Cari
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Create a Shvoong account from scratch

Already a Member? Masuk!
×

Masuk

Sign in using your Facebook account

OR

Not a Member? Daftarkan diri!
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Masuk

Sign in using your Facebook account

Halaman Utama Shvoong>Ilmu Sosial>Pendidikan>Pengertian metode metafora

Pengertian metode metafora

oleh: priasederhanaxxx     Pengarang : nuraini
ª
 
Menurut bahasa (etimologi) kata amtsal berupa bentuk jamak dari
lafal matsal. Sedang kata matsal, mitsil, dan matsil adalah sama dengan kata
syabah, syibih, dan syabih, baik dalam lafal maupun dalam maknanya.
Menurut bahasa, arti lafal amtsal ada tiga macam:
1. Bisa berarti perumpamaan, gambaran, atau perserupaan.
2. Bisa diartikan kisah atau cerita, jika keadaannya amat asing dan aneh.
3. Bisa juga berarti sifat, atau keadaan atau tingkah laku yang mengherankan
pula.
Contohnya seperti dalam ayat 15 surat Muhammad:
Artinya: ‘’Apakah perumpamaan (penghuni) surga yang dijanjikan
kepada orang-orang yang bertaqwa yang di dalamnya ada
sungai-sungai dari air susu yang tiada berubah rasanya,
sungai-sungai dari khamr (arak) yang lezat rasanya bagi
peminumnya dan sungai-sungai dari madu yang disaring.’’
Ayat tersebut bisa diartikan perumpamaan surga, atau gambaran,
sifat, atau keadaan surga yang sangat mengherankan. Imam Zamakhsyari dalam tafsir Al-Kasysyaf juga memberikan arti
kata matsal dengan arti perumpamaan, sifat, dan kisah, tetapi para ulama ahli
Ilmu Bayan menambahkan arti yang keempat terhadap lafal matsal, yaitu
diartikan dengan majazi murakkab.
Menurut istilah (termilnologi), para ulama memberikan beberapa
macam definisi Amtsalil Qur’an, antara lain sebagai berikut:
a. Ulama ahli ilmu adab mendefinisikan al-amtsal, sebagai berikut:
“Amtsal (perumpamaan) dalam ilmu adab ialah ucapan yang banyak
disebutkan yang telah biasa dikatakan orang yang dimaksudkan untuk
menyamakan keadaan sesuatu yang diceritakan dengan keadaan sesuatu
yang akan dituju”.
Maksudnya, amtsal itu ialah menyamakan hal yang akan
diceritakan dengan asal ceritanya (asal mula). Contohnya seperti “banyak
panahan yang tidak ada pemanahnya. Maksudnya, banyak musibah yang
terjadi dari orang yang salah langkah. Orang pertama yang menceritakan
ungkapan tadi ialah Al-Hakim bin Yaghuts, yang menggambarkan bahwa
orang yang salah itu kadang-kadang menderita musibah. Karena itu, maka
haruslah ada persamaan antara arti yang diserupakan itu dengan asal
ungkapan ini sebagai asal ceritanya, yakni bahwa banyak kejadian atau
musibah yang terjadi tanpa sengaja.
b. Istilah ulama ahli ilmu bayan mendefinisikan al-amtsal, sebagai berikut:
“Perumpamaan ialah bentuk majaz murakkab yang kaitannya/konteksnya
ialah persamaan”. Maksudnya, amtsal ialah ungkapan majaz atau kiasan yang
majmuk, di mana kaitan antara yang disamakan dengan asalnya adalah
karena adanya persamaan atau keserupaan.
c. Para ulama yang lain memberikan definisi matsal ialah mengungkapkan
suatu makna abstrak yang dapat dipersonifikasikan dengan bentuk yang
elok dan indah.
Maksudnya, matsal itu ialah menyerupakan hal-hal yang
abstrak disamakan dengan hal-hal yang konkret. Contohnya seperti: Ilmu
itu seperti cahaya.
Dalam perumpamaan ini, ilmu yang abstrak itu disamakan dengan
cahaya yang konkret, yang bisa diindera oleh mata. Perumpamaan dalam
bentuk ini, tidak disyaratkan harus adanya asal cerita.
d. Ulama ahli tafsir mendefiniskan amtsal, sebagai berikut:
“Matsal ialah menampakkan pengertian yang abstrak dalam ungkapan
yang indah, singkat dan menarik yang mengena di dalam jiwa, baik
dengan bentuk tasbih, ataupun majaz mursal (ungkapan bebas).”
Ta’rif amtsal yang didefinisikan ulama ahli tafsir ini relevan
dengan yang terdapat dalam Al-qur’an.
Contoh matsal dalam bentuk tasybih dhimni (perumpamaan yang
terselubung), ialah seperti dalam ayat 12 surat Al-Hujurat: Artinya: “Dan janganlah sebagian kalian menggunjing sebagian yang
lain, sukakah salah seorang diantara kalian memakan daging
saudaranya yang sudah mati ? maka tentulah kalian merasa jijik
kepadanya”.
M. Rosyid Ridho dalam “Al-Manar” menyatakan bahwa yang
dimaksud dengan “al-amtsal” adalah perumpamaan baik berupa ungkapan,
gerak, maupun melalui gambar-gambar. Sebaliknya, dalam konteks
pendidikan islam, metode metafora lebih mengarah pada perumpamaan dalam
segi ungkapan belaka.
Dalam menerangkan nasehat-nasehat yang hendak disampaikan, Nabi
membuat perumpamaan sesuatu yang dapat disaksikan oleh manusia, berada
di bawah kesadaran indra manusia dan dalam rengkuhan tangan-tangan
mereka agar nasehat beliau lebih mengena dalam lubuk batin telaga jiwa dan
lebih mengakar dalam pikiran.
Metode metafora yang tujuannya adalah dalam tafsir al-manar, Sayyid
Rasyid Ridho mananggapi ayat “ perumpamaan mereka adalah seperti orang
yang menyalakan api …” (Al-Baqarah : 17) dengan mengatakan “al-matsal,
al-mitsil, dan al-matsil serupa dengan asy-syabah, asy-syibih dan asy-syabih
dalam hal metrum dan maknanya dalam kalimat. Al-matsal diambil dari ungkapan matsula asyai matsulan artinya jika sesuatu itu berdiri dengan jelas
maka sesuatu itu disebut matsil.
Kadang-kadang ada juga ungkapan tamsilus syai artinya “ Penyipatan
dan penyingkapan hakikat sesuatu melalui metafora atau makna majasi
melalui penyerupaan”.
Pemikiran Rasyid Ridho diakhiri dengan pandangan berikut ini:”Jika
tujuan pemberian contoh itu untuk memberikan pengaruh, maka balaghoh atau
kefasihan bicara menuntut pemberian contoh pada sesuatu yang hendak
dihinakan atau dijauhkan dari manusia, melalui percontohan dengan kondisi
perkara yang biasanya dihinakan dan biasanya manusia pun menjauhi perkara
tersebut“.
Dengan demikian, diserupakanlah sesuatu yang hendak dihinakan
dengan perkara-perkara yang sudah dimaklumi kehinaan, seperti penyerupaan
sembahan-sembahan dan penolong-penolong kaum musyrikin dengan sarang
laba-laba,
Diterbitkan di: 11 Agustus, 2011   
Mohon dinilai : 1 2 3 4 5
  1. Menjawab   Pertanyaan  :    apa hubungannya amtsal, dengan qashashul qur'an.??? Lihat semua
Terjemahkan Kirim Link Cetak
X

.