Cari
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Create a Shvoong account from scratch

Already a Member? Masuk!
×

Masuk

Sign in using your Facebook account

OR

Not a Member? Daftarkan diri!
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Masuk

Sign in using your Facebook account

Halaman Utama Shvoong>Ilmu Sosial>Pendidikan>Metode pembelajaran bahasa (jawa)

Metode pembelajaran bahasa (jawa)

oleh: ayahenawal     Pengarang : sapto
ª
 
/* Style Definitions */ table.MsoNormalTable {mso-style-name:"Table Normal"; mso-style-parent:""; font-size:10.0pt; font-family:"Times New Roman";}

Ajar Basa

Agar siswa ’bisa basa’, perlu belajar basa secara intensif dan berkelanjutan. Pertama, menumbuhkan rasa hormat kepada orang lain. Konteks berbicara siswa diarahkan berdasarkan pocap lan patrap ’pengucapan dan kesopanan’, sebuah norma pergaulan agar terjalin keakraban dan hormat-menghormati. Jika sudah mempunyai rasa pangrasa hormat, konteks hormat akan muncul sendiri. Orang akan memilih siswa yang sopan walau belum bisa basa daripada yang bisa basa tapi tidak sopan. Yang terbaik siswa bisa basa dan sopan (pocap lan patrap).

Kedua, hafal UUT. Karena UUT BJ banyak dan merupakan salah satu dasar untuk bisa basa, alangkah baiknya jika hafalan UUT dimulai sejak dini. Bila siswa hapal kata kesah (UUT Kr), idealnya juga hapal tindak (UUT KA). Minimal siswa diajak menghafal kosakata sehari-hari. Guru dapat memberikan beberapa metode dalam penguatan hafalan siswa, seperti tebak kata, permainan deret kata, TTS, kata bergulir, silang kata, kata berantai, dsb. Jika siswa tidak hafal UUT, siswa akan sulit bisa basa.

Ketiga, berlatih menerapkan satu kosakata UUT dalam satu konteks UUB. Contoh kalimat ”Aku makan, Ibu belum makan” dalam UUB NL: ”Aku mangan, Ibu durung mangan”. Dalam UUB NA: ”Aku mangan, Ibu durung dhahar”. Kalimat dalam UUB KL menjadi ”Kula nedha, Ibu dereng nedha”. Sedangkan dalam UUB KA menjadi ”Kula nedha, Ibu dereng dhahar.”. Penutur ’aku’ tidak memakai ’dhahar’ (UUT KA), karena tidak boleh meng-kramaalus-kan diri sendiri. Kalimat contoh yang tepat dipakai ialah kalimat UUB NA dan UUB KA, sebab ada unsur yang dihormati secara khusus (ibu).

Keempat, menyesuaikan dengan lawan bicara. Kontekstual BJ perlu memperhatikan lawan bicara. Jika dengan orang yang baru kenal, cenderung memakai UUB KA. Hal ini muncul karena rasa sungkan. Apabila sudah kenal, akan berubah menyesuaikan status atau umur antara penutur dan lawan bicara.

Jika berbicara dilandasi rasa hormat, hafal UUT, dan paham UUB, maka tidak sulit untuk bisa basa. Tetapi masyarakat, terutama kaum ibu, bertindak selaku lawan bicara siswa di rumah, perlu ikut membiasakan siswa berbahasa Jawa sesuai UUB. Mungkin anak basa di rumah, di luar belum tentu, karena tergantung lawan bicara dan lingkungan. ”... the world a man inhabits is a linguistic construct” (Sampson, 1980). Komunitas lingkungan, seperti guru BJ dan selain guru BJ, TU, mister bon (tukang kebun), mas/mbak pedagang, bapak sopir, dsb juga memiliki peran yang sama.

Keluarga semestinya mempelopori sebagai pembelajaran pertama bahasa ibu, lewat percakapan sehari-hari di rumah. Guru BJ hanya membantu tugas dan peran keluarga untuk memberi pengalaman berbahasa ibu pada anak. Sebab, ”Sekolah saja tidak cukup untuk membentuk pikiran dan perasaan manusia, rumah pun harus turut mendidik.” (Sulastin, 1979) dan ”Pendidikan yang maju atau modern bukan berarti meninggalkan bahasa ibu” (Kompas, 26/2/2009).

Karena itu, pembelajaran BJ perlu menerapkan kembali Taxonomy Cognitif-nya Bloomsky secara runtut dari C1 (menghafal) sampai C6 (evaluasi), dari kecil hingga dewasa. Idealnya dibentuk MGMP BJ Lintas Jenjang, dari PAUD hingga SMA, dengan dipandegani oleh Perguruan Tinggi yang mumpuni dalam BJ. Semoga Bahasa Jawa siap mengisi International Mother Tongue Day dengan lebih baik. Semoga Salatiga siap mendukung Save the Children Programme.

Diterbitkan di: 28 Oktober, 2011   
Mohon dinilai : 1 2 3 4 5
Terjemahkan Kirim Link Cetak
X

.