Cari
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Create a Shvoong account from scratch

Already a Member? Masuk!
×

Masuk

Sign in using your Facebook account

OR

Not a Member? Daftarkan diri!
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Masuk

Sign in using your Facebook account

Halaman Utama Shvoong>Ilmu Sosial>Pendidikan>Pandangan tokoh-tokoh teori kognitif tentang belajar

Pandangan tokoh-tokoh teori kognitif tentang belajar

oleh: penulissuksesssss     Pengarang : nazipulima
ª
 
Penganut aliran kognitif menyatakan bahwa belajar tidak
sekedar melibatkan hubungan antara stimulus dan respons.
Menurut teori kognitif tingkah laku seseorang ditentukan oleh
persepsi serta pemahamannya tentang situasi yang berhubungan
dengan tujuan belajarnya. Belajar merupakan perubahan persepsi
dan pemahaman yang tidak selalu dapat terlihat sebagai tingkah
laku yang nampak. Teori ini berpandangan bahwa belajar
merupakan suatu proses internal yang mencakup ingatan, retensi,
pengolahan informasi, emosi dan aspek-aspek kejiwaan lainnya.
1). Pandangan Jean Piaget (1896-1980).
Menurut Piaget, perkembangan kognitif merupakan suatu
proses genetik, yaitu suatu proses yang didasarkan atas
mekanisme biologis perkembangan sistem syaraf. Makin
bertambah umur seseorang, maka makin komplekslah susunan sel
syarafnya dan makin meningkat pula kemampuannya. Lebih
lanjut Piaget mengungkapkan proses belajar harus disesuaikan
dengan tahap perkembangan kognitif yang dilalui siswa, yang
dalam hal ini dibaginya menjadi empat tahap, yaitu tahap sensorimotor
(umur 0-2 tahun), tahap preoperasional (umur 2-7/8 tahun),
tahap operasional kongkrit (umur 7/8 – 11/12 tahun), tahap
operasional formal (umur 11/12 – 18 tahun).
Pada tahap sensori-motorik, pertumbuhan kemampuan
anak tampak dari kegiatan motorik dan persepsi yang sederhana.
Ciri perkembangan pada tahap sensori-motor berdasarkan
tindakan, dan dilakukan langkah demi langkah. Kemudian pada
tahap preoperasional ciri pokok perkembangannya adalah pada
penggunaan simbol atau bahasa tanda, dan mulai berkembangnya
konsep-konsep intuitif. Selanjutnya pada tahap operasional
kongkrit ciri pokok perkembangannya adalah anak mulai
menggunakan aturan-aturan yang jelas dan logis, dan ditandai
adanya reversible dan kekekalan. Anak telah memiliki kecakapan
berpikir logis, akan tetapi hanya dengan benda-benda yang
bersifat kongkrit. Pada tahap operasional formal ciri pokok
perkembangannya adalah anak sudah mampu berfikir abstrak dan
logis dengan menggunakan pola berpikir “kemungkinan”. Model
berpikir ilmiah dengan tipe deduktif dan induktif sudah mulai
dimiliki anak, yaitu dengan menarik kesimpulan, menafsirkan
dan mengembangkan hipotesa.
Menurut Piaget proses belajar terdiri dari tiga tahapan,
yakni (1) asimilasi, (2) akomodasi, dan (3) equilibrasi
(penyeimbang). Proses asimilasi adalah proses penyatuan
(pengintegrasian) informasi baru ke struktur kognitif yang sudah
ada di benak siswa. Akomodasi adalah penyesuaian struktur
kognitif ke dalam situasi yang baru. Equilibrasi adalah
penyesuaian bersinambungan antara asimilasi dan akomodasi.
Dengan kata lain, apabila individu menerima informasi atau
pengalaman baru maka informasi tersebut akan dimodifikasi
sehingga cocok dengan struktur kognitif yang telah dipunyainya,
proses inilah yang disebut asimilasi. Sebaliknya apabila struktur
kognitif yang telah dimiliki individu yang harus disesuaikan
dengan informasi baru yang diterimnya, maka hal ini disebut
akomodasi. Agar seseorang dapat terus mengembangkan dan
menambah pengetahuannya sekaligus menjaga stabilitas
mentalnya, maka diperlukan proses penyeimbangan. Proses
penyeimbangan yaitu menyeimbangkan antara lingkungan luar
dengan struktur kognitif yang ada di dalam dirinya. Proses inilah
yang disebut eqiulibrasi.
Diterbitkan di: 04 Januari, 2012   
Mohon dinilai : 1 2 3 4 5
Terjemahkan Kirim Link Cetak
X

.