Cari
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Create a Shvoong account from scratch

Already a Member? Masuk!
×

Masuk

Sign in using your Facebook account

OR

Not a Member? Daftarkan diri!
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Masuk

Sign in using your Facebook account

Halaman Utama Shvoong>Ilmu Sosial>Pendidikan>Konsep Pendidikan Integratif

Konsep Pendidikan Integratif

oleh: priasangatsangatberuntung     Pengarang : novian
ª
 
Banyak hal yang dibicarakan, termasuk tentang konsep pendidikanIslam yang integratif. Namun dari bacaan dan diskusi dengan beberapa teman,paling tidak dapat menarik sebuah benang merah tentang hal itu.Pertama, integratif dimaksud adalah memadukan ilmu agama dan umumdalam kurikulum yang dilaksanakan di sekolah. Model ini persis sama denganyang diterapkan Departemen Agama dulu, sekarang dan mungkin sampai esokdi semua sekolah dari tingkat SD/MI.Kedua, integratif yang kami tangkap adalah model yang dipopulerkan padamasa BJ Habibie berkuasa. Yaitu memadukan Ilmu Pengetahuan danTeknologi (imtek) dan Imtak (Iman dan Takwa). Realisasinya, memberikan nilai Agama Islam berdasarkan Al-Qur’andan Hadist pada setiap ilmu atau mata pelajaan yang diberikan kepada pesertadidik.Misalnya, mata pelajaran ilmu pendidikan sosial (sejarah). Untukmembantah dan mematahkan teori Darwin, guru tidak cukup hanyamengatakan, manusia berasal dari Nabi Adam dan adanya missing link. Tetapiharus mampu menjelaskan berdasarkan Al-Qur’an dan Hadist.Sejak dulu bahkan hingga kini, manusia purba yang diajarkan pendidikkhususnya guru sejarah adalah bukan manusia yang dikatakan dalam Al-Qur’an. Manusia purba dimaksud adalah manusia ‘setengah manusia’ yangbukan keturunan Nabi Adam. Ini, satu contoh yang cukup menggelitik.Ketiga, integratif yang ditawarkan yaitu integrasi antara yayasan danorangtua/wali murid. Ini hal baru yang kami terima dan dengar, yaitubagaimana sekolah/yayasan dalam mendidik anak juga melibatkanorangtua/wali murid.Hal ini jarang kita jumpai. Mungkin ini berangkat dari pemahamanyang keliru oleh masyarakat, bahwa pendidikan adalah tanggung jawabguru/sekolah/yayasan saja. Padahal, orangtua dan masyarakat juga harusbertanggung jawab (lihat UU Sisdiknas).Misalnya, pada kurikulum SD yaitu pelajaran membaca Al-Qur’an(Iqra’) dan shalat. Pembelajaran di sekolah tidak akan pernah berhasil, jikaorangtua/wali murid tidak mencontohkan di rumah. Karena itu, guru mengajar dan melatih orangtua/wali murid yang tidakbisa membaca Al-Qur’an dan sholat. Dengan demikian, kurikulum yangdisajikan akan mampu mencapai tujuan karena bantuan orangtua/wali muriddan masyarakat.Intinya orangtua/wali murid dan masyarakat, hendaknya memberikancontoh yang baik sesuai tuntunan Al-Qur’an dan Hadist dalam kehidupansehari-hari. Harapannya, peserta didik nantinya memiliki kecerdasanintelektual yang terbukti dengan prestasi akademik nasional dan internasional,emosional dan spiritual.Model integratif ini ternyata mengalami banyak kendala. 1) Sulitmerancang kurikulum yang guru dan muridnya sangat heterogen khususnyaagama. 2) Sekalipun muslim namun ia pun banyak memiliki kekuranganpengetahuan Islam (agama) termasuk membaca Al-Qur’an. 3) Waktu yangtersedia tidak mencukupi. Jangankan menambah Imtak dalam setiap mengajardi bidang tertentu, pelajaran yang tanpa tambahan pun kadang tidakmencukupi
Diterbitkan di: 30 Juli, 2011   
Mohon dinilai : 1 2 3 4 5
Terjemahkan Kirim Link Cetak
X

.