, yaitu indera, akal, intuisi,
ilham dan wahyu ilahi. Tiga sumber terakhir, yaitu intuisi, ilham dan wahyu
ilahi, kendatipun secara tajam bisa dibedakan, tetapi bisa saja intuisi dan ilham
secara substantif merupakan “wahyu” dalam pengertian yang luas, sebab baik
intuisi maupun ilham merupakan pemberian dari kekuatan spiritual. Oleh karena
itu, A. Yusuf Ali cenderung meringkas sumber pengetahuan itu menjadi tiga saja,
yaitu wahyu, rasio dan indera. 28 Secara ringkas, ‘Abd al-Fatta@h} Jala@l membagi
sumber ilmu pengetahuan menjadi dua: Bashariyyah (sumber manusiawi) dan
Ila@hiyyah (sumber ilahi).
Diterbitkan di: 17 Januari, 2012   
Mohon dinilai : 1 2 3 4 5
Terjemahkan Kirim Link Cetak
X

.