Cari
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Create a Shvoong account from scratch

Already a Member? Masuk!
×

Masuk

Sign in using your Facebook account

OR

Not a Member? Daftarkan diri!
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Masuk

Sign in using your Facebook account

Halaman Utama Shvoong>Ilmu Sosial>Pendidikan>Silsilah Riwayat Hidup Syekh Muhammad Abduh

Silsilah Riwayat Hidup Syekh Muhammad Abduh

oleh: priauntungselaluu     Pengarang : solahuddin
ª
 
Syeh Muhammad Abduh adalah seorang putra mesir, dan dalam riwayatlain ia tinggal di Mesir Hilir, yang jauh dari perkotaan dan sering berpindahpindahtempat (Nomaden), perbedaan pendapat tentang tempat dan tanggal lahiryang bermunculan ini dikarenakan suasana kacau pada masa itu, yang terjadi diakhir zaman kekuasaan Muhammad Ali ( tahun 1805-1849M), Kekerasan yangdipakai penguasa pada waktu itu ialah dalam pengumpulan pajak dari pendudukdesa menyebabkan para petani selalu pindah tempat untuk menghindari bebanbebanberat yang dipikul atas diri mereka, sehingga kejadian ini menimpa pulapada keluarganya, sehingga dalam masa setahun keluarga beliau pindah daritempat- ke tempat, sampai akhirnya ia menetap di Desa Mahallah Nasr, di sinilahkeluarga beliau membeli sebidang tanah dan disinilah beliau di lahirkan.1Nama lengkapnya adalah Muhammad Abduh bin Hassan Khairullah(Lahir di Desa Mahallat Nashr, Provinsi Gharbiyah, Mesir, pada 1265 H/1849 M)dan wafat pada tahun 1905. Ayahnya bernama Abduh bin Hasan Khairullah,2merupakan seorang petani dan mempunyai salasilah keturunan dengan bangsa Turki, nama Abduh diambil daripada hadis Nabi Muhammad Saw, yaitu “Abduhuwa rasuluh.3Sedangkan ibunya adalah Junaidah Uthman, perempuan yang berasal darisuku Arab yang nasabnya sampai pada Umar Ibnu Khattab, sahabat NabiMuhammad Saw.4Sebagaimana umumnya keluarga Islam, pendidikan agama pertamadidapat dari lingkungan keluarga. Adalah sang ayah, Abduh Khair Allah, yangpertama menyentuh Abduh di arena pendidikan. Ayahnya mengajarkan baca-tulis,dan menghafal Al-Quran. Khair Allah memberikan kecerdasan kepada Abduh. Initerbukti, hanya dalam tempo kurang dari tiga tahun mempelajari Al-Quran, iasudah mampu menghafal semua isinya.Setelah belajar dari ayahnya, di usia 14 tahun Abduh dikirim ke Thanta,disebuah lembaga pendidikan Masjid Al-Ahmad, milik Al-Azhar. Di sini iabelajar bahasa Arab, Al-Quran, dan fikih. Dua tahun belajar di sini, Abduh sudahmerasa bosan. Ini karena, menurut Abduh, sistem pendidikannya hanyamengandalkan hafalan, dan tidak memberi kebebasan para muridnya untukmengembangkan pikirannya. Maka, ia pun undur diri, dan pulang ke MahallatNashr.Di usia 17 tahun, tepatnya tahun 1866 M, Abduh menikah. Babak barudari kehidupan Abduh. Tapi, ayahnya tak rela bila Abduh berhenti menuntut ilmu. Maka, setelah 40 hari menikah, Abduh diminta oleh ayahnya untuk kembaliThanta, guna melanjutkan menuntut ilmu. Abduh pun tak bisa mengelak. Tapi, iataklangsung ke Thanta, ia mampir ke rumah pamannya, seorang pengikuttarekatas-Syadziliah, Syekh Darwisy Khadr. Dari Khadr pula akhirnya Abduhmenimba ilmu, terutama yang berkaitan dengan tasawuf, untuk beberapa bulan.Setelah dirasa cukup, Abduh lalu melanjutkan menimba ilmu di MasjidAl-Ahmad, tak lebih dari 3 bulan, ia sudah meninggalkan Thanta, menuju Kairo,guna menempuh pendidikannya di Al-Azhar. Di sini pun Abduh kembali kecewa,karena metode pelajarannya sama dengan yang ia dapat di Thanta. Maka, ia punmencari guru di luar Al-Azhar. Dari sinilah Abduh belajar ilmu-ilmu non agamayang tidak ia dapatkan dari Al-Azhar. Antara lain, filsafat, matematika, danlogika. Ia mendapatkan ilmu-ilmu tersebut dari Syekh Hasan at-Tawil.Dunia pengabdiannya sebagai seorang pendidik ia rintis di Al-Azhar.Gebrakan pembaruan pertamanya mengusulkan perubahan terhadap Al-Azhar. Iayakin, apabilaAl-Azhar diperbaiki, kondisi kaum muslimin akan membaik. Al-Azhar, dalam pandangan Abduh, sudah saatnya untuk berbenah. Dan karena ituperlu diperbaiki, terutama dalam masalah administrasi dan pendidikan didalamnya, termasuk perluasan kurikulum, mencakup ilmu-ilmu modern, sehinggaAl-Azhar dapat berdiri sejajar dengan universitas-universitas lain serta menjadimercusuar dan pelita bagi kaum Muslimin pada zaman modern.
Diterbitkan di: 17 Agustus, 2011   
Mohon dinilai : 1 2 3 4 5
Terjemahkan Kirim Link Cetak
X

.