Cari
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Create a Shvoong account from scratch

Already a Member? Masuk!
×

Masuk

Sign in using your Facebook account

OR

Not a Member? Daftarkan diri!
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Masuk

Sign in using your Facebook account

Halaman Utama Shvoong>Ilmu Sosial>Pendidikan>Orientasi kurikulum pendidikan Islam

Orientasi kurikulum pendidikan Islam

oleh: putttttttttttttzzzzz     Pengarang : alfiyah
ª
 
Pada dasarnya, orientasi kurikulum pendidikan pada umumnya dapat
dirangkum menjadi lima, yaitu orientasi pada pelestarian nilai-nilai, prientasi
pada kebutuhan sosial (social demand), orientasi pada tenaga kerja, orientasi
pada peserta didik, dan orientasi pada masa depan dan perkembangan ilmu
pengetahuan dan teknologi. Dari kelima macam orientasi itu, kita coba
memodifikasi pada orientasi pendidikan Islam dengan ulasan sebagai berikut:
a. Orientasi pelestarian nilai-nilai
Dalam pandangan Islam, nilai terbagi atas dua macam, yaitu: nilai
yang turun dari Allah SWT, yang disebut dengan nilai ilahiah dan nilai
yang tumbuh dan berkembang dari peradaban manusia sendiri yang
disebut dengan nilai insaniah. Kedua nilai tersebut selanjutnya
membentuk norma-norma atau kaidah-kaidah kehidupan yang dianut dan
melembaga pada masyarakat yang mendukungnya
Sebagai hamba dan khalifah Allah, manusia mempunyai kewajiban
untuk memahami, menghayati, mengamalkan, dan melestarikan nilai yang
diyakini. Upaya itu harus ditopang oleh dua komitmen, yaitu komitmen
terhadap hubungan vertikal (habl min Allah) dan komitmen terhadap
hubungan horizontal (habl min al-nas dan habl min al-alam). Tugas
kurikulum pendidikan selanjutnya adalah memberikan situasi-situasi dan
program tertentu untuk tercapainya pelestarian kedua nilai tersebut,
orientasi ini memfokuskan kurikulum sebagai alat untuk tercapainya agent
of conservative dengan mempertahankan nilai-nilai yang baik, yang
keabadiannya telah teruji dalam sejarah umat manusia.
Di sisi lain, nilai-nilai pada suatu masyarakat mangalami perubahan
dan pergeseran dengan nilai-nilai lain. Perubahan dan pergeseran nilai
masyarakat, menurut Amien Rais M., dapat diklasifikasikan menjadi tiga
bagian, yaitu: Pertama, konservatif, mengarah pada pelestarian nilai-nilai
lama yang sudah mapan, sungguh pun nilai itu irasional; Kedua, radikalrevolusioner,
mengarah pada pencabutan semua nilai sampai akar-akarnya,
karena pelestarian nilai lama itu mengakibatkan stagnasi sosial, iptek, dan
lainnya, sehingga klasifikasi ini cenderung pada “change for sake change”,
yakni mengubah asal, Ketiga, reformis, mengarah pada perpaduan antara konservatif dan
radikal-revolusioner, yakni perubahan dan pergeseran nilai dengan
berlahan-lahan sesuai tuntutan Rasulullah SAW.
Posisi kurikulum selanjutnya adalah, bagaimana ia tidak hanya
berfungsi sebagai “agent of conservative” , tapi juga sebagai “agent of
change”. Artinya, untuk nilai-nilai yang bersifat universal dan objektif
(nilai ilahiah) secara intrinsiknya tetap dilestarikan sampai pada generasigenerasi
berikutnya, namun konfigurasinya dapat dikembangkan sesuai
dengan tuntutan zaman, keadaan, dan tempat. Sebaliknya untuk nilai lokal
yang bersifat subjektif (nila i insaniah), baik intrinsik maupun
konfigurasinya, dapat diubah menurut perkembangan yang diinginkan
dengan syarat tidak menimbulkan keresahan dan kebingungan masyarakat.
Dalam pada itu, aktivitas kurikulum harus memberikan nuansa-nuansa
baru dalam memberikan wawasan pelestarian dan pengembangan nilainilai
dan dapat menempatkan proporsi sebagaimana mestinya
Diterbitkan di: 11 Januari, 2012   
Mohon dinilai : 1 2 3 4 5
Terjemahkan Kirim Link Cetak
X

.