Cari
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Create a Shvoong account from scratch

Already a Member? Masuk!
×

Masuk

Sign in using your Facebook account

OR

Not a Member? Daftarkan diri!
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Masuk

Sign in using your Facebook account

Halaman Utama Shvoong>Ilmu Sosial>Pendidikan>Prinsip-prinsip penyusunan kurikulum

Prinsip-prinsip penyusunan kurikulum

oleh: putttttttttttttzzzzz     Pengarang : alfiyah
ª
 
Adapun prinsip-prinsip pendidikan Islam adalah sebagai berikut:
a. Prinsip yang berorientasi pada tujuan. “al-umur bi maqas}idiha”
merupakan adagium us}uliyah yang berimplikasikan pada aktivitas
kurikulum yang terarah, sehingga tujuan pendidikan yang tersusun
sebelumnya tercapai. Di samping itu, perlu adanya persiapan khusus bagi
para penyelenggara pendidikan untuk menetapkan tujuan-tujuan yang
harus dicapai oleh peserta didik seiring dengan tugas manusia sebagai
hamba dan khalifah Allah SWT.
b. Prinsip relevansi. Implikasinya adalah mengusulkan agar kurikulum yang
diterapkan harus dibentuk sedemikian rupa, sehingga tuntutan pendidikan
dengan kurikulum tersebut dapat memenuhi jenis dan mutu tenaga kerja
yang dibutuhkan masyarakat, serta tuntutan vertikal dalam mengemban
nilai-nilai ilahi sebagai rahmah li al-amin.
c. Prinsip efisiensi dan efektivitas. Implikasinya adalah mengusulkan agar
kegiatan kurikulum dapat mendayagunakan waktu, tenaga, biaya, dan
sumber-sumber lain secara cermat dan tepat, sehingga hasilnya memadai
dan memenuhi harapan serta membuahkan hasil sebanyaknya. Islam
mengajarkan agar seorang muslim menghargai waktu sebaik-baiknya (Qs.
al-‘Asher:1, al-Dhuha: 1, al-Lail:1, ash-Shams: 1-9), sehingga tidak hari
libur untuk beraktivitas (Qs. al-Jumu’ah: 9-10), serta menghargai tenaga
dan aktivitas manusia. Baik tidaknya seseorang ditentukan oleh nilai
kerjanya (Qs. al-Najm: 39-40). Di samping itu, Islam juga mengajarkan
agar seseorang sedapatnya menggunakan ekonominya sesederhana
mungkin, tidak boros, dan membuang-buang (mubadzir) yang hanya
digunakan untuk sesuatu yang kurang bermanfaat (Qs. al-Isra’: 26-27).
d. Prinsip fleksibilitas program. Implikasinya adalah kurikulum disusun
begitu luwes, sehingga mampu disesuaikan dengan situasi-situasi
setempat, serta waktu yang ber kembang tanpa mengubah tujuan
pendidikan yang diinginkan. Prinsip ini tidak hanya dilihat dari salah satu
faktor saja, tetapi juga dilihat dari totalitas ekosistem kurikulum, baik
yang berkenaan dengan perkembangan peserta didik (kecerdasan,
kemampuan, dan pengetahuan yang diperoleh), metode-metode mengajar
yang digunakan, fasilitas-fasilitas yang tersedia, serta lingkungan yang
memengaruhinya.
e. Prinsip integritas. Implikasinya adalah mengupayakan kurikulum tersebut
agar menghasilkan manusia seuuthnya, manusia yang mampu
mengintegrasikan antara fakultas dzikir dan fakultas fikir, serta manusia
yang dapat menyelaraskan kehidupan dunia dan akhirat. Di samping itu,
pengupayaan kurikulum tersebut menghasilkan peserta didik yang mampu
menguasai ilmu-ilmu qur’ani (din Allah) dan ilmu-ilmu kawni (Sunnah
Allah) yang bertujuan untuk mencari ridha Allah SWT. Prinsip ini
dilakukan dengan cara memadukan semua komponen-komponen
kurikulum, tanpa adanya pemenggalan satu dengan lainnya.
f. Prinsip kontuinitas (istiqamah). Implikasinya adalah bagaimana susunan
kurikulum yang terdiri dari bagian yang berkesinambungan dengan
kegiatan-kegiatan kurikulum lainnya, baik secara vertikal (pejengan,
tahapan), maupun secara horizontal.
