Cari
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Create a Shvoong account from scratch

Already a Member? Masuk!
×

Masuk

Sign in using your Facebook account

OR

Not a Member? Daftarkan diri!
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Masuk

Sign in using your Facebook account

Halaman Utama Shvoong>Ilmu Sosial>Pendidikan>Landasan Pembelajaran Terpadu

Landasan Pembelajaran Terpadu

oleh: kuliitintaa     Pengarang : uswatun
ª
 
Beberapa landasan yang mendasari dikembangkannya pembelajaranterpadu antara lain yaitu; aliran Progresvisisme, Kontruktivisme, DevelopmentallyApproptiate Practice (DAP), landasan normatif dan landasan praktis.Aliran Progresivisme berkembang pada permulaan adad ke-20 terutamadi Amerika Serikat. Progresivisme lahir sebagai pembaharuan dalam duniapendidikan, yang pada saat itu progresivisme menentang kebijakan-kebijakandalam dunia pendidikan yang bersifat konvesional yang merupakan warisan daritradisi abad ke-19.Aliran filsafat progresivisme ini sangat berpengaruh dalamperkembangan pendidikan saat ini. Progresivisme mempunyai pandangan hidupyang liberal, maksudnya pandangan hidup yang mempunyai sifat-sifat fleksibel(tidak menolak perubahan, tidak terikat oleh suatu doktrin tertentu, inginmengetahui, ingin menyelidiki dan mempunyai hati terbuka. Menurutprogresivisme tugas pendidikan adalah meneliti sejelas-jelasnya kesanggupankesanggupanmanusia yang meliputi kesanggupan mengendalikan hubungandengan alam, kesanggupan meresapi rahasia-rahasia alam, dan kesanggupan menguasai alam dan menguji kesanggupan-kesanggupan itu dalam pekerjaanpraktis.Menurut progresivisme, kurikulum tidak bersifat statis, namun kurikulumharuslah bersifat dinamis. Aliran ini menghendaki isi kurikulum yang bervariasi.Adapun tipe-tipe kurikulum progresivisme antara lain: Reorganisasi di dalamsuatu subjek khusus sebagai langkah pertama mencari pola dan desain yang baru,adanya hubungan dua atau lebih subject matter, pengelompokan dan hubunganintegratif dalam satu bidang pengetahuan, core curriculum, mengutamakan padapengalaman dengan cara menekankan unit-unit tertentu.Proses pembelajaran menurut aliran progresivisme seharusnya dilakukansecara alami, dengan mengaitkan dunia nyata peserta didik yang bertujuanmenjadikan pembelajaran lebih bermakna. Aliran progresivisme tidakmenghendaki adanya mata pelajaran yang diberikan secara terpisah, melainkanmata pelajaran harus diberikan secara terintegrasi dalam unit. Fleksibilitas dalampelaksanaan pembelajaran sangat diperlukan demi terwujudnya pembelajaranyang bermakna. Asas belajar menurut progresivisme diantaranya yaitu: Pertama,anak dan lingkungan merupakan dua aspek yang saling berhubungan dalamkelangsungan proses belajar, anak merupakan bagian integral dari lingkungan.Anak dalam lingkungan selalu mengalami perubahan dan perkembangan, iaberbeda dengan makhluk- makhluk alamiah yang lainnya, hal ini disebabkankarena anak mempunyai kemampuan intelegensi yang dapat digunakan dalammemecahkan persoalan kehidupan mereka. Kedua, Living as learning( kehidupan yang riel sebagai proses belajar). Proses belajar tidak hanya dapat berlangsung didalam lembaga formal atau sekolah, namun proses belajar dapat terjadi disemuatempat dan setiap kesempatan. Belajar tidak dapat dipisahkan dari kehidupanrealita dan realita kebudayaan. Kontruktivisme yang merupakan landasan kedua dikembangkannyapembelajaran terpadu. Pelopor aliran ini diawali oleh seorang epistimologi Italiayaitu Giambatista Vico. Ia berpendapat bahwa alam semesta ini adalah ciptaantuhan, dan manusia adalah tuan dari ciptaanNya. Hanya tuhanlah yang mahamengetahui segala sesuatu, manusia hanya mengetahui segala sesuatu yangdihasilkan oleh konstruksi tuhan. Aliran ini kemudian dikembangkan oleh JeanPiaget dengan teorinya perkembangan kognitif. Menurut Piaget, pengetahuanmerupakan hasil dari