Cari
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Create a Shvoong account from scratch

Already a Member? Masuk!
×

Masuk

Sign in using your Facebook account

OR

Not a Member? Daftarkan diri!
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Masuk

Sign in using your Facebook account

Halaman Utama Shvoong>Ilmu Sosial>Pendidikan>Pengertian Strategi Belajar Mengajar (1)

Pengertian Strategi Belajar Mengajar (1)

oleh: amancc     Pengarang: Drs.Syaiful Bahri Djamarah; M.Ag; Drs. Aswan Zain
ª
 
Pengertian Strategi Belajar Mengajar
Secara umum strategi mempunyai pengertian suatu garis-garis besar haluan untuk bertindak dalam usaha mencapai sasaran yang telah tentukan.Jadi strategi belajar mengajar bisa di artikan sebagai pola-pola umum kegiatan guru anak didik dalam perwujudan kegiatan belajar mengajar untuk mencapai tujuan yang telah di gariskan.
Klasifikasi strategi belajar mengajar
Menurut Tabrani Rusyan dkk., terapat berbagai masalah sehubungan dengan strategi belajar mengajar yang secarakeseluruhan di klasifikasikan seperti berikut:
1. Konsep dasar strategi belajar mengajar
2. Sasaran kegiatan belajar
3. Belajar mengajar sebagai suatu sistem
4. Hakikat proses belajar
5. Entering behavior siswa
6. Pola-pola belajar siswa
7. Memilih sistem belajar mengajar
8. Pengorganisasian kelompok belajar
9. Pengelolaan atau implementasi proses belajar mengajar.

 Konsep dasar strategi belajar mengajar meliputi:
a. Menetapkan spesifikasi dan kualifikasi perubahan tingkah laku
b. Menentukan pilihan metode pendekatan
c. Memilih metode,teknik belajar mengajar
d. Menerapkannorma dan kiteria keberhasilan kegiatan belajar mengajar

 Sasaran kegiatan belajar mengajar
Sasaran atau tujuan bermacam-macam yakni: Tujuan intruksional khusus,tujuan intruksional umum,tujuan kurikuler,tujuan nasional,sampai tujuan yang bersifat universal.Saaran itu harus di terjemahkan ke kepada ciri-ciri prilaku yang didambakan.Tujuan universal ,manusia yang diidamkan memliki kualifikasi:a) pengembangan bakat secara optimal, b) hubungan antr manusia, c)efesiensi ekonomi, d)tanggung jawab selaku warga negara.

