Pemisahan
Campuran Ilmu Kimia
Setelah mempelajari bab
ini, siswa diharapkan mampu :
· Mendeskripsikan cara-cara pemisahan
campuran
· Mempraktikkan teknik pemisahan campuran
di laboratorium dengan benar
Telah diketahui bahwa campuran merupakan materi yang
tersusun atas dua zat atau lebih yang masih mempunyai sifat yang sama dengan
zat penyusunnya. Jadi, zat-zat dalam campuran bergabung secara fisika. Oleh karena
itu, zat-zat dalam campuran dapat dipisahkan kembali secara fisika pula.
Campuran dapat dibedakan menjadi dua macam, yaitu
campuran homogeny (larutan) dan campuran heterogen. Campuran homogeny mempunyai
sifat yang sama di seluruh bagiannya. Contoh campuran homogeny adalah air gula,
air the. Sementara itu, campuran heterogen mempunyai sifat, komposisi, berat
jenis yang tidak sama di seluruh bagiannya. Contoh campuran heterogen adalah
air laut dan air sungai.
Pada bab ini akan dibahas beberapa cara pemisahan
campuran, antara lain penyaringan (filtrasi), pengkristalan, penyulingan
(distilasi), kromatografi, penyubliman, dan ekstraksi. Selain cara pemisahan
campuran, di bab ini akan dibahastentang analisis kuantitatif yang meliputi analisis gravimetric dan
analisis volumetric. Simak uraiannya berikut ini !
A. PENYARINGAN
Penyaringan atau filtrasi adalah
pemisahan campuran dengan menggunakan alat penyaring (filter). Pemisahan dengan
cara ini didasarkan pada perbedaan ukuran partikel. Penyaringan dapat dilakukan
untuk memisahkan campuran zat cair dan zat padat yang tidak saling larut.
Misalnya, pemisahan campuran air dengan pasir, pemisahan air dengankopi, pemisahan air santan denganampasnya. Penyaringan yang biasa dilakukan di
laboratorium dengan menggunakan kertas saring. Zat cair yang melewati kertas
saring atau hasil filtrasi disebut filtrate, sedangkan zat dapat yang
tertinggal dalam kertas saring atau sisa filtrasi disebut residu.
B. KRISTALISASI
Pengkristalan atau kristalisasi adalah
pemisahan zat campuran padat dari larutan dengan cara menguapkan pelarutnya.
Misalnya, pemisahan garam dapur dari air laut yang banyak digunakan oleh para
pembuat garam/petani garam. Pemisahan ini dilakukan dengan cara memasukkan air
laut ke dalam tambak-tambak yang dibuat di tepi pantai dan dibiarkan
menguapoleh sinar matahari.
Dari beberapa kali pengisian air laut ke dalam
tambak, kadar garam menjadi tinggi sehingga terbentuk Kristal garam. Namun,
kristal garam yang diperoleh masih belum bersih, sehingga perlu dilakukan
pengkristalan kembali (rekristalisasi) untuk pemurnia. Cara itu dilakukan
dengan melarutkan garam kotor ke dalam air, selanjutnya garam disaring dan
filtratnya diuapkan sehingga diperoleh garam yang bersih. Di laboratorium
pemisahan garam dari larutan garam dapat dilakukan dengan memanaskan larutan
garam dalam cawan penguap sehingga seluruh airnya menguap. Setelah itu, akan
diperoleh kristal garam yang berwarna putih.
C. DISTILASI
Distilasi adalah suatu proses pemurnian
untuk suatu senyawa cair yang didahului dengan penguapan senyawa cair dengan
cara memanaskannya, kemudian mengembunkan uap yang terbentuk dan ditampung
dalam wadah yang terpisah untuk mendapatkan distilat (senyawa zat cair murni).
Bila zat pencampurnya adalah suatu zat
padat, atau suatu zat cair yang titik didihnya tinggi, zat pencampur akan
tertinggal sebagai residu. Untuk hal tersebut, dapat dilakukan dengan proses
distilasi sederhana. Alat yang digunakan dalam proses distilasi sederhana
antara lain :
· Labu distilasi (labu dasar bulat)
· Termometer
· Pendingin (kondensor)
· Penampung (labu erlenmeyer)
· Kaki tiga dan kasa
· Pembakar
Untuk memurnikan zat cair yang zat pencampurnya
berupa zat cair yang titik didihnya rendah dan tidak berbeda jauh dengan titik
didih senyawa yang akan dimurnikan, dilakukan proses distilasi bertingkat
dengan menggunakan alat-alat yang tersusun seperti pada gambar. Zat yang akan
dimurnikan dimasukkan dalam labu distilasi yang dilengkapi dengan kolom
fraksinasi. Proses selanjutnya adalah sama halnya dengan proses distilasi
sederhana.