interaksi yang secara kontinyu antara satu individu denganlingkungan yang ada. Perkembangan kognitif menurutnya dipengaruhi oleh tigaproses dasar, yaitu asimilasi, akomodasi dan ekuilibrasi. Asimilasi adalahperpaduan antara pengalaman baru dengan pengalaman yang telah dimilikisebelumnya. Akomodasi adalah penyesuaian struktur kognitif terhadap situasibaru, dan ekuilibrasi adalah penyesuaian kembali secara kontinyu antara asimolasidan akomodasi. Konstruktivisme berpendapat bahwa, pengetahuan kita adalahkontruksi (bentukan) kita sendiri. Pengetahuan bukanlah suatau tiruan darikenyataan dengan ada, pengetahuan selalu merupakan akibat dari suatu kontruksikognitif kenyataan melalui kegiatan seseorang. Menurut kaum kontruktivis,belajar merupakan proses aktif peserta didik mengkonstruksi arti entah teks, dialog, pengalaman fisis dan lain-lain. Belajar juga merupakan prosesmengasimilasikan dan menghubungkan pengalaman atau bahan yang dipelajaridengan pengertian yang sudah dimiliki seseorang sehingga pengetahuan menjadiberkembang. Landasan kontruktivisme ini memposisikan peserta didik dalampembelajaran sebagai subjek pembelajaran, peserta didik dituntut untuk aktifmengikuti proses pembelajaran. Peserta didik mencari arti sendiri dari yangmereka pelajari, membuat penalaran atas apa yang dipelajari dengan mencarimakna, membandingkan dengan apa yang telah diketahui serta menyelesaikanmasalah antara apa yang telah diketahui dengan apa yang mereka perlukan dalampengalaman yang baru. Peran guru dalam proses pembelajaran menurut aliran kontruktivismesebagai mediator dan fasilitator yang membantu agar proses belajar muridberlangsung sesuai dengan tujuan. Adapun fungsi mediator dan fasilitator seorangguru adalah menyediakan pengalaman belajar yang memungkinkan muridbertanggung jawab dalam membuat rancangan, proses, dan penelitian, sehinggametode cerama bukanlah salah satu metode yang harus selalu diterapkan dalamproses pembelajaran. Selain itu fungsi mediator dan fasilitator dari seorang gurudalam proses pembelajaran yaitu menyediakan atau memberikan kegiatankegiatanyang merangsang peserta didik untuk mengikuti proses pembelajaran. Konsep Developmentally Appropriate Practices mulai digagas berkaitandengan banyaknya kurikulum yang dikembangkan di sekolah-sekolah Amerikapada tahun 1960-an sampai akhir 1970-an dikembangkan tidak berdasarkan perkembangan anak didik, dan kurikulum pada saat itu dianggap gagal dalammewujudkan peserta didik ya ng berkualitas yang mampu menghadapi berbagaitangtangan hidup. Developmentally Appropriate Practice, berpendapat bahwapembelajaran harus disesuaikan dengan perkembangan usia individu yangmeliputi perkembangan kognisi, emosi, minat, dan bakat peserta didik. Jadi padadasarnya pembelajaran dilaksanakan berdasarkan perkembangan kognitif pesertadidik. Tokoh dari teori perkembangan kognotif ini adalah Jean Piaget. MenurutJean Piaget, kebutuhan pokok pendidikan adalah memperkenalkan peserta didikkepada kegiatan yang bersifat eksperimen. Peserta didik tidak hanya butuh sebuahteori, namun aplikasi dan eksperimen merupakan hal yang terpenting dalamproses pembelajaran. Piaget dalam proses pembelajaran menyarankan seoranguntuk menggunakan metode aktif yang menghendaki siswa menemukan sendiriatau mengkonstruksi kebenaran-kebenaran yang harus dipelajari. Posisi gurudalam proses pembelajaran sebagai fasilitator yang senantiasa memberikanmasukan-masukan kepada peserta didik sehingga tercipta situasi pembelajaranyang bermakna. Peserta didik dalam mengikuti pembelajaran diharuskan salingberkolaborasi antara siswa yang satu dengan yang lainnya dalam memecahkanmasalah.
Diterbitkan di: 17 Juli, 2011   
Mohon dinilai : 1 2 3 4 5
  1. Menjawab   Pertanyaan  :    apakah landasan pembelajaran terpadu tidak bisa diperincikan lagi berdasarkan mata pelajaran Lihat semua
Terjemahkan Kirim Link Cetak
X

.