 Belajar mengajar sebagai sutu sistem
Belajar mengajar sebagai suatu sistem intruksional mengacu kepada pengertian sebagai seperangkat komponen yang saling bergantung satu sama lain untuk mencapai tujuan.Selaku suatu sistem, belajar mengajar meliputi suatu komponen,antara lain tujuan, bahan, siswa, guru, metode, situasi, dan evaluasi.Agar tujuan tercapai,semuakomponen yang ada harus di organisasikan sehingga antar suatu komponen terjadi kerja sama.dan guru harus memperhatikan keseluruhan komponen.
Berbagai persoalan yang biasa di hadapi oleh guru antara lain:
a. Tujuan-tujuan apa yang mau di capai
b. Materi pelajaran apa yang di perlukan
c. Metode,alat mana yang di perlukan
d. Prosedur pa yang harus di tempuh untuk melakukan sesuatu.
 Hakikat proses belajar mengajar
Belajar adalah proses perubahan prilaku berkat pengalaman dan latihan.Artinya,tujuan kegiatan adalah perubahan tingkah laku,baik yang menyangkut pengetahuan,keterampilan maupun sikap,bahkan meliputi segenap aspek organisme atau pribadi. Jadi, hakikat belajar adalah perubahan.
 Entering behavior siswa
Hasil kegiatan belajar mengajar tercemin dalam kegiatan prilaku, baik secara material-subtansial, struktural-fungsional, maupun secara behavior. Yang di persoalkan adalah kepastian bahwa tingkat prestasi yang di capai siswa itu apakah benar merupakan hasil kegiatan belajar mengajar yang bersangkutan. Untuk kepastiannya seharusnyaguru tahu tentang karakteristik prilaku anak didik saat mau masuk sekolah dan mulai dengan kegiatan belajar mengajar di langsungkan, tingkat dan jenis karakteristik prilaku anak didik yang telah di milikinya ketika mau mengikuti kegiatan belajar mengajar. Itulah yang di maksudkan dengan entering behavior siswa.
Menurut Aby Syamsuddin, entering behavior akan dapat diidentifikasikan dengan cara:
a. Secara tradisional,telah lazim para guru mulai dengan pertanyaan mengenai bahan yang telah di berikan sebelum menyajikan bahan baru.
b. Secara inovatif, guru tertentu di berbagai lembaga pendidikan yang memiliki atau mamapu mengembangkan instrumen pengukuran prestasi dengan memenuhi syarat, mengadakan pre-tes sebelum mereka mulai mengikuti progam mengajar.
Sebelum merencanakan dan melaksakan kegiatan mengajar, guru harusdapat menjawab pertanyaan :
a. Sejauh mana batas-batas materi pengetahuan yang telah di kuasai dan dketahui oleh siswa yang akan di ajar.
b. Tingkat dan tahap serta enis kemampuan manakah yang telah di capai dan di kuasai oleh siswa yang bersangkutan.
c. Apakah siswa sudah cukup siap dan matang untuk menerimabahan dan pola-pola prilaku yang akan di kerjakan.
d. Berapa jauh motivasi dan minat belajar yang dimiliki oleh siswa sebelum belajar di mulai.
Pola-pola belajar siswa
Robert M. Gagne membedakan pola-pola belajar siswake dalam delapan tipe , yaitu antara lain:
a. Belajar tipe 1:signal learning (belajar isyarat)
Belajar tipe ini merupakan tahap yang paling dasar. Jadi tidak menuntut persyaratan, namun merupakan hieraraki yang harusdi lalui untuk tipe belajar yang paling tinggi. Kondisi yang di perlukan buat berlangsungnya tipe belajar ini, adalah di berikannya sitimulus (signal)secara serempak, perangsang-perangsag tertentu secara berulang kali.Contoh:Aba-aba SIAP ! merupakan suatu signal atau isyarat untuk mengambil sikap tertentu.
b. Belajar tipe 2: Stimulus – Respons learning (Belajar Sitimulus Respons)
Pada proses belajar ini sama dengan proses belajar bahasa pada anak-anak.Dengan belajar sitimulus –respons sitimulus ini seorang mengatakan kata-kata dalam bahasa asing. Demikian pula seorang bayi belajar mengatakan “mama”
c. Belajar tipe 3: Chaing(rantai atau rangkaian)
Chaining adalah belajar menghubungkan satuan ikatan S-R(Stimulus-Respons) yang satu dengan yang lain.Contoh: kampung-halaman, makan malam.
d. Belajar tipe 4: Verbal Assiociation (Asosiasi Verbal)
Baik chaining maupun verbal assiociation, kedua tipe belajar ini setaraf, yaitu belajar menghubungkan satuan ikatan S-R yang satu dengan yang lain. Contoh:mengatakan”itu bola saya”mengenal ‘bola’,’saya’,dan’itu’.Hubungan itu terbentuk, bila unser-unsurnya terdapat dalam urutan-urutan tertentu tertentu,yang satu segeramengikuti yang satu lagi(contiguity).
e. Belajar tipe 5:Discrimation learning (Belajar Diskriminasi)
Discrimation learning atau belajar mengadakan pembeda.Kondisi utama bagi proses belajar ini adalah anak didik sudah mempunyai kemahiran melakukan chaining dan association serta pengalaman (pola S-R). Contoh:Anak dapat mengenal berbagai merek mobil beserta namanya, walaupun tampaknya mobil itu tampak bersamaan.
f. Belajar Tipe 6: Concept learning (Belajar Konsept)
Concept learning adalah belajar pengertian.Dengan berdasarkan. Dengan berdasarkan kesamaan ciri-ciri dari sekumpulan situmulus dan objek-objeknya, ia membentuk suatu pengertian atau konsep,kondisi utama yang di perlukan adalah menguasai kemahiran diskriminasi dan prosese kognitif fundamentalistal sebelumnya.
g. Belajar tipe 7: Rule lerning (Belajar Aturan)
Rule learning belajar membuat generalisasi, hukum, dan kaidah. Pada tingkat ini siswa belajar mengadakan kombinasi berbagai konsep dengan mengoprasikan kaidah-kaidah logika formal (induktif, deduktif, analisis, sistesis, asosiasi, diferensiasi, komparasi, kausalitas) sehingga anak didik dapat menemukan konklusi tertentu yang mungkin selanjutnya dapat di pandang sebagai “rule”:prinsip, dalil, aturan, hukum, kaidah, dan sebagainya.
h. Belajar Tipe 8: Problem Solving(Pemecahan Masalah)
Problem solving adalah belajar memecahkan masalah. Pada tingkat ini para didik belajar merumuskan memecahkan masalah, memberikan respons terhadap rangsangan yang menggambarkan atau membangkitkan situasi
problematik, yang mempergunakan berbagai kaidah yang telah di kuasainya.
Diterbitkan di: 19 Nopember, 2011   
Mohon dinilai : 1 2 3 4 5
  1. Menjawab   Pertanyaan  :    apa prosedur sistem belajar mengajar berdasarkan discovery learning dan exspository learning Lihat semua
  1. Menjawab   Pertanyaan  :    karakteristik strategi Lihat semua
Terjemahkan Kirim Link Cetak
X

.