Cari
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Create a Shvoong account from scratch

Already a Member? Masuk!
×

Masuk

Sign in using your Facebook account

OR

Not a Member? Daftarkan diri!
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Masuk

Sign in using your Facebook account

Pengertian Metakognisi

oleh: priasangattberuntung     Pengarang : dewimahsun
ª
 
Metakognisi merupakan suatu istilah yang diperkenalkan oleh
Flavell pada tahun 1976 dan menimbulkan banyak perdebatan pada
pendefinisiannya. Hal ini berakibat bahwa metakognisi tidak selalu sama
didalam berbagai macam bidang penelitian psikologi, dan juga tidak dapat
diterapkan pada satu bidang psikologi saja. Namun demikian, pengertian
metakognisi yang dikemukakan oleh para peneliti bidang psikologi, pada
umumnya memberikan penekanan pada kesadaran berpikir seseorang
tentang proses berpikirnya sendiri.
Wellman (1985)53 menyatakan bahwa:
Metacognition is a form of cognition, a second or higher order thinking
process which involves active control over cognitive processes. It can be simply defined as thinking about thinking or as a “person’s cognition
about cognition”
Metakognisi sebagai suatu bentuk kognisi, atau proses berpikir dua
tingkat atau lebih yang melibatkan pengendalian terhadap aktivitas kognitif.
Karena itu, metakognisi dapat dikatakan sebagai berpikir seseorang tentang
berpikirnya sendiri atau kognisi seseorang tentang kognisinya sendiri. Selain
itu, menurut Sukarnan (2005) metakognisi melibatkan pengetahuan dan
kesadaran seseorang tentang aktivitas kognitifnya sendiri atau segala sesuatu
yang berhubungan dengan aktivitas kognitifnya. Dengan demikian, aktivitas
kognitif seseorang seperti perencanaan, monitoring, dan mengevaluasi
penyelesaian suatu tugas tertentu merupakan metakognisi secara alami.55
Flavell & Brown56 menyatakan bahwa metakognisi adalah
pengetahuan (knowledge) dan regulasi (regulation) pada suatu aktivitas
kognitif seseorang dalam proses belajarnya. Sedangkan Moore (2004)57
menyatakan bahwa:
Metacognition refers to the understanding of knowledge, an
understanding that can be reflected in either effective use or overt
description of the knowledge in question. It is clear in the research data
that any definition should describe two distinct yet compensatory
competencies: 1) awareness about what it is that is known (knowledge of
cognition) and 2) how to regulate the system effectively (regulation of
cognition). The research literature reflects on overall acceptance of
“knowledge of cognition.” It includes declarative, procedural, and
conditional knowledge, and “regulation of cognition” includes planning, prediction, monitoring, testing, revising, checking, and
evaluating activities.
Metakognisi mengacu pada pemahaman seseorang tentang
pengetahuannya, sehingga pemahaman yang mendalam tentang
pengetahuannya akan mencerminkan penggunaannya yang efektif atau
uraian yang jelas tentang pengetahuan yang dipermasalahkan. Hal ini
menunjukkan bahwa pengetahuan-kognisi adalah kesadaran seseorang
tentang apa yang sesungguhnya diketahuinya dan regulasi-kognisi adalah
bagaimana seseorang mengatur aktivitas kognisifnya secara efektif. Karena
itu, pengetahuan-kognisi memuat pengetahuan deklaratif, prosedural, dan
kondisional, sedang regulasi-kognisi mencakup kegiatan perencanaan,
prediksi, monitoring (pemantauan), pengujian, perbaikan (revisi),
pengecekan (pemeriksaan), dan evaluasi.
Baker & Brown, Gagne58 mengemukakan bahwa metakognisi
memiliki dua komponen, yaitu (a) pengetahuan tentang kognisi, dan (b)
mekanisme pengendalian diri dan monitoring kognitif. Sedang Flavell59
mengemukakan bahwa metakognisi meliputi dua komponen, yaitu (a)
pengetahuan metakognisi (metacognitive knowledge), dan (b) pengalaman
atau regulasi metakognisi (metacognitive experiences or regulation). Pendapat yang serupa juga dikemukakan oleh Huitt (1997)60 bahwa terdapat
dua komponen yang termasuk dalam metakognisi, yaitu (a) apa yang kita
ketahui atau tidak ketahui, dan (b) regulasi bagaimana kita belajar.
Desoete (2001)61 menyatakan bahwa metakognisi memiliki tiga
komponen pada penyelesaian masalah matematika dalam pembelajaran,
yaitu: (a) pengetahuan metakognitif, (b) keterampilan metakognitif, dan (c)
kepercayaan metakognitif. Namun belakangan ini, perbedaan paling umum
dalam metakognisi adalah memisahkan pengetahuan metakonitif dari
keterampilan metakognitif. Pengetahuan metakognitif mengacu kepada
pengetahuan deklaratif, pengetahuan prosedural, dan pengetahuan
kondisional seseorang pada penyelesaian masalah.62 Sedangkan
keterampilan metakognitif mengacu kepada keterampilan prediksi
(prediction skills), keterampilan perencanaan (planning skills), keterampilan
monitroring (monitoring skills), dan keterampilan evaluasi (evaluation
skills).
Diterbitkan di: 12 Agustus, 2011   
Mohon dinilai : 1 2 3 4 5
Terjemahkan Kirim Link Cetak
X

.