Cari
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Create a Shvoong account from scratch

Already a Member? Masuk!
×

Masuk

Sign in using your Facebook account

OR

Not a Member? Daftarkan diri!
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Masuk

Sign in using your Facebook account

Halaman Utama Shvoong>Ilmu Sosial>Pendidikan>Peranan guru dalam pembelajaran fiqih

Peranan guru dalam pembelajaran fiqih

oleh: irzu     Pengarang : muh sulthon
ª
 
Sejalan dengan prinsip pembelajaran tersebut peranan guru lebih
ditekankan pada pemberian motivasi terhadap siswa agar melakukan
kegiatan belajar. Motivasi merupakan faktor yang sangat berarti dalam
pencapaian prestasi belajar. Motivasi di sini diartikan sebagai daya yang
mendorong seseorang untuk melakukan sesuatu aktifitas. Setidaknya ada
dua jenis motivasi yang perlu diperhatikan oleh guru, yakni motivasi yang
berasal dari dalam diri anak (intrinsik) dan motivasi yang diakibatkan oleh
rangsangan dari luar diri anak (ekstrinsik). Di antara kedua motivasi
tersebut motivasi intrinsik yang paling efektif mendorong siswa belajar.
Motivasi intrinsik yang merupakan pembangkit motivasi belajar yang
utama adalah keingintahuan dan keyakinan akan kemampuan diri.
Terlihat di sini bahwa KBK maupun KTSP berusaha menjabarkan
teori-teori Motivasi sebagaimana yang dikemukakan Abraham Maslow.38
Teori motivasinya Maslow pada intinya berkisar pada pendapat bahwa
manusia mempunyai tujuh hierarki kebutuhan, yaitu: (1) kebutuhan
fisiologikal (physiological needs), seperti: rasa lapar, haus, istirahat dan
sex; (2) kebutuhan rasa aman (safety needs), tidak dalam arti fisik semata,
akan tetapi juga mental, psikologikal dan intelektual; (3) kebutuhan sosial
(social needs) yaitu kebutuhan untuk menjadi bagian dari kelompok dan
menjalin hubungan dengan orang lain. Di dalam kebutuhan sosial ini
terdapat kebutuhan akan kasih sayang (love needs); (4) kebutuhan akan
harga diri (esteem needs), yang pada umumnya tercermin dalam berbagai
simbol-simbol status, seseorang harus berprestasi, menjadi kompeten, serta
mendapat pengakuan sebagai orang yang berprestasi dan kompeten untuk
dapat dihargai; (5) kebutuhan intelektual (intellectual needs) terdapat di
dalamnya adalah individu memperoleh pemahaman dan pengetahuan; (6)
kebutuhan estetis (esthetic needs), setelah mencapai tingkatan intelektual
tertentu, maka individu akan memikirkan tentang kebutuhan akan
keindahan, kerapian, serta keseimbangan; (7) aktualisasi diri (self
actualization), dalam arti tersedianya kesempatan bagi seseorang untuk
mengembangkan potensi yang terdapat dalam dirinya sehingga berubah
menjadi kemampuan nyata agar dapat menemukan pemenuhan pribadi dan
mencapai potensi diri.
Aplikasi teori motivasi Maslow tersebut dalam pendidikan
ditunjukkan bahwa bagi siswa yang selalu memperhatikan materi pelajaran
yang diberikan, bukanlah masalah bagi guru, karena di dalam diri siswa
tersebut ada motivasi, yaitu motivasi intrinsik. Siswa yang demikian
biasanya dengan kesadaran sendiri memperhatikan penjelasan guru. Rasa
ingin tahunya lebih banyak terhadap materi pelajaran yang diberikan.
Berbagai gangguan yang ada disekitarnya, kurang dapat
mempengaruhinya agar memecahkan perhatiannya. Lain halnya bagi siswa
yang tidak ada motivasi di dalam dirinya, maka motivasi ekstrinsik yang
merupakan dorongan dari luar dirinya mutlak diperlukan. Di sini tugas
guru adalah membangkitkan motivasi peserta didik sehingga ia mau
melakukan belajar.
Ada beberapa prinsip dalam KBK yang digunakan untuk
menumbuhkan motivasi belajar siswa, di antaranya adalah: kebermaknaan,
pengetahuan dan keterampilan prasyarat, model untuk dilihat dan ditiru,
komunikasi terbuka, keaslian dan tugas yang menantang, latihan yang
tepat dan aktif, penilaian tugas, kondisi dan konsekuensi yang
menyenangkan, keragaman pendekatan, mengembangkan beragam
kemampuan, melibatkan sebanyak mungkin indera, dan keseimbangan
pengaturan pengalaman belajar.
Mengingat belajar, dalam paradigma konstruktivistik, adalah proses
bagi siswa dalam membangun gagasan atau pemahaman sendiri, maka
kegiatan pembelajaran hendaknya memberikan kesempatan kepada siswa
untuk melakukan hal itu secara lancar dan termotivasi. Suasana belajar
yang diciptakan guru harus melibatkan siswa secara aktif, misalnya
mengamati, bertanya dan mempertanyakan, menjelaskan, dan sebagainya
Diterbitkan di: 02 Januari, 2012   
Mohon dinilai : 1 2 3 4 5
Terjemahkan Kirim Link Cetak
X

.