g. Prinsip sinkronisme. Implikasinya adalah bagaimana kurikulum dapat
seirama, searah, dan setujuan, serta jangan sampai terjadi kegiatan
kurikulum lain yang menghambat, berlawanan atau mematikan kegiatan
lain.
h. Prinsip objektivitas. Implikasinya adalah adanya kurikulum objektif,
dengan melalui tuntutan kebenaran ilmiah yang objektif, dengan
mengesampingkan pengaruh-pengaruh emosi yang irasional (Qs. al-
Maidah: 8).
i. Prinsip demokratis. Implikasinya adalah pelaksanaan kurikulum harus
dilakukan secara demokratis. Artinya, saling mengerti, memahami
keadaan dan situasi tiap-tiap subjek dan objek kurikulum. Segala tindakan
sebaiknya dilakukan melalui musyawarah untuk mufakat, sehingga
kegiatan itu didukung bersama dan apabila terjadi kegagalan maka tidak
menyalahkan satu dengan yang lain.
j. Prinsip analisis kegiatan. Prinsip ini mengandung tuntutan agar kurikulum
dikonstruksikan melalui proses analisis isi bahan mata pelajaran, serta
analisis tingkah laku yang sesuai dengan isi materi pelajaran.
k. Prinsip individualisasi. Prinsip kurikulum yang memperhatikan perbedaan
pembawaan dan lingkungan pada umumnya yang meliputi seluruh aspek
pribadi peserta didik, seperti perbedaan jasmani, watak, inteligensi, bakat,
serta kelebihan dan kekurangannya.
l. Prinsip pendidikan seumur hidup. Konsep ini diterapkan dalam kurikulum
mengingat keutuhan potensi subjek manusia sebagai subjek yang
berkembang dan perlunya keutuhan wawasan (orientasi) manusia sebagai
subjek yang sadar akan nilai (yang menghayati dan yakin akan cita-cita
dan tujuan hidup)18. Semua hal tersebut tidak akan tercapai tanpa adanya
belajar yang berkesinambungan.
Seperangkat kegiatan kurikulum sedapatnya harus memberikan
sumbangsih yang bersifat dinamis terhadap kebutuhan-kebutuhan yang
diinginkan oleh peserta didik dan masyarakat umumnya. Hal tersebut karena
kebutuhan selalu berubah dan berkembang sehingga tuntutan kurikulum harus
bersifat futuristik. Allah SWT. dan Rasul-Nya melandasi prinsip tersebut
dengan firman-Nya: “Dan sembahlah Tuhanmu sampai pendidikan agama
Islam datang kepadamu yang diyakini (ajal))”. (Qs. Al-Hijr: 99), dan “Maka
janganlah kamu mati kecuali dalam (masih) memeluk agama Islam” (al-
Baqarah: 132). Dan, Hadis Nabi SAW.: “Carilah ilmu mulai dari buaian
sampai pada liang lahat” (Al-Hadis).
Menurut al-Syaibani,13 prinsip utama dalam kurikulum pendidikan
Islam adalah sebagai berikut: (1) berorientasi pada Islam, termasuk ajaran dan
nilai-nilainya. Adapun kegiatan kurikulum yang baik berupa falsafah, tujuan,
metode, prosedur, cara melakukan, dan hubungan-hubungan yang berlaku di
lembaga harus berdasarkan Islam; (2) prinsip menyeluruh (syumuliyah) baik
dalam tujuan maupun isi kandungannya; (3) prinsip keseimbangan (tawazun)
antara tujuan dan kandungan kurikulum; (4) prinsip interaksi (ittishaliyah)
antara kebutuhan siswa dan kebutuhan masyarakat; (5) prinsip pemeliharaan
(wiqayah) antara perbedaan-perbedaan individu; (6) prinsip perkembangan
(tanmiyah) dan perubahan (taghayyur) seiring dengan tuntutan yang ada
dengan tidak mengabaikan nilai-nilai absolut ilahiyah; dan (7) prinsip
integritas (muwahhadah) antara mata pelajaran, pengalaman, dan aktivias
kurikulum dengan kebutuhan peserta didik, masyarakat, dan tuntutan zaman,
tempat peserta didik berada.
Diterbitkan di: 11 Januari, 2012   
Mohon dinilai : 1 2 3 4 5
  1. Menjawab   Pertanyaan  :    apakah kurikulum harus bersifat dinamis atau statis?mengapa demikian? Lihat semua
Terjemahkan Kirim Link Cetak
X

.