Cari
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Create a Shvoong account from scratch

Already a Member? Masuk!
×

Masuk

Sign in using your Facebook account

OR

Not a Member? Daftarkan diri!
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Masuk

Sign in using your Facebook account

Halaman Utama Shvoong>Ilmu Sosial>Pendidikan>Kedudukan Manusia Sebagai Makhluk yang Mulia

Kedudukan Manusia Sebagai Makhluk yang Mulia

oleh: irzu     Pengarang : mokhamad
ª
 
Manusia dicipakan Alla>h sebagai penerima sekaligus pelaksana
amanat-Nya. Oleh karena itu manusia ditempatkan pada posisi dan
kedudukan yang mulia. Dilihat dari sisi biologis manusia diciptakan
dalam bentuk yang sempurna, sementara dari segi psikologisnya
manusia juga ditempatkan sebagai makhluk yang mulia.
Kedudukan mulia makhluk manusia tersebut merupakan sesuatu
yang bersifat kodrati. Bukan karena kemauan dan kehendak manusia,
akan tetapi kehendak (iradat) Alla>h, sang khalik. Untuk itu manusia
dilengkapi oleh Alla>h dengan akal pikiran dan perasaan untuk
mempertahankan kedudukannya sebagai makhluk yang mulia. Akal
yang berpusat di otak berfungsi untuk berfikir. Sedangkan perasaan
pusatnya di hati yang berfungsi untuk merasa.
Dengan akal dan pikiran manusia bisa menerima dan
mengembangkan ilmu pengetahuan. Dalam bahasa praktisnya, usaha ke
arah itu adalah proses dan aktivitas kependidikan. Jadi dari tujuan ini,
kemuliaan manusia ditentukan dari dan karena memiliki akal, perasaan,
serta ilmu pengetahuan dan kebudayaan.
Selanjutnya dengan kemampuan yang dimilikinya, Alla>h menyuruh
manusia untuk berfikir tentang fenomena alam semesta (QS.al-Ha>jj
[22]:46), tentang dirinya sendiri (QS.al-Dza>riya>t [51]:21), tentang
fauna, langit dan bumi (QS.al-Gha>siyah [88]:17-20).
Sebagai makhluk berakal, manusia selalu menggunakan akalnya
untuk mengetahui sesuatu. Hasil dari mengetahui tersebut merupakan
ilmu pengetahuan. Manusia yang beriman dan berilmu pengetahuan,
menurut al-Qur’a>n, padanya akan diberi kemuliaan dengan ditinggikan
derajatnya.
Jadi jelaslah bahwa manusia itu mulia dalam pandangan Alla>h
karena iman dan ilmunya, sehingga dengan dasar itu dapat
mengantarkannya untuk mendapat kebahagiaan di dunia, bahkan di alam
akhirat kelak. Sebagai akibat manusia menggunakan akal, perasaan serta
ilmu pengetahuannya, terwujudlah kebudayaan baik dalam bentuk sikap,
tingkah laku, maupun berupa benda. Karena itu manusia disebut sebagai
makhluk yang berbudaya, karena manusia diberkati kemampuan untuk
menciptakan nilai kebudayaan, serta mewariskannya kepada generasi
berikutnya.
Kemampuan manusia menciptakan, mewariskan dan menerima
kebudayaan itulah yang menyebabkan dirinya sebagai makhluk Alla>h
yang memiliki derajat berbeda dengan makhluk lainnya dan
menempatkan manusia pada posisi yang luhur dan mulia.
Diterbitkan di: 02 Januari, 2012   
Mohon dinilai : 1 2 3 4 5
Terjemahkan Kirim Link Cetak
X

.