Cari
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Create a Shvoong account from scratch

Already a Member? Masuk!
×

Masuk

Sign in using your Facebook account

OR

Not a Member? Daftarkan diri!
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Masuk

Sign in using your Facebook account

Halaman Utama Shvoong>Ilmu Sosial>Pendidikan>Kendala Belajar Di Rumah

Kendala Belajar Di Rumah

oleh: AliRohman     Pengarang : Ali Rohman
ª
 
/* Style Definitions */ table.MsoNormalTable {mso-style-name:"Table Normal"; mso-style-parent:""; line-heigh t:115%; font-size:11.0pt; font-family:"Calibri","sans-serif";} Belajar merupakan aktivitas utama seorang siswa, baik itu dilakukan di rumah maupun di sekolah. Jika di sekolah proses belajar didampingi oleh guru dan dilakukan bersama-sama dengan seluruh anggota kelas, maka berbeda halnya dengan proses belajar di rumah. Ada kalanya siswa belajar seorang diri tanpa bantuan dan bimbingan dari siapapun. Memang, pada dasarnya orang tualah yang berkewajiban untuk membimbing anak belajar di rumah. Namun kesibukan dan beragam alasan lainnya menjadi latar belakang mengapa orang tua tidak pernah membimbing anak untuk belajar. Kondisi seperti ini dapat menimbulkan lemahnya semangat siswa untuk belajar sendiri di rumah. Ia merasa kesepian dan tidak ada tempat untuk bertanya.

Banyak faktor yang menjadi kendala bagi siswa dalam belajar di rumah, antara lain:

1. Kesibukan orang tua

Sibuknya orang tua dalam bekerja menjadikan kesempatan mereka untuk membimbing anaknya belajar menjadi sangat terbatas. Adakalanya mereka hanya menyuruh anak mereka untuk terus belajar tanpa mengetahui kebutuhan apa yang diperlukan oleh anaknya untuk menunjang proses belajar tersebut. Atau bahkan dikarenakan saking sibuknya, banyak orang tua yang tidak peduli terhadap proses belajar anak mereka sendiri. Mereka baru menyesalinya setelah menerima raport di akhir semester yang menunjukkan rendahnya nilai anak mereka.

2. Rendahnya pemahaman orang tua terhadap arti penting belajar

Tidak semua orang tua di dunia ini sibuk akan pekerjaannya. Namun acap kali kita dapati bahwa orang tua yang tidak sibukpun tidak memberikan perhatian terhadap proses pendidikan anak mereka. Mereka mengabaikan, acuh tak acuh atau tak peduli terhadap apapun yang terjadi dalam proses pendidikan sang anak. Mereka tidak pernah menyuruh anaknya untuk belajar, dikarenakan mereka tidak mengetahui arti penting belajar bagi seorang anak. Orang tua yang seperti ini, biasanya cenderung menekankan kepada anaknya untuk bekerja dan mencari uang tanpa memperhatikan penting atau tidaknya belajar.

3. Kondisi ekonomi keluarga

Ada orang tua yang tidak sibuk dan memahami arti penting belajar bagi anaknya. Namun dikarenakan kondisi ekonomi yang lemah menjadikan orang tua tidak dapat memberikan perhatian sepenuhnya terhadap proses belajar anak. Orang tua mencurahkan perhatiannya untuk menangani masalah ekonomi sehingga masalah pendidikan anak menjadi pembahasan dalam urutan terakhir.

4. Rumah yang terlalu ramai

Rumah yang terlalu ramai tidak kondusif untuk dijadikan tempat belajar. Kegaduhan yang sering terjadi membuat anak tidak dapat berkonsentrasi untuk belajar. Kondisi ini bisa terjadi apabila keluarga tersebut merupakan keluarga besar, rumah merangkap sebagai tempat usaha atau rumah berada tepat di daerah keramaian. Ketenangan sangat diperlukan sekali agar proses belajar dapat berlangsung dengan baik.

5. Lingkungan yang tidak mendukung

Lingkungan yang tidak mendukung dapat berupa control social yang lemah dari lingkungan terhadap proses belajar anak. Misalnya, masyarakat membiarkan anak-anak bermain hingga larut malam, padahal malam hari adalah waktu yang ideal untuk belajar.

6. Kondisi fisik anak

Kondisi fisik ini dapat berupa penyakit yang diderita maupun cacat yang dialami anak. Penyakit yang diderita oleh anak dapat menjadi penyebab mengapa anak tidak belajar dirumah. Misalnya, anak yang menderita minus pada matanya akan mengalami kesulitan belajar dirumah pada malam hari dengan pencahayaan yang kurang.

7. Minat anak

Minat anak untuk belajar biasanya terjadi naik turun. Anak kadang-kadang malas melakukan belajar tanpa alasan yang jelas. Ini biasa terjadi apabila siswa tidak memahami pelajaran yang dibahas ataupun siswa tidak memahami pentingnya materi pelajaran bagi masa depannya kelak.

Kondisi-kondisi di atas tentunya harus diperhatikan oleh para orang tua. Sehingga mereka menyadari tugas dan tanggung jawabnya untuk membimbing anak mereka belajar di rumah. Penyerahan sepenuhnya tanggung jawab pendidikan kepada pihak sekolah merupakan suatu kesalahan besar. Apalagi, jika penyerahan tersebut dilandaskan kepada kondisi-kondisi di atas. Bagaimanapun, sekolah hanya memberikan bimbingan pendidikan hanya selama 6 jam saja, sedangkan 18 jam waktu siswa terluangkan di rumah dan ini merupakan tanggung jawab orang tua untuk memanfaatkan waktu tersebut untuk proses belajar anak mereka.

Maka dari itu, diperlukan beragam upaya baik dari sekolah, anak dan terutama orang tua siswa untuk menangani kemungkinan kondisi yang terjadi seperti di atas. Hemat kami sebagai penulis, ada beberapa solusi yang dapat dilakukan untuk menangani kondisi di atas, antara lain:

1. Menugaskan guru les

Penugasan guru untuk membimbing anak belajar dirumah sangat membantu sekali agar anak mempunyai pembimbing dalam proses belajar di rumah. Guru les diharapkan dapat membantu keluhan-keluhan dalam belajar dan menyelesaikan permasalahan pelajaran yang tidak dapat diselesaikan di sekolah. Jika guru les telah tersedia, maka orang tua cukup memberikan dukungan moral saja kepada anaknya. Namun penugasan guru les ini hanya dapat dilakukan oleh orang tua yang memiliki tingkat ekonomi menengah ke atas. Tariff guru les yang cukup mahal tidak terjangkau untuk orang tua dengan kemampuan ekonomi menengah ke bawah.

2. Belajar kelompok

Belajar kelompok merupakan solusi untuk menghilangkan kejenuhan anak belajar sendiri di rumah. Selain dari itu, belajar kelompok juga memberikan manfaat lain, seperti belajar bersosialisasi dan belajar mengemukakan pendapat. Dalam belajar kelompok, anak bebas bertukar pendapat antara satu dengan yang lainnya. Namun, bimbingan orang tua dapat diperlukan dalam belajar kelompok ini, agar kegiatan belajar kelompok tidak menjadi kegiatan merumpi atau kumpul-kumpul sesama teman di sekolah saja.

Diterbitkan di: 20 Oktober, 2011   
Mohon dinilai : 1 2 3 4 5
Terjemahkan Kirim Link Cetak
